Setelah mengantarkan gadis itu kembali ke rumahnya, aku langsung menuju kediaman Mama mertua untuk menjemput Putra. Tak lupa kubeli sedikit oleh-oleh untuk keduanya.
"Lah, kok sore amat, Jo?" mata Mama menelisik.
"Lembur, Ma, biar besok bisa libur tenang, ngajak anak-anak main," baru kali ini aku berani berbohong pada mertuaku.
"Yo kerja jangan diforsir toh, tubuh juga butuh istirahat, kalau sakit kan repot semuanya, Jo," mertuaku memang selalu perhatian, baik tak pernah membedakan kasih sayang diantara aku dan Tita, bahkan Tita kerap berujar kalau mereka lebih menyayangiku ketimbang dirinya.
"Iya, Ma, makanya besok saya dan Tita rencananya mau liburan ke puncak."
"Pasti Tita yang maksa kamu?"
"Bukan, Ma, saya yang ngajak,"
"Nanti mama panggil Putra dulu, tadi lagi belajar catur sama eyangnya,"
Mertuaku langsung masuk ke dalam rumah sambil menenteng bungkusan yang kubawa, sedangkan aku menunggu di teras.
"Masuk Jo, mama buatin kopi," suara Mama mertua terdengar dari arah dapur.
Aku manut, langsung masuk ke dalam rumah.
Tak berapa lama Kopi panas terhidang, aku mengucapkan terima kasih, meneguk kopi buatan mama mertua memang bisa meredakan otot yang tegang setelah tadi ngubekin mall mengantarkan Renata berputar mengitari seisi mall.
Ah, wajah polos gadis itu melintas, seolah tersenyum menatapku.
"Abang, kopinya abisin ya," seperti ada suara Renata terdengar di telingaku.
Aku mengangguk.
"Hm, Jo, kok senyum sendiri?"
Suara papa mertua membuyarkan lamunanku tentang Renata.
"Eh Papa, maaf pak!"gagapku, rautku menegang, bagaimana tidak, aku melamunkan selingkuhan dan kepergok Papa mertua.
Ambyar!
"Bilang Tita, Putra gak usah ikut banyak les, dia gak suka katanya.
"Iya Pa,"
Mama mertuaku datang.
"Jangan paksa anak ngikutin yang kalian mau, gak bagus, Jo, biarkan saja mereka memilih hobi, pelajaran apa yang mereka suka, jangan ditekan, bahaya loh," ucap Mama.
"Iya, Ma, nanti saya sampaikan pada Tita,"
"Tita memang keras kepala, susah bicara sama dia, ngeyelan orangnya,"
"Iya, kayak mamanya," tukas papa mertuaku lalu terkekeh.
"Lah mama sih emang cerewet, tapi yo urus anak semuanya dengan baik, jaga mereka, lah ini si Tita, hobinya main ponsel terus, jalan sana sini, rumah tidak terurus, anak-anak diabaikan, istri macam apa itu? Untung saja suaminya kamu, Jo, kalau yang lain, mungkin si Tita sudah ditalak sekeranjang," gerutu Mama kesal.
"Yo wiss, Ayo Cah ganteng, itu papa udah jemput,"" Papa mertuaku menyela cepat mungkin agar Mama menghentikan omelannya pada Tita.
Tangan Mama mertua menggandeng Putra menuju ke arahku.
Aku mencium kening putra kesayanganku. Lalu kami berpamitan.
Putra, si Sulung yang tak dirindukan, Tita melahirkannya secara tak sengaja, karena saat itu dia keukeh tak mau punya anak, maklum dia tengah sibuk dengan kariernya sebagai model.
Dan Putra, lahir dalam keadaan tak sempurna, baru tujuh bulan dalam kandungan dia terpaksa di operasi caesar, karena kondisinya yang labil, Tita mengaku pernah mengaborsinya. Namun janin malang itu bertahan walaupun ujungnya dia harus lahir dalam keadaan yang prematur.
Sepertinya Putra enggan sekali pulang, mungkin dia tak mau berada di rumah kami karena Tita selalu menganggapnya sebagai anak pembawa sial, anak bego, dan perkataan lain yang kadang membuat aku harus menahan diri untuk tidak emosi padanya.
Sungguh bocah tampan yang malang.
Sampai saat ini, aku lebih percaya pada Mama mertuaku dalan merawatnya.
[Bang, udah jemput si Aa?] Gadis itu mengirimkan pesan.
[Udah]
[Salam ya buat dia, dari calon mamanya]
Emot ngakak terselip di pesan itu.
Aku mesem.
Ni anak iseng luar biasa.
[Salam juga buat mamanya anak-anak, dari calon mamanya anak-anak juga]
Lagi-lagi dia megirimkan emoticon ngakak hingga berderai air mata, malah kini ditambah dengan emot meleletkan lidah.
Haish!
Iseng banget kan dia? Renata memang seperti itu, kadang aku jadi geli sendiri dibuatnya.
Pernah suatu ketika dia tertawa saat aku memanggil Tita dengan sebutan mamanya anak-anak.
"Aku mau suatu saat abang manggil aku juga mamanya anak-anak," ujarnya saat itu
Hm, jauh amat pikiran ni bocah.
Ah, Ren, semoga saja hubungan terlarang kita bertahan lama.
[Abang, jangan lupa transfer ya, aku mau bayar SPP]
[Iya, bawel]
[Love you abangku]
Dasar!
Aku mengemudikan mobil perlahan, Putra menatapku, mungkin hatinya bertanya siapa yang membuat papanya tersenyum sendiri saat membaca pesan.
Aku mengusap kepalanya.
