Bab 9

1155 Words
“Kita balik aja. Dari pada kamu kedinginan gini,” ucap Rey yang berusaha menangkan Rara. Ia pun langsung melajukan mobilnya kembali menuju ke rumahnya. Rara masih menatap Rey diam-diam, ia merasa canggung dengan keadaan ini. ‘Dia ini kenapa sih? Tiba-tiba jadi baik. Tadi aja marah nggak jelas,’ batin Rara menanggapi sikap Rey kali ini. Ia pun tak mengeluarkan kata apa-apa karena sebenarnya masih merasa dongkol dengan sikap pria yang tadi sempat mengusirnya untuk turun dari mobil. Rey tidak mengatakan kata maaf sama sekali. Dia terlalu gengsi untuk mengucapkan hal itu pada Rara. Tapi tidak bisa dipungkiri, pria ini masih punya hati nurani untuk tidak membuat Rara kehujanan begitu saja. Tak lama, ponsel Rey bergetar, terlihat panggilan dari asistennya yang tertera di layar ponselnya itu. Rey pun segera mengangkatnya dan berbicara pada asistennya tersebut. “Ada apa?” tanya pria ini singkat. “Pak Rey, kita akan ada rapat sebentar lagi, semoga Bapak tidak lupa untuk rapat hari ini,” jawab asistennya yang merupakan seorang wanita itu, menjelaskan jadwal kerja hari ini. Rey pun baru ingat, jika memang dirinya ada rapat penting yang harus dia hadiri. Sedangkan jika harus mengantarkan Rara sampai ke rumah orang tuanya, sepertinya waktunya tak akan cukup. Pria ini memperhatikan jam yang melingkar di tangannya. Dia merasa khawatir jika sampai gagal menghadiri rapat tersebut.  Ia pun melirik ke arah Rara yang masih terdiam kedinginan. Lalu Rey berusaha memikirkan cara yang tepat untuk membuat semua keadaan ini menjadi baik-baik saja. “Halo? Pak Rey? Masih bisa mendengar saya?” tanya asisten Rey lagi, membuyarkan lamunan pria tersebut. “Ah, iya aku dengar. Tenang saja, aku akan segera datang,” jawab Rey yang tetap berusaha tenang. Panggilan pun dimatikan. Rey kembali melirik ke arah Rara dan mengucapkan rencananya dengan hati-hati supaya tak membuat Rara marah padanya. “Kamu … aku turunin di apartemenku dulu ya? Aku ada rapat penting, kalau balikin kamu ke rumah Mami, bakal telat.” Mendengar ucapan pria ini, Rara pun hanya meliriknya. Ia baru ingat, kalau Rey memang tadi ingin sekalian berangkat kerja saat membawanya. Rara tentu tak ingin kurang ajar dalam bersikap. Bagaimanapun juga, Rey sudah berniat baik, meski tadi sempat amat menyebalkan sikapnya. Tak ingin memperpanjang masalah hari ini, Rara pun langsung menyetujui hal ini, menganggukan kepala perlahan dan menjawab dengan santai, “Oke.” Akhirnya, Rey mengantarkan Rara menuju ke apartemennya. Dia mengantarkan wanita ini hingga ke lobby gedung apartemennya dan menghentikan mobilnya di depan sana. “Ini kunci tempatku. Nomor unit 301. Kamu bisa keringin baju dulu di sana, tapi jangan pegang barang-barang di kamarku,” jelas Rey yang masih saja merasa was-was pada Rara. “Enggak bakal aku nyolong barangmu.” Rara pun jadi ketus menanggapi ucapan Rey yang seolah sedang menuduhnya kembali. Rey tentu menjadi salah tingkah karena sepertinya dirinya kembali menyinggung perasaan Rara. Namun, karena waktunya kian singkat, Rey tak memperpanjang hal ini. “Ya udah. Kalau gitu, turun. Nanti kalau ada apa-apa kabari aku. Mana nomor teleponmu?” tanya Rey sambil memandang ke arah Rara kembali. Rara pun mengeluarkan hape buntutnya yang terlihat sudah tak layak pakai itu. Rey tentu ingin mengomentari hape yang sedang dipegang Rara tersebut dengan nyinyirannya. Hanya saja, dia berusaha menahannya supaya keadaan tetap kondusif dan tidak ada pertengkaran lagi di pagi ini. “Mana hape-mu? Aku catetin nomorku,” ucap Rara dengan wajah datar dan suara yang datar pula. “Kamu nggak inget nomormu sendiri? Makanya nyontek gitu?” Ternyata, masih saja Rey ini mengomentari ucapan Rara, meski dirinya sudah menahan diri untuk tak berkomentar tentang ponsel Rara. Rara kini menolehkan wajahnya ke arah Rey dan menatapnya sinis. Hal ini kembali membuat Rey menjadi tak enak hati, dan langsung memberikan ponselnya pada Rara. Wanita itu meraih ponsel Rey, dan mengetikan nomor ponselnya yang memang tidak ia hapal. Dia mengetikannya, sambil melihat nomor yang dia simpan di kontak ponselnya itu. “Nih, udah. Makasih buat tumpangannya.” Rara mengembalikan ponsel Rey kembali dan langsung turun dari mobil pria itu. Dia lalu masuk ke lobby apartemen ini dan segera berlalu dari pandangan Rey. Melihat Rara sudah masuk dan hilang dari pandangannya, Rey pun memutuskan untuk langsung menuju ke kantornya. Dia tak ingin terlambat dalam rapatnya kali ini, dan bergegas melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang. *** Di dalam kantor, Rey yang kini sudah berada di ruangannya usai menyelesaikan rapat pagi ini, memandangi ponselnya yang menampilkan kontak nama Rara. Ia menatapnya terus menerus, dan berulang kali ingin menghubungi wanita tersebut. Tapi sayangnya pria ini tidak benar-benar menghubunginya. Dia merasa ragu untuk dan gengsi untuk menghubungi Rara terlebih dahulu. “Ck. Dia ini kenapa sih? Kenapa nggak hubungi aku? Kenapa nggak kasih kabar? Bukannya aku udah bilang kalau ada apa-apa kabari aku?”  Rey bertanya-tanya sendiri dengan perasaan khawatirnya. Dia seperti orang gila yang mengkhawatirkan sesuatu, namun tetap saja tak berani menghubunginya duluan. “Dia … nggak mungkin bawa barang-barangku, terus kabur ‘kan?” Masih saja pria ini mencurigai Rara dengan pikiran buruknya. Tapi untung saja Rey langsung menepis pikiran buruknya. Dia merasa bahwa Rara bukanlah orang yang seperti itu, melihat ponselnya saja tadi begitu kuno. Tiba-tiba saja Rey mengkhawatirkan keadaan Rara kembali, mengingat wanita itu sudah kehujanan basah kuyup. Hal ini sebenarnya membuatnya merasa bersalah, karena dirinyalah yang membuat Rara menjadi seperti itu, sewaktu dia mengusirnya keluar dari mobilnya. “Hais. Kenapa aku jadi mengkhawatirkannya?” ucap Rey yang masih saja bertanya-tanya sendiri. Pria ini menatap jamnya kembali, yang menunjukan pukul sebelas siang. Ia memikirkan keadaan Rara yang sedang berada di apartemennya sendirian. “Dia sudah makan siang belum? Apa dia .. tidak apa?” Karena terus saja khawatir dengan keadaan Rara. Pria yang masih saja merasa gengsi untuk menghubungi Rara duluan, kini segera mengutus bawahannya. Rey mengutus anak buah kepercayaannya itu, untuk membelikan makan siang dan mengantarkannya ke apartemennya. “Belikan makanan yang hangat berkuah, dan enak. Nanti taruh saja di handle pintu apartemenku, dan kamu bisa segera pergi setelah mengkonfirmasi padaku,” ucap Rey dengan perintahnya. Anak buahnya Rey pun menyetujui hal ini. Ia lalu menjalankan perintah sesuai dengan apa yang disuruh atasannya itu. Dia segera membelikan sup dari restoran tiongkok, dan langsung mengantarkannya ke apartemen Rey. Pria ini pun menjadi bertanya-tanya tentang perintah bosnya itu, “Untuk siapa sebenarnya makanan ini?” Namun, karena tak ingin mengetahui lebih lanjut urusan pribadi atasannya itu. Anak buah Rey ini segera pergi dari tempat tersebut dan langsung kembali ke dalam mobil. Ia pun mengkonfirmasi pada Rey, bahwa dirinya telah menjalankan sesuai dengan perintahnya. Rey langsung menghubungi Rara saat itu juga. Dia yang tadinya merasa gengsi untuk menghubungi wanita itu terlebih dahulu, kini punya alasan untuk menghubunginya. Panggilan pun dilakukan, dan Rara yang sedang tertidur pulas, kini mengangkat ponselnya yang berdering beberapa kali itu. “Halo?” sapa Rara dengan suara paraunya. Rey tiba-tiba merasa kian khawatir mendengar suara Rara yang nampak tak sehat itu. Ia yang tadinya duduk bersantai di kursinya, seketika berdiri dan bertanya tentang keadaan Rara. “Kamu sakit?” tanya Rey dengan kekhawatirannya berlebihan. Bersambung…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD