Serena memejamkan matanya dengan pelan, namun begitu ia tersadar dari pingsannya itu. Perlahan ia pun duduk dan ia malah dibuat terkejut karena ia terbangun di dalam kamar yang sangat mewah dan luas itu. Di mana ia sekarang? pikirnya bingung. Ruangan itu begitu asing karena ini pertama kalinya ia berada di sana.
Serena terlihat berpikir, masih jelas di ingatannya bahwa tadi ia dikejar oleh pria jahat lalu tak sengaja bertemu dengan Ardi dan ia tak bisa ingat apapun lagi karena ia pingsan. Tapi tunggu, ke mana pemuda itu?
"Sebenarnya aku ini di mana?" ujar Serena lirih.
"Kamu itu sekarang ini lagi ada di kamar kita," ujar sebuah suara berat yang sangat Serena kenali itu.
Serena pun menoleh dan matanya melebar melihat ada Ardi yang sedang duduk dengan santai di sofa yang tak jauh darinya itu.
Melihat pemuda itu sekarang ini bukan rasa rindu yang ia rasakan namun sebaliknya, ia amat kesal dan benci sekali dengannya. Apa lagi sekarang ini tampangnya datar saja padahal pemuda itu sudah membuat hidupnya hancur lebur tak bersisa dan sudah menorehkan luka yang teramat dalam padanya.
"Kamu? Ngapain kamu ada di sini, Ardi? Aku muak banget liat muka kamu itu!" ujar Serena yang belum ingin beranjak dari atas ranjang mewah itu, mungkin ia merasa sangat nyaman?
Ardi kemudian menyeruput secangkir minuman di tangannya dengan santai.
"Jaga bicara kamu itu, Serena!" ucap Ardi dingin.
Serena terbelalak mendengar ucapan Ardi yang terdengar seperti bentakan itu. Jujur saja hatinya terasa sakit karena selama ia dan Ardi menjalin hubungan belum pernah ia mendapatkan bentakan dari pemuda itu karena memang ia diperlakukan dengan sangat baik sebelum akhirnya pemuda itu pergi meninggalkannya.
Serena tertawa sarkas. "Dasar brengs*k! Kamu tau nggak kamu itu laki-laki brengs*k! Kamu ninggalin aku gitu aja yang sampai sekarang aku ini nggak tau alasan kamu apa ninggalin aku dan sekarang kamu malah bawa aku ke sini. Kamu itu maunya apa, Ardi?"
"Satu hal," balas Ardi tenang lalu ia menoleh ke arah Serena.
Serena terlihat bingung. "Apa maksud kamu?"
"Aku butuh kamu untuk jadi istriku, besok pagi kita bakalan nikah," lanjut Ardi dengan tenang dan tanpa ekspresi.
Serena menutup mulutnya tak percaya. Apa yang ia tak salah dengar? Ardi mengatakan pemuda itu ingin menikahinya besok pagi? Apa-apaan itu! protesnya dalam hati. Baiklah, menikah dengan Ardi memang pernah menjadi impian terbesarnya namun itu dulu dan sekarang ini jelas tidak.
"Nikah sama kamu? Aku nggak akan pernah sudi jadi istri kamu, Ardi!" tolak Serena mentah-mentah.
Ardi terdiam sejenak lalu ia mengangguk paham. Ia tersenyum paksa pada Serena lalu ia berdiri dari duduknya.
"Sekarang kamu boleh istirahat dulu, kalau kamu butuh apapun kamu bisa cari aku," ujar Ardi lalu ia pun berlalu pergi tanpa memberi kesempatan untuk Serena bicara.
Serena tampak kesal sekali, kebenciannya pada Ardi semakin bertambah sekarang karena sikap suka seenaknya itu. Ia masih tak mengerti apa yang sudah terjadi padanya, dan mengapa tiba-tiba saja Ardi melamarnya ingin menikahinya besok.
Namun apapun yang terjadi Serena tak akan pernah setuju untuk menikah dengan Ardi, ia akan tetap menolaknya.
Serena kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu. Ia sangat asing dengan tempat itu, sebenarnya ia sedang berada di mana dan mengapa Ardi membawanya ke tempat ini? pikirnya kalut.
Sementara itu
Ardi masuk ke dalam kamar yang bernuansa gelap lalu ia melonggarkan dasinya itu dengan kesal. Ia kemudian berteriak marah sambil membanting semua barang yang ada di atas meja nakas hingga jatuh berantakan dan pecah.
Ardi mengacak-acak rambutnya dengan marah lalu ia mengambil segelas wiski lalu meminumnya hingga habis. Ia kembali berteriak marah lalu ia membanting gelas itu ke lantai hingga pecah. Ia tak takut akan ada orang yang bisa mendengar teriakannya itu karena kamar itu kedap suara.
"Brengs*k!" teriak Ardi mengumpat marah.
"Mereka semua emang brengs*k tapi nggak apa-apa setidaknya sekarang udah ada Serena di samping gua," ujar Ardi lalu ia tertawa penuh kemenangan.
Ardi kemudian berusaha untuk mengontrol emosinya dan berusaha untuk bersikap tenang lagi seperti saat ia belum masuk ke kamar gelap itu.
Ardi menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia kembali memasang wajah datarnya itu lalu merapikan kemejanya kembali sebelum ia keluar dari ruangan itu.
"Dari mana aja kamu, Ardi? Mama dari tadi nyariin kamu!" tegur seorang wanita setengah baya berpakaian modis, Jessica namanya.
Ardi lalu menutup pintu ruangan itu dan menatap ke arah ibunya itu.
"Aku..."
"Lupakan soal itu, sekarang gimana kamu udah dapet perempuan yang sesuai itu?" tanya Jessica.
Ardi mengangguk. "Udah kok, Ma."
Jessica kemudian menatap Ardi dengan tatapan mengintimidasi membuat putranya itu menundukkan kepalanya takut.
"Oke, sekarang di mana perempuan itu? Jangan sampai dia kabur dan bikin malu Mama lagi kayak yang waktu itu. Dan inget satu hal dia itu cuma pengantin pengganti jadi kamu harus ceraikan dia kalau udah tiga bulan nikah paham kamu?"
DEG!
Serena menutup mulutnya mendengar pembicaraan antara Ardi dengan Jessica. Jadi Ardi membawanya ke tempat ini hanya untuk dijadikan sebagai pengantin pengganti saja?