5

1306 Words
Seorang pria menapakkan kakinya di sebuah helipad. Ekspresinya yang sangar membuat siapapun segan mendekat. Namun, pria lain segera menghampirinya dengan wajah tertunduk. Dia sengaja mencari celah ditengah kebisingan baling-baling helikopter untuk melapor hasil pekerjaannya. "Lapor. Subjek A belum ditemukan. Bahkan foto yang tertangkap dari cctv tidak terpindai di sistem manapun." Laporan itu disampaikan seformal mungkin. Langkah Leonard terhenti seketika. Rahangnya mengeras, matanya menyipit tajam. "Apa?" suaranya rendah dan berbahaya. Raymond menelan ludah. "Tim kami sudah menyisir beberapa lokasi yang diduga tempat persembunyiannya. Namun, jejaknya lenyap begitu saja, dia telah mengantisipasi setiap pergerakan kita." Leonard mengangkat dagu sedikit, jemarinya mengepal, menahan amarah yang siap meledak. "Sampai sekarang kalian tidak bisa menemukan wanita itu?!" Raymond bergidik. "Kami sudah mengerahkan seluruh sumber daya, Pak. Tapi dia tidak terlacak sama se—" "Tidak ada yang tidak bisa kulacak!" potong Leonard tajam. "Jangan beri aku alasan bodoh, Raymond!" Ajudannya menunduk, tak berani menatap mata Leonard yang penuh amarah. Semua orang tahu, Leonard tidak menerima kegagalan. Leonard menghirup napas panjang, mencoba meredam emosinya walau sia-sia. "Gunakan semua cara," lanjutnya lebih terkendali. Di sisi lain, Nadine sibuk dengan pekerjaannya. "Kami sudah menggunakan semua cara, Pak. Sepertinya wanita itu bukan orang biasa." Leonard meliriknya dengan bengis. Raymond menelan ludah. Dia tahu betul sorot mata itu. "Siap, Pak." Leonard merapikan jasnya, kemudian melangkah menuju mobil hitam mewah yang sudah menunggunya. "Wanita itu pasti akan kutemukan. Tidak peduli di mana pun dia bersembunyi." Di sisi lain Nadine duduk di trotoar kumuh, menyandarkan tubuhnya ke dinding usang kontrakan. Perutnya keroncongan, tubuhnya menggigil. Sudah dua hari ia hanya minum air keran. Satu-satunya roti kering yang ia simpan pun telah basi. Wajahnya pucat, pipinya semakin tirus. Ia menatap kosong ke arah jalanan, berharap ada keajaiban turun dari langit. Tapi tidak ada yang datang. Tidak ada satu pun. Pelan-pelan, Nadine berdiri dengan kaki gemetar. Ia menyeret langkah menuju belakang pasar kecil tak jauh dari kontrakan. Matanya menyapu sekeliling, lalu berhenti di satu tong sampah besar. Ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tak ada yang memperhatikan, lalu membuka tutupnya perlahan. Bau busuk menyergap, membuatnya mual. Namun, ia tahan. Tangannya gemetar saat menyibak tumpukan plastik dan sisa makanan busuk. Sesekali ia berhenti, menarik napas dalam-dalam, lalu kembali mengais. “Ah…” gumamnya saat menemukan sepotong roti yang terbungkus plastik bening. Roti itu agak lembek, tapi belum berjamur. Tanpa pikir panjang, ia duduk di samping tong, membuka plastiknya, dan memakan roti itu perlahan. Air matanya jatuh tanpa suara. “Maafkan aku, Tuhan…” bisiknya lirih. Ia tak pernah membayangkan hidupnya akan sehancur ini. Pikirannya melayang ke Bibi Clara yang mebawa uangnya, emas, royalti buku, dan tabungan kecil. Tiga hari ini kampus tutup karena libur nasional. Uang yang ia kira bisa bertahan beberapa minggu, nyatanya musnah untuk membayar kontrakan yang menunggak. Di minggu kedua ia bisa bertahan karena aktif menghadiri acara dan kasbon di kantin. Namun, tiga hari ini tak ada apapun yang bisa ia santap. Sekarang adalah masa terpuruknya. Ia hanya bisa menatap layar ponselnya yang semakin usang. Berharap editornya menghubungi kembali. Ia ingin meminjam sedikit uang, setidaknya untuk bertahan hidup sampai royalti terbitan kedua dan gaji putakawan cair. Perut Nadine masih melilit, tapi ia paksa tubuhnya kembali berdiri. Langkahnya limbung, sepatu kets-nya yang sudah jebol menyentuh aspal kotor tanpa perasaan. Sore mulai berganti malam. Hujan gerimis turun perlahan, membasahi rambut dan jaket tipis yang ia kenakan. Ia bahkan tak punya cukup uang untuk membeli payung bekas sekalipun. Sesampainya di kontrakan, Nadine membuka pintu kamar sempitnya. Dinding lembap menyambut, atap yang bocor mulai meneteskan air ke lantai. Sudut ruangan tempat ia biasa menulis kini kosong. Laptopnya sudah dijual seminggu lalu, hanya tersisa meja kayu reyot dan sehelai karpet tipis. Ia terduduk. Ponsel di tangannya menyala sebentar, baterainya tinggal 4 persen. Ia buka pesan terakhir dari editornya. |“Kami akan kabari kalau ada proyek baru, Nadine. Untuk sekarang, mohon bersabar.” Tidak ada kata pinjaman. Tidak ada janji uang muka. Hanya kesopanan dingin dari sistem yang selalu mementingkan