Renata sering meminta sesuatu padaku, tapi aku tak merasa dia memeras apalagi merampok isi ATM-ku, toh belanjaan dia hanya sekedar barang-barang dengan harga standar yang layak dimiliki oleh remaja kota besar seperti Jakarta ini.
"Aku belum pernah beli baju harganya segini," Renata menunjukkan banderol baju yang dibelinya padaku.
Tertera di sana tiga ratus enam puluh lima ribu rupiah.
Jujur sekali dia, padahal harga segitu sih bukan pakaian kalau untuk Tita, itu harga daleman istriku yang pasti tiap bulan dia beli. Sedikit banyak, Renata mengajarkanku betapa berartinya uang bagi mereka, padahal bagi kami uang sebesar itu kadang digunakan untuk hal-hal yang tidak penting, bahkan kadang biaya satu kali makan kami di restoran pun setara dengan biaya hidup Renata selama satu bulan.
Makanya Renata tak pernah mau jika kuajak makan di tempat malah, katanya itu mubadzir.
Tapi ada satu hal yang membuatku salut, Renata tak pernah berhenti berbagi dengan orang lain di tengah keterbatasan ekonominya, di sela waktu dia pun mengajarkan baca tulis untuk anak-anak pengemis yang tinggal tak jauh dari tempat tinggalnya.
Setiap kami, makan, atau belanja dia selalu membeli sesuatu untuk bisa dibagikan dengan anak-anak kurang beruntung itu.
Dia bagiku bukan hanya sekedar selingkuhan atau pun sugar baby, tapi Renata kadang jadi pengingat betapa tidak bersyukurnya kami dengan rejeki ini.
[Semoga abang sehat selalu, agar aku bisa tetap minta jajan]
Pesan terakhir gadis itu membuatku tertawa sendiri.
[Udah dulu ya, sebentar abang lagi nyampe rumah nih, jangan balas]
Kukirimkan pesan itu cepat, sebelum dia mengetik yang lebih gila lagi.
? ??
Pagi itu, aku meminta ART untuk membuatkanku secangkir kopi, harusnya itu tugas Tita sebenarnya, tapi berharap dia membuatkanku kopi di pagi hari ibarat memimpikan hujan di tengah panas terik matahari, hal yang tidak mustahil tapi akan sulit jadi kenyataan.
"Nih hape kamu, tuh si Sapri kirim gambar bunga."
Hah! Pasti dia.
Ya Tuhan, benar saja, Renata! Padahal Aku sudah wanti-wanti agar dia tak menge-chat saat aku ada di rumah.
"Iseng amat tuh anak!" jawabku cuek.
Kusambar hape dari tangan Tita. Sedikit khawatir dia ngomong macem-macem.
Aku sigap menyentuh layar ponsel, membuka pesan darinya, benar saja ada dua gambar bunga dan satu gambar secangkir kopi yang dikirim gadis itu pagi ini.
Syukur hanya gambar bunga dan kopi doang, ngeri aja dia kirim foto kami saat adegan kissing, Renata sering iseng ngambil gambar saat kami tengah berduaan.
Hm, Bisa hancur duniaku saat ini.
Benar-benar nyari masalah ni anak. Aku menghapus pesan itu, mencoba bersikap santai, seolah pesan itu dari orang biasa.
Kebetulan, kontak Renata kunamai Sapri, agar Tita tak curiga.
..
..
"Pa, Sapri itu siapa sih? Kok kalau pagi dia ngirim gambar kopi pake ditambah bunga mawar lagi sama kamu?"
Pagi itu Tita memberondongku dengan pertanyaan.
"Sapri? Oh, dia OB di kantor aku, Ma,"
"Hebat banget, Bos punya nomor ponsel OB-nya," Tita tersenyum sinis.
"Ya harus, Sapri itu kopinya enak. Di kantor semua suka dibikinin kopi sama dia,"
"Hm, yakin kopi doang?” Tita melengos sinis.
"Bukan Cuma itu sih, semua karyawan kayaknya suka cara kerjanya si Sapri, rapi, dan orangnya tepat waktu, punya disiplin tinggi,"
"Oh! Hebat si Sapri bisa konsisten gitu."
"Iya."
"Hem, tapi gak usahlah kamu dekat-dekat sama dia, bisa nirunin harga diri tau! Masa sih bos akrab sama OB begitu, gak level kali," Tita bergidik, seolah jijik pada Sapri.
"Jangan begitu, Ma, biar gimana pun Sapri itu manusia juga, hanya nasibnya saja yang berbeda,"
"Iya, tapi gak enak juga dengernya, duh mana namanya Sapri lagi, gak ada apa nama yang agak keren dikit," Tita mencebik.
"Udah ah, lagian gak penting juga bahas Sapri di rumah,"
"Tapi aneh juga sih ada OB sering nge-chat atasannya," Tita masih ngeyel, benar kata mama mertuaku.
"Anggap aja angin lalu, tandanya dia perhatian sama aku, biasalah,"
"Cari muka tuh si Sapri,"
"Ya udah ah, kok jadi bahas OB sih, lagian Sapri itu kan melambai orangnya, jadi ya gitu deh,"
"Melambai? Maksudnya Ban...!" Tita melotot.
"Sttt!" kuletakan jari telunjuk di bibir.
"Oh, pantas pesannya aneh-aneh, Pa,"
Aku mengangguk.
"Jangan heran kalau dia nge-chat macem-macem."
Tita mengangguk, lalu bergidik memelukku.
"Jangan diladenin ya, Pa, ngeri,"
"Ya enggak lah, aku butuh kopi dan hasil kerjanya aja."
Tita mengeratkan pelukannya.
Mungkin dia membayangkan, seorang banci tengah menggoda suaminya yang ganteng ini.
Aku tersenyum.
Aman!
Sapri, aku kangen!