Tiga

1484 Words
Jihan “Hah? Bulan depan? Serius?” tanyaku pada Raia sambil mengoleskan roti dengan selai kacang kesukaanku. “Iya, Ji. Aku juga kaget. Kenapa mendadak gini. Duuh,” jawabnya gusar. Raia kembali mengutak-atik telfon genggamnya. “Bisa aja sih, Rai. Asal mikirn konsepnya juga cepat,” sanggahku. Raia hanya menganggukkan kepalanya setuju. *** “Jadi, James maunya pernikahannya di gelar indoor. Nggak pake acara adat, soalnya resepsinya kali ini untuk semua kalangan. Kalau adat kan, keluarga aja,” jelas Dandi panjang lebar. “Bajunya gimana, Dan?” tanyaku. “Terus nih, Rai, dia tu pengennya pernikahannya ala-ala Taeyang BigBang waktu itu loh, soalnya istrinya kpopers banget,” sambungnya. Aku melihat Raia manggut-manggut paham. Aku mulai sedikit kesal dengan pria ini. Segala pertanyaanku selalu di abaikannya. Padahal seharusnya ia berurusan denganku, bukan dengan Raia. “Dan, harusnya kamu diskusi sama aku, loh. Bukan sama Raia. Raia mana ngerti,” sanggahku. Mereka berhenti, aku melihat Raia sedikit terkesiap. Ia sepertinya baru sadar kalau aku sudah diabaikan sedari tadi. “Oh, ya Ji. Maaf,” ujar Dandi. Setelah mengucapkannya, Dandi malah kembali terfokus pada Raia. Ini benar-benar menjengkelkan. Aku memilih untuk pergi dari mereka dan berjalan menuju balkon. Di saat seperti ini, ada sedikit rasa penyesalan untuk menerima kerja sama dengan Dandi, pria yang kini sangat angkuh itu. Namun untuk menolak tawaran dengan nilai uang tinggi itu sangat tidak mungkin bagiku saat ini.Aku tahu di masa lalu hubungan kami sangat tidak baik, ya karena aku biangnya. Namun, setelah sekian lama tak bisakah dia memaafkan? Toh, aku bukan rivalnya, kan? Jika bukan karena ulah Sadam, aