Gamal menggeleng pelan lalu tersenyum tipis. Tidak menyangka Nora segila ini. Tidak mengira jika sang kekasih sudah melewati batas hingga sampai ke titik ini
“Ga__” Nora tersenyum nakal dengan mata menggoda.
“Ra! Buruan! Gue mau lanjut nih! Kapan gue selesainya kalo kalian bediri di situ?” protes Andy dengan wajah merengut, “Lo juga, kenapa nyali lo kecil banget sih? Enggak malu lo, ditantangin gitu malah kabur kaya banc* ketangkep SATPOL PP?"
Gamal tersentak mendengar kata-kata Andy, terbesit di pikirannya, bahwa apa yang dikatakan Andy benar adanya. Nora sudah menyerahkan diri bulat-bulat dengan cara yang begitu dramatis, gadis muda itu tanpa malu merendahkan dirinya sendiri dengan bersikap demikian.
Sedangkan Gamal adalah seorang lelaki, tidak akan terjadi apa pun terhadapnya, tidak ada ruginya. Cukup hanya “meludah” lalu pergi.
Toh Nora yang begitu mendesaknya hingga ke batas akhir pertahanannya. Dia menolak bukan berarti tak ingin, tetapi dirinya hanya tidak ingin merusak perempuan. Ingat petuah sang ayah yang hampir setiap hari disampaikan kepada dirinya, “pecah berarti membeli, meski sebenarnya barang itu sudah retak sekalipun.”
Namun, jika sudah seperti ini, bukan masalah lagi, bukankah Nora sendiri yang menantangnya, mempermalukan dirinya di hadapan teman-temannya? Ditertawakan, dikatakan pengecut seperti banc*.
“Ayo__” Gamal menatap dalam wajah Nora dengan tatapan marah.
“Gitu dong!” tanpa malu-malu gadis muda itu mengaitkan tangan di lengan Gamal, membawanya ke kamar. Sesampainya di dalam, Nora melepaskan semua kain yang melekat di badannya, tidak menyisakan sehelai benang pun.
Gamal menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Sesekali dirinya memang menonton film dewasa bersama teman-temannya, menyewa film demi menuntaskan rasa penasaran. Namun, ketika dihadapkan dengan situasi real seperti ini dirinya sangat canggung, tidak berpengalaman sama sekali. Bahkan mencium bibir Nora pun dirinya belum pernah.
Dada Gamal berdebar sangat cepat, lonjakan hasrat dan juga rasa gugup membuat seluruh tubuhnya dingin dan gemetar. Dirinya tidak tau harus berbuat apa dan mulai darimana.
Sebuah senyuman tersimpul di bibir Nora melihat reaksi lugu Gamal. Berdiri seperti patung, tak bicara sepatah kata pun, hanya menatap dirinya dengan lekat. Dirinya tahu jelas sang kekasih tidak berpengalaman. Dan lagi, lelaki muda nan tampan ini sangat menjaga diri, tidak pernah memintanya untuk berbuat lebih dari sekedar bergandengan tangan. Mungkin karena hubungan mereka masih baru? Nora juga tidak tahu alasanya, sebab mantan-mantannya selama ini bahkan meminta melakukan hubungan terlarang di hari pertama jadian.
Nora berlutut di depan Gamal yang kini masih saja memandanginya dengan tatapan bingung. Senyuman di bibirnya kembali tersimpul indah, lalu, tanpa ragu mengusap tepat dibagian inti kehidupan milik sang kekasih.
Gamal terpejam merasakan sensasi rasa yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Nora pun menjadi semakin nakal. Tak malu ia membuka resleting celana sang kekasih, mengeluarkan isinya dari sesaknya kungkungan celana. Rasa asing tetapi juga nikmat itu semakin membuncah dengan hebat tatkala lembutnya tangan Nora bermain-main dengan "paku buminya" yang semakin lama semakin berdiri dengan gagah siap menancapkan pancang kuat-kuat.
Tak ragu Nora segera melahap dan memainkan paku bumi itu dengan lihai. Gamal memandangi perilaku kekasihnya dengan tatapan sayu karena hasrat yang membuncah hebat, bercampur sedih. Sebab gadis pujaan hatinya ini mengenal hubungan terlarang sudah sampai sejauh ini, seperti wanita cantik di film yang ditontonnya. Di usia segini saat usia Nora masih hijau dan baru memucuk.
Dirinya tidak memungkiri, nikmat memang, tetapi rasa sedih di hatinya hampir melampaui sensasi yang dirasakannya. Sepasang mata hitam Gamal merah berkaca-kaca. Nikmat dan sedih membaur di dalam dadanya.
Setelah beberapa menit, Nora menghentikan aktivitasnya lalu berbaring di kasur. Dituntun naluri, Gamal melawan rasa canggung dan gugupnya. Dia menghampiri Nora, kemudian menindih tubuh gadis itu, mencium bibir, leher dan juga dadanya. Tidak tahan dengan lonjakan hasrat, dia pun segera menyatukan dirinya dengan sang kekasih. Sesekali terdengar protes dari Nora sebab merasa sakit dengan perilaku Gamal yang sangat terburu-buru.
Namun, gadis itu mengerti semua itu karena Gamal tidak berpengalaman, tidak ada sama sekali. Hanya dalam hitungan menit, tubuh Gamal mengejang, terasa cairan hangat tumpah, menetes keluar dari bagian inti tubuh Nora.
Senyuman puas tersemat di bibir Nora yang manis, karena berhasil membuat Gamal kehilangan kesucian.
Sedangkan Gamal masih menindih tubuhnya dengan napas tersengal.
“Gimana? Enak?” tanya Nora berbisik di telinga Gamal sembari mengusap kepala sang kekasih, dagu lelaki muda itu bertumpu di pundaknya.
“Iya,” jawab Gamal sembari bangun dari posisinya lalu memakai kembali pakaiannya.
“Kamu masih mau di sini atau gimana? Aku mau pulang." Gamal menatap wajah Nora. menanti jawaban.
“Kok pulang sih?” Nora cemberut.
“Aku gak nyaman di sini. Temen-temen kamu itu pada mabuk semua,” terang Gamal sambil memakai ikat pinggang dan merapikan pakaian.
“Ya tapi, kalo kita pulang pasti ketahuan dong kalo kita bolos. Kan temen-temen belum pada pulang,” protes Nora.
“Ya udah kita jalan-jalan aja. Ke pantai aja gimana? Yang penting pergi dari sini.” Gamal memberikan solusi.
“Ya udah ayo.” Nora pun segera bangun dari kasur lalu memakai pakaiannya.
Dalam perjalan ke pantai benak Gamal dipenuhi kebingungan. Bercokol di kepalanya, Nora bukan gadis yang baik. Terbesit di pikirannya, tidak masalah Nora mau seperti apa, apa salahnya dia menikmati “ketidakbaikan” gadis itu. Sensasi rasa barusan membuatnya seakan melayang tinggi, sepertinya tidak apa jika mengulanginya lagi dan lagi, toh Nora sendiri yang memintanya.
***
Sebulan sudah berlalu sejak terakhir kali Gamal dan Nora melakukan hubungan terlarang itu. Berkali-kali Nora menelpon ke rumahnya, bahkan datang menemuinya, menanyakan kenapa dirinya kini seakan-akan menjauhinya. Pun dia selalu menolak keras jika Nora kembali mengajaknya melakukan “hal” itu lagi.
Alasannya? Pertama, perasaan Gamal kepada gadis itu menguap, sebab melihat perilakunya. Sementara untuk sekedar memanfaatkanya, menikmati tubuh gadis itu dia tidak tega. Terngiang pesan sang Ayah, jangan permainkan perempuan. Ingat, Mama kamu perempuan, bagaimana perasaan kamu kalau mama kamu diperlakukan begitu? Lalu yang kedua, Hana-Mamanya, selalu marah jika Nora datang atau menelponnya.
“Jangan pacaran! Kamu masih sekolah! Mau jadi apa?!” marah mama-Gamal jika Nora mendatangi dirinya ke rumah. Bahkan Hana seringkali mengatakan dirinya tidak di rumah jika pacarnya itu berkunjung dan tidak segan-segan menyuruhnya pulang. Padahal baru lima sampai sepuluh menit mereka mengobrol di teras rumah.
“Kamu pacaran sama Nora ya?” tanya sang Mama dengan nada tidak suka di sela suapan makan malam bersama.
“Enggak kok, Ma. Kami cuma temenan,” bohong Gamal agar tidak mendengar ceramah panjang lebar lagi.
“Dia orang tuanya ke mana sih? Kok malam-malam keluyuran gak dimarahin?” keluh Hana lagi, teringat malam kemarin Nora datang pada jam setengah sepuluh malam mencari putranya.
“Ada kok, Ma. Kemarin dia ada tugas sekolah yang mau ditanyakan aja.”
“Tugas apa? Bukannya dia kelas 2 ya? Beda pelajaran kan?”
“Nah itu, Ma. Tugasnya dia itu emang pelajaran pas kelas 1 dulu. Dan dia sudah lupa, makanya tanya aku.”
Hela napas Hana terdengar berat mendengar penjelas Gamal. Sangat sulit baginya untuk percaya hal itu. Dia menyadari, putranya memang sangat tampan, bahkan sejak sekolah SD pun teman-teman perempuan Gamal sering datang ke rumah dengan berbagai alasan.
“Ayah mana, Ma?” Gamal berusaha mengalihkan pembicaraan agar sang Mama tidak lagi meneterinya dengan pertanyaan tentang Nora. Belum lagi wejangan panjang lebar bahwa dirinya tidak boleh pacaran pun bisa bertahan hingga dua jam lamanya jika tidak segera mengambil tindakan pencegahan.
“Ke Surabaya, ada urusan,” terang Hana pada sang putra. Bersamaan dengan itu terdengar dering telepon dari ruang tengah.
“Biar aku aja, Ma.” Gamal segera berdiri dari kursinya, berjalan menuju ruang tengah.
“Halo” jawab Gamal ketika gagang telepon terpasang di telinganya.
“Ga__” terdengar suara seseorang yang sangat dikenalnya di seberang sana.
“Ra__” bisik Gamal takut terdengar sang mama, “Ada apa?” berusaha berbicara sepelan mungkin.
“Ga, kamu ke rumah aku sekarang ya. Ditunggu Papa sama Mama,” pinta Nora di sela isak tangis.
“Kamu kenapa Ra? Kok nangis?” Gamal bingung.
“Nanti aku cerita, udah kamu ke sini aja ya. Sekarang Ga! Tolong banget kamu ke sini sekarang juga,” hiba Nora terisak semakin keras.
“Oke … oke.” Gamal menutup telepon kemudian kembali ke meja makan menemui sang Mama.
“Siapa, Ga?” tanya Hana penasaran.
“Wahyu, Ma. Dia minta tolong anterin ke rumah sakit, katanya sakit perut. Di rumahnya lagi gak ada siapa-siapa. Mama-papanya lagi ke rumah sodara di KALTIM keluarganya nikahan,” bohong Gamal dengan wajah cemas.
“Ya ampun … kesian si Wahyu.” Hana cemas. Ya, dirinya kenal baik siapa Wahyu. Sahabat putranya sejak SD dulu. Ia sangat suka anak itu dan sudah menganggapnya sebagai anak sendiri. Anak lelaki yang halus budi pekertinya, sangat sopan dan taat beribadah.
“Iya, Ma. Kesian banget Wahyu. Katanya saking sakitnya sampai napas aja sakit,” Gamal memasang wajah semakin dramatis. Sedangkan di dalam hati dirinya tersenyum penuh kemenangan. Dia tahu betapa sayang sang mama kepada wahyu, tentu saja alasan keluar malam-malam seperti ini demi Wahyu yang sedang sakit akan didukung penuh, “boleh aku antar Wahyu, Ma? Dia kesakitan banget tuh. Takut kenapa-napa kalau kelamaan.”
“Iya … udah sana pergi. Kasian dia kalau kelamaan,” desak Hana.
“Ma, minta uang uang ya. Takutnya uang Wahyu kurang buat bayar rumah sakit. Kata Wahyu nanti kalau papa-mamanya datang diganti.”
“Iya,” angguk Nora cepat. Segera ke kamar mengambil 50-ribuan sebanyak 10 lembar dan memberikannya ke Gamal, “Kalo uang ini kepake, Mama minta kwitansi, bukti pembayaran dari rumah sakit.” Khawatir jika uang itu akan dikorupsi sang anak. Sebab akhir-akhir ini putranya itu selalu saja kekurangan uang. Bukan karena dirinya yang memberi jadi lebih sedikit dari biasanya, hanya saja ada saja alasan Gamal untuk meminta uang lebih daripada jatah yang seharusnya.
“Iya, Ma.” Gamal mengambil uang itu dan segera pergi menuju rumah Nora.
Sesampainya di rumah sang pacar, dia disuruh masuk dan disuguhkan wajah masam dari semua kakak lelaki Nora serta kedua orang tuanya. Semua anggota keluarga termasuk Nora duduk di atas sofa mahal mereka, sementara dirinya duduk di lantai menatap mereka semua dengan bingung. Semakin bingung lagi ketika melihat mata Nora bengkak dan sembab. Sedu sedannya pun sesekali masih terdengar.
“Ada apa ya, Pa, Bu?” Gamal memberanikan diri.
Plak! Tamparan keras ayah Nora mendarat di pipi Gamal. Rasa sakit membuatnya meringis lalu mengusap pipinya menggunakan telapak tangan. Nanar matanya menatap mereka semua dengan pandangan tidak mengerti, apa halnya hingga dirinya diperlakukan seperti ini
“Beraninya kamu menghamili Nora!” bentak Sadad ayah Nora.
“HAMIL?!” mata Gamal membulat lebar sekali.
“Iya! Hamil!” pekik Sadad semakin lantang dengan mata melotot tajam.
Gamal menatap bingung wajah Nora, sedangkan gadis itu hanya tertunduk sangat dalam sembari memainkan ujung baju, sama sekali tidak melihat ke arahnya. Cacian dan hinaan dari keluarga Nora terus mendengung tanpa henti di telinganya bagai kepakan sayap nyamuk yang kelaparan.
“Dasar tidak tahu diuntung. Kamu membawa Nora izinnya jalan-jalan, tau-taunya anakku digagahi?! Kurang ajar!” Lagi, tamparan keras mendarat di pipi Gamal.
Kebingungan membuat Gamal menangis terisak, “Tapi Pak, Nora yang__”
“Masih berani kamu menyangkal dan menyalahkan adik kami!” Lukman kakak tertua Nora ikut ambil bagian dalam penyiksaan, melayangkan tinju di pipi Gamal.
Akhirnya, Gamal hanya bisa diam sambil menangis terisak. Tanpa bisa membela diri. Terus saja dihina dan dicaci, dikatai lelaki b***t tidak punya akhlak. Membuat putri mereka satu-satunya harus kehilangan masa depan. Hamil padahal masih sekolah.
“Bilang sama orang tau kamu, besok kami ke rumah!” ucap Sadad tegas dan lantang.