Maafkan Kakak, Kayra.

1095 Words
Krucuk.. Krucuk.. Krucuk.. Sial.. Perut tidak dapat diajak untuk berkompromi di saat seperti ini. Kayra memalingkan wajah ke arah lain untuk menutupi rasa malu dengan bunyi di perut kepada Rendra. Sementara itu, Rendra tersenyum tipis saat melihat tingkahnya laku Kayra. “Kita makan dulu iya bu Kayra?” ucap Rendra tanpa mengalihkan fokus pada jalanan di depan. “Tidak usah. Kita langsung pulang saja,” jawab Kayra dengan nada dingin. “Tapi bu Kayra bukannya lapar iya?” sambung Rendra. “Saya bisa makan di rumah nanti,” tukas Kayra. “Baiklah. Saya akan mengantarkan bu Kayra kembali ke rumah,” pungkas Rendra memilih untuk mengalah dari pada harus berdebat dengan Kayra. Kayra membungkam mulut tanpa menjawab ucapan Rendra sehingga Rendra tersenyum kecut melihat sikap Kayra. ‘Wanita yang unik,’ batin Rendra dengan menoleh sekilas kepada Kayra yang sedang menatap lurus ke depan saat ini. *** “Kamu makan malam di sini sekalian Rendra,” ucap Dito. “Terima kasih kak. Saya permisi kembali ke rumah saja,” balas Rendra. “Saya tidak menerima penolakan Rendra. Kamu makan malam di sini. Duduk,” titah Dito tegas tanpa penolakan. Rendra menerima tawaran dari Dito untuk makan malam bersama dengan mereka hari ini. Ya. Tepat pukul tujuh lebih tiga puluh menit Kinara dan Rendra tiba di rumah keluarga Kayra. Setelah membersihkan diri Kayra bergabung dengan kakaknya untuk menikmati hidangan makan malam yang cukup terlewat dari waktu pada umumnya. Kayra terkesiap saat melihat Rendra masih berada di rumah keluarganya saat ini. Namun Kayra dengan cepat kembali n bersikap tenang sebelum Rendra menyadari sikap Kayra nyang terkesiap melihat keberadaan Rendra saat ini. “Kenapa dia ada di sini kak?” tanya Kayra setelah duduk di kursi yang biasa ditempati oleh dirinya. “Kakak yang mengajak Rendra makan malam bersama kita, Kayra,” jawab Dito. Kayra berdesis mendengarkan apa yang diucapkan oleh sang kakak. “Terserah kakak. Kayra lapar mau makan." Dito terkekeh mendengar apa yang diucapkan oleh sang adik, “Iya sayang.. Ayo makan.. Jangan sungkan iya Rendra makan malamnya. Anggap saja seperti rumah sendiri.” “Baik Pak Dito. Terima kasih Pak,” sahut Rendra. Dito berdetak kesal setelah mendengar Rendra memanggil dirinya dengan Pak. “Jangan panggil Pak, Rendra. Panggil kakak atau nama saja iya Rendra. Aku dan kamu kan seumuran.” “Iya kak.. Maaf kak,” sambung Rendra. “Kalian mau makan apa mengobrol sih. Bukannya kakak yang selalu bilang kalau di meja makan tidak boleh mengobrol iya? Kalau kalian masih mau mengobrol silahkan, Kayra makan di kamar saja kalau begitu,” sahut Kina beranjak dari duduknya dengan membawa piring menuju ke kamar. Namun diinterupsi oleh suara sang kakak. “Makan di sini Kayra. Kakak tidak pernah mengajarkan kamu makan di kamar,” tukas DitO. “Iya kak,” balas Kayra dengan suara lirih. Dito, Rendra dan Kayra menikmati makan hidangan makan malam dengan suasana hening tanpa ada yang berani berbicara sedikit pun. Hanya dentingan sendok dan garpu di atas piring yang memecahkan keheningan di setiap mereka sedang menikmati makan di ruang makan. “Bagaimana hari ini di kantor Rendra?” tanya Diti. “Alhamdulillah.. Lancar kak. Walaupun sempat ada insiden tadi waktu kita mengadakan kunjungan lapangan ke proyek. Tapi bisa diatasi kak,” jawab Rendra. Dito menautkan kedua alis mendengarkan apa yang diucapkan oleh Rendra. "Insiden?” Anggukan kepala dari Rendra semakin menimbulkan banyak pertanyaan dalam benak Dito tentang insiden yang terjadi hari ini. Sementara itu, Rendra merasa bimbang antara menceritakan semua ke Dito atau tidak tentang insiden yang terjadi hari ini. Ethan merasa ini bukan ranahnya. Bukan urusan Rendra. Tapi jika Rendra tidak menceritakan apa yang terjadi hari ini kepada Dito. Rendra pasti akan merasa sangat bersalah mengingat Rendra dan Dito telah saling berjanji untuk tidak menutupi hal apapun dalam misi mereka kali ini. “Apa kamu tidak ingin menceritakan apa yang terjadi hari ini kepada aku, Rendra?” tanya Dito. Satu helaan nafas berat terdengar dari bibir Rendra setelah mendengar pertanyaan dari Dito. Baiklah. Lebih baik Rendra menceritakan semua yang telah terjadi hari ini kepada Dito, sahabatnya. Ya. Dito dan Rendra telah lama bersahabat, namun demi misi Dito dan Rendra kepada Kiara Dito dan Rendra berpura-pura untuk tidak saling mengenal jika berada di hadapan Kayra. “Rendra dan Kayra tadi siang bertemu dengan suami Kayra di proyek yang kami kunjungi kak,” ucap Rendra. Nah.. Apa yang sempat berada dalam benak Dito benar adanya. Dito mengetahui jika perusahaan yang dikelola oleh Kayra saat ini bekerjasama dengan perusahaan tempat Endra bekerja sehingga dapat dipastikan jika Kayra dan Endra pasti akan bertemu dalam kerjasama itu. Namun Dito tidak pernah menyangka jika pertemuan antara Kayra dan Endra akan secepat ini. “Bagaimana dengan Kayra?” tanya Dito. “Kayra pergi meninggalkan aku untuk menemui Endra, kak. Kayra meminta aku untuk berpura-pura menjadi atasannya dan Kinara sebagai sekretaris aku di kantor kak,” jawab Rendra. “Kayra tidak bertemu dengan Endra secara langsung? Maksud aku tatap muka?” sambung Dito. “Tidak kak. Aku menuruti permintaan Kayra. Aku pura-pura tidak mengenal laki-laki itu kak,” terang Rendra. “Terima kasih Rendra. Aku percaya kamu bisa diandalkan,” tukas Dito. Rendra dan Dito meneruskan percakapan mereka membahas tentang pekerjaan yang tidak akan pernah ada habisnya sehingga tanpa terasa malam telah semakin larut. Rendra berpamitan kembali ke rumah kepada Dito. Dito membuka perlahan pintu kamar sang adik setelah masuk ke dalam rumah. Tampak sang adik telah terlelap di atas tempat tidurnya. Namun Dito dapat melihat jejak air mata di pipi sang adik. Dengan langkah pelan dito masuk ke dalam kamar sang adik lalu duduk di tepi tempat tidur sang adik. Diusap lembut pipi sang adik sembari menghapus tetesan air mata yang masih mengalir di pipi Kinara. Dito dapat memahami apa yang kini sedang dirasakan oleh Kayra. Munafik. Jika Kayra kini benar-benar telah bisa bangkit dan tidak sedih. Dito mengetahui hal yang paling tidak bisa dilupakan itu disakiti akibat pengkhianatan. Apalagi pengkhianatan yang dialami oleh Kayra dilakukan oleh suaminya dan sahabat baik Kayra sendiri. Pasti Kayra tidak mudah untuk melupakan semua hal itu dalam kehidupannya. Entah saat ini atau di masa depan. Dito mengecup kening Kayra dengan penuh kasih sayang. Adik semata wayangnya itu menjadi tanggung jawab Dito setelah kepergian kedua orang tua mereka untuk selamanya. Adik semata wayangnya itu keluarga satu-satunya yang Dito miliki setelah Kayra dan Dito tidak memiliki orang tua. Dito berjanji akan menjaga sang adik dengan segenap jiwanya. Dito tidak ingin sang adik merasakan sakit hati lagi seperti ini. Bahkan Dito rela mengorbankan hidupnya demi sang adik tercinta. “Maafkan kakak sayang.. Kakak akan membalaskan dendam kepada mereka yang telah menyakiti kamu seperti ini..”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD