Bab 14

1638 Words
Saat jam pulang kegiatan ini, hari sudah menjelang malam, Jihan yang masih bersama Rara kini sengaja menemani temannya itu yang terlihat belum ada yang menjemputnya. “Kamu belum dijemput ‘kan, Ra?” tanyanya sambil menoleh menghadap Rara. “Iya, belum. Duh! Mana hapeku mau abis lagi baterainya,” keluh Rara yang kini jadi panik dengan kondisi ponselnya itu. Tak berapa lama, ponselnya pun benar-benar kehabisan daya. “Nah, ‘kan bener. Tewas dia,” ucap wanita ini dengan lemas. Jihan tertawa melihat reaksi Rara ini. Bukan karena dia menertawakan nasib buruk temannya ini, hanya saja dia merasa geli dengan ekspresi wajah Rara yang terlihat panik. Merasa kasihan dengan nasib Rara, Jihan yang memang ingin membalas kebaikan Rara di hari pertamanya kenal itu, kini mulai menawarkan balasannya. “Ya udah, sini pake hapeku aja,” ucap Jihan sambil mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada Rara, supaya temannya itu dapat menghubungi orang yang hendak menjemputnya. Namun, sayangnya, Rara tidak ingat bahkan tak hafal nomor Rey yang hendak menjemputnya itu. “Mmm … kayaknya percuma deh, Ji. Aku aja nggak apal nomer dia.” Rara memasang wajah melas, merasa bahwa kali ini memang dirinya sedang tak beruntung. Bagaimana mungkin dia mendapatkan kesialan beberapa kali di hari pertamanya sebagai mahasiswa? Hal ini tentu membuatnya merasa kian lemas dan merasa kehilangan keberuntungan. “Oh, gitu.” Jihan menanggapi hal ini dengan santai, lalu tak lama ia menawarkan diri untuk mengantarkan Rara pulang ke tempat tinggalnya. “Kalau gitu, ikut mobilku aja. Aku anter sampe tempatmu. Gimana?” ajak wanita ini dengan sikap ramahnya. Rara terdiam memikirkan ajakan ini. Ia merasa bahwa sebaiknya tawaran dari Jihan ini tidak ditolaknya melihat hari kian gelap dan Rey belum juga datang menjemputnya. ‘Apa aku ikut Jihan aja ya? Lagian, nanti di rumah ‘kan aku bisa kasih kabar ke dia. Sambil ngecas hape,’ ucapnya dalam hati. Namun di sisi lain, hatinya pun juga berkata, ‘Nggak usah ah! Ngerepotin orang tau!’ ucapnya merutuki dirinya sendiri. Merasa dari tadi Rara hanya diam dengan tatapan mata kosong, sambil menggerakan kepalanya ke kanan kiri seperti sedang berpikir, Jihan pun berusaha menegurnya. “Woy! Ra! Malah diem aja. Ayo, buruan kalau mau ikut aku,” ajak wanita ini sambil meraih tangan Rara. “Eh, nggak usah deh, Ji. Nanti ngerepotin. Lagian emang searah? Kalau nggak gimana?” Rara jadi tak enak sendiri membayangkannya. “Udah, tenang aja. Pokoknya ikut aku aja,” ucap Jihan yang masih memaksa Rara. Ia pun terus menarik tangan Rara, dan membawa temannya ini ke dalam mobilnya. Kemudian wanita ini segera membawa Rara untuk menemani dirinya terlebih dahulu. “Kita makan dulu aja ya?” Rara memandang ke arah temannya itu. Ia merasa tak punya uang jika harus makan di luar dulu seperti apa yang barusan Jihan katakan padanya. Rara pun berusaha mencari alasan untuk menolak ajakan tersebut. “Eh, Ji? Nggak usah deh. Langsung pulang aja gimana? Soalnya ini ‘kan udah malem,” ucap Rara dengan menampilkan wajah melasnya lagi. “Ih, aku laper, Ra. Tenang aja, aku bakal anter kamu sampe rumah. Kalau perlu sampe dalem kamarmu deh, hehe … Udah. Pokoknya ikut aja. Aku traktir karena kamu udah nolongin aku tadi di kampus,” ucap Jihan menjelaskan maksudnya. Mendengar penjelasan Jihan ini, membuat Rara sedikit lega. Setidaknya kali ini ia tak perlu mengeluarkan uang. Ia yang juga merasa kelaparan, akhirnya menyetujui ajakan temannya itu. “Ya udah deh, kalau kamu maksa,” kata Rara dengan basa basinya yang basi banget. *** Rey datang setelah beberapa menit Rara pergi dengan Jihan. Ia memarkirkan mobilnya, dan menunggu wanita itu di parkiran depan gedung. Namun, lama ia menunggu, tempat ini kian sepi dan Rara pun tak kunjung menampakan dirinya. Hal ini membuat Rey jadi cemas sendiri. “Ke mana sih, nih, bocah? Di telepon juga nggak bisa. Dia bilang katanya mau ngabarin, tapi nggak kasih kabar juga. Ini aku udah dateng, malah nggak bisa dihubungi. Maunya apa sebenarnya? Dia mau nginep sini apa gimana sih?” oceh pria ini yang terus saja mengomel. Pria ini sampai harus turun dari mobil dan ia pun bertanya pada penjaga bahkan sampai ke dalam kampus memasuki gedung-gedung yang terlihat masih ada aktivitas, untuk mencari Rara. Tapi sayangnya wanita itu tak juga terlihat batang hidungnya. “Rara ke mana sih? Apa jangan-jangan ….” Rey terdiam sejenak. Pikirannya yang panik, kini jadi memikirkan hal-hal buruk yang bisa menimpa Rara. “Nggak, nggak. Nggak mungkin dia diculik,” gumamnya menolak apa yang ada di pikirannya itu. “Apa mungkin … dia udah pulang sampe rumah?” tanyanya lagi pada dirinya sendiri. Rey terlihat seperti orang gila yang dari tadi mondar mandir tak jelas dengan perasaan khawatir dan panik. Bahkan keringatnya pun sudah bercucuran karena berlari dari satu gedung ke gedung lainnya, selama mencari Rara. Tapi tetap saja dia tak menemukan wanita itu. Bahkan ia sudah tak melihat mahasiswa baru yang mengenakan kemeja putih dan bawahan hitamnya. Hal ini kian membuat Rey menjadi lemas dibuatnya. “Hais! RAAA! DI MANA KAMU RAAA!” teriak Rey saat berdiri di parkiran dekat mobilnya. Pria ini merasa frustasi dan berusaha membuang perasaan khawatirnya. Hanya saja, ternyata perasaan was-was itu masih ada meski dirinya sudah mencoba berteriak untuk melegakan diri. ‘Gawat kalau Mami tahu Rara hilang. Kalau mau lapor polisi juga, harus nunggu dan nggak segampang itu langsung dicari ‘kan?’ ucapnya dalam hati. Rey berusaha berpikir di mana Rara berada. Ia masih menunggu sejenak di parkiran ini dan berharap Rara muncul menampakan dirinya. Dia duduk di lantai parkiran yang beralaskan aspal itu, dan menyandarkan diri di ban mobilnya. Namun, sudah hampir dua jam dia menunggu, wanita itu tak juga muncul di hadapannya. Sungguh, kali ini Rey benar-benar merasa ketakutan. Ia merasa bersalah pada Rara, ibunya, bahkan orang tua Rara yang belum ia kenal, yang menitipkan anaknya itu kepada keluarganya. “Ra … aku harus gimana biar kamu ketemu?’ ucapnya pelan, sambil memeluk tubuhnya sendiri dalam posisi duduk. Beberapa kali Rey terdengar sedang menghembuskan nafasnya. Ia berusaha menenangkan diri namun perasaannya masih saja tak enak. Menyerah dengan keadaan kali ini. Rey akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Dia berharap, Rara akan kembali ke rumah itu, dan tidak hilang seperti apa yang sudah ditakutkan olehnya. *** Rara masih bersama dengan temannya yang kini sedang asyik shopping di Mall. Jihan temannya yang memang anak orang kaya itu, tidak dapat menahan diri untuk tidak berbelanja saat sudah memasuki tempat seperti ini. Tentu saja di sini Rara tidak menikmati kegiatan berbelanja ini. Selain tidak punya uang, ia juga merasa cemas karena belum sampai rumah, padahal jam sudah kian malam. Rara beberapa kali memandang ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya itu. Sudah tiga jam lebih dari dia mulai pulang kuliah, sampai saat ini, dan mereka belum juga mengakhiri perjalanan tersebut. Bahkan Mall ini pun sudah mengumumkan akan segera tutup jam operasionalnya. Hal ini sungguh membuat Rara tak tenang, karena dirinya belum memberikan kabar apapun pada Rey. ‘Rey nggak mungkin nunggu aku ‘kan? Nanti kalau dia jemput aku gimana ya? Dia nanti kecele gimana dong?’ batin Rara pun semakin tak karuan memikirkan hal ini. Tak tahan lagi untuk memendam keresahannya itu, Rara kini memutuskan untuk menegur Jihan. “Jihan … udahan yuk. Udah malem. Aku nggak enak belum ngabarin orang rumah. Kamu masih lama nggak? Kalau masih, aku pulang duluan aja ya? Naik taksi,” ucap wanita ini dengan hati-hati. Rara takut jika ucapannya ini membuat temannya tersinggung. Jihan menatap arlojinya. Ia pun baru menyadari bahwa memang dirinya terlalu lama untuk sekedar berbelanja kebutuhan yang sebenarnya tidak terlalu penting untuknya. “Ah, iya. Ya udah yuk, balik. Aku anter kamu aja, Ra. Lagian tadi aku udah janji ‘kan,” ucap Jihan yang kini kembali merangkulkan diri di lengan Rara, dan mengajaknya segera keluar dari Mall mewah ini. Rara  pun merasa lega, karena akhirnya Jihan sadar diri dan mau untuk segera pulang mengantarnya. Kalau saja Rara tadi nekat naik taksi, pasti uang sakunya seminggu akan habis hanya untuk ongkos pulang dari Mall ke tempat tinggalnya di ibu kota ini. Jihan mengutus sopirnya untuk mengantarkan sesuai dengan alamat yang Rara berikan padanya. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, dan mengantarkan Rara pulang menuju tujuannya. Dalam perjalanan, Rara hanya diam saja. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu, dan merasa khawatir dengan perasaannya sendiri. Ya tentu saja Rara merasa tak enak pada Rey, yang belum diberikan kabar tentang dirinya. Padahal, Rara tadi sudah berjanji akan memberikannya kabar. ‘Hais, ini semua gara-gara hape somplakku itu! Nyebelin banget nggak sih. Bikin kesel,’ ocehnya dalam batin. Rara masih merasa tak tenang dan berusaha mencari alasan yang akan dia katakan pada Rey nantinya. Hingga akhirnya, mobil yang ditumpanginya telah sampai di rumah mewah milik keluarga Rey. Mobil pun berhenti di depan rumah tersebut dan Rara kini melihat mobil Rey yang sudah terparkir di depan mereka. Entah mengapa, melihat mobil Rey yang terparkir di hadapannya itu, membuat Rara jadi makin panik. Ia pun buru-buru turun dari mobil, dan berpamitan pada Jihan sebisanya. “Makasih buat tumpangannya ya, Ji. Maaf aku harus masuk rumah dulu. Bye,” ucap wanita ini yang terlihat grusak grusuk, sambil melambaikan tangannya ke arah temannya itu. Ia pun segera memasuki rumah mewah milik nyonya Anita ini. Rara memasuki rumah ini dengan perlahan. Ia tak ingin membuat suara karena kedatangannya ini. Lalu Rara pun segera menuju ke ruang tengah. Ternyata … di sana terlihat Rey yang duduk dengan wajah geramnya. Perlahan, pria ini mengangkat wajahnya dan menatap Rara dengan tajam. “Dari mana kamu?” tanya pria ini dengan ketus. Rara yang tadinya hendak masuk rumah dengan tenang, kini jadi terkejut saat mendengar suara Rey barusan. “Astaga! Kamu ngagetin aja, Rey!” serunya sambil mengelus d**a. Ia pun jadi merasa panik. “AKU TANYA, KAMU ITU DARI MANA AJA?!” teriak pria ini, sambil menggebrak meja, lalu berdiri tegak dengan tatapan yang masih menusuk ke arah Rara. Bersambung…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD