Abim mengetatkan rahangnya sehingga giginya bergemeletuk. Tiba-tiba saja rasa marah dan benci menyeruak memenuhi rongga hati. Menatap pria yang tak pernah ingin dia temui seumur hidupnya, walaupun dia tahu pria itu adalah ayahnya. Ayah yang sebenarnya, yang telah menanamkan benihnya di rahim ibunya hingga hadirlah dirinya di dunia. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya, menahan amarah yang terus merajai hati. Bertahan sebisa mungkin agar tak menyerangnya dan malah membahayakan dirinya sendiri dan anak istrinya. "Cabutlah tuntutanmu atas Razan, aku memohon ampun atas segala kesalahannya. Apapun yang telah dia perbuat kepadamu." Gibran berujar. Dia lantas bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat ke arah Abim. Menatapnya seolah itu akan berarti untuk meluluhkan hatinya. Sosokny