target dan angka penjualan. Air mata Nadine kembali jatuh. Tubuhnya menggigil, bukan hanya karena hujan yang membasahi bajunya, tapi juga karena rasa takut dan putus asa. "Apa aku akan mati di sini?" bisiknya lirih pada dirinya sendiri. Malam kian larut. Tak ada yang datang mengetuk pintu. Tak ada kabar dari editor, tak ada pesan dari teman, tak ada jejak bibi Clara yang entah di mana. Dunia seperti menelannya pelan-pelan. Ia merebahkan tubuh di lantai yang dingin, memeluk lutut, dan berusaha tidur dalam kelaparan dan suara rintik hujan. Sementara di tempat lain… Leonard duduk di ruangan mewah. Jendela kaca besar memperlihatkan pemandangan kota penuh lampu. Tangannya memutar segelas wine, tapi pikirannya terdistraksi. Sorot matanya tajam menatap layar besar yang menampilkan peta digital dan titik-titik pencarian. "Aku tahu kau tidak jauh dari jangkauanku, wanita nakal..." gumamnya penuh ancaman. "Dan saat aku menemukanmu. Kau akan membayar lunas semua yang telah kau sembunyikan dariku." __________ Di kamar gelap nan lembap itu, Nadine menggigil dalam diam. Ponsel usang Nadine hanya tinggal dua persen baterainya. Meski layar berkedip redup, ia tetap membuka aplikasi media sosial dengan jari gemetar. Nama akun penulisnya terpampang jelas di sudut kiri atas: Starlight Beat—nama pena yang selama ini ia sembunyikan rapat dari siapa pun, termasuk Adrian. Akun itulah kehidupan "rahasia" Nadine. Di sanalah ia menumpahkan semua perasaan, menulis fiksi romantis yang ironi dengan hidupnya. Pengikutnya cukup banyak. Banyak yang menyukai tulisannya, tanpa pernah tahu wajah asli sang penulis. Notifikasi DM masuk. Ada banyak DM dan satu akun menarik perhatiannya. Ia klik. @EvelynWijayaOfficial: Halo Starlight Beat! 💕 Aku adalah fans berat tulisanmu! Aku dan tunanganku sering baca cerita-ceritamu bareng saat malam minggu, loh. Kami suka cerita-cerita romantismu yang hangat dan dalam. Rasanya cocok banget dengan kisah cinta kami. Ngomong-ngomong, aku dan tunanganku akan menikah akhir bulan ini! 😍 Aku ingin banget kamu datang ke pesta kami. Aku kirim undangannya yaa~ 🎉 Hope to see you there, my favorite author! — Evelyn 💍 Nadine membeku. Matanya tak berkedip, jantungnya berhenti berdetak sepersekian detik. Undangan pernikahan digital menyusul pesan itu. Gambar elegan dengan warna emas dan krem terpampang jelas di layar. Pernikahan Evelyn Wijaya & Adrian Hartanto Tanggal: 30 April Tempat: Hotel Gran Aurelia, Ballroom A Tangannya gemetar saat menyentuh layar. Nafasnya tercekat. Lelaki yang ia cintai selama lima tahun, justru memilih menikah dengan sahabatnya sendiri. Sahabat yang bahkan mengidolakan tulisannya. Yang lebih menyakitkan? Evelyn tidak tahu bahwa penulis bernama Starlight Beat yang ia undang adalah Nadine sendiri. Saat akan menutup room chat, mendadak ada pesan baru dari Evelyn. @EvelynWijayaOfficial Hai Starlight Beat! 💫 Aku senang banget, akhirnya kamu baca pesanku. You're like a hidden angel for us 😭💕 Ngomong-ngomong, aku kepikiran buat kirim undangan fisik dan sedikit bingkisan kecil sebagai bentuk terima kasih karena kamu udah nemenin perjalanan cinta kami lewat tulisan. Kalau nggak keberatan, boleh minta alamat kamu, nggak? 🙈 Tenang aja, aku janji privasimu aman. Much love Evelyn Nadine termenung, tetapi pikirannya melayang dengan beragam makanan yang ada di sana. Dengan tangan gemetar, ia pun mengirim alamat tanpa mencantumkan namanya. Evelyn pun langsung membalas. @EvelynWijayaOfficial Wah, masih satu kota. Aku Gojek in aja ya, biar cepat sampai... Air mata Nadine jatuh membasahi layar ponsel. Cahaya dari notifikasi perlahan meredup seiring baterai yang habis. Layarnya mati. Nadine menunduk, memeluk lutut di atas lantai yang dingin. Leonard yang bersantai di kamarnnya, segera menyadari seseorang mendekat. "Maaf menganggu waktunya, Tuan." Demons ajudannya yang lain mendekat sembari menyerahkan undangan. Leonard meliriknya dingin. "Ada undangan pernikahan dari Adrian, CEO baru IntiVara Tecnology." Leonard mendesah. "Apa aku harus ke sana?" "Benar, Pak. Bagaimanapun IntiVara Tecnology merupakan mitra negara dalam dunia IT. Jadi sudah tanggung jawab Tuan untuk menjaga relasi dengan para mitra." Demons mengeratkan bibirnya. Ia takut menyinggung atasannya. Apalagi Leonard langsung memutar kepalanya. Kode ia merasa jengah. Namun, mendadak sorot mata Leonard menajam. "Adrian... dan Evelyn?" ia menoleh ke Demons. "Benar, Tuan." Bibir Leonard menyeringai. Ia mendapat secercah cahaya. "Aku akan hadir. Siapkan semua keperluanku!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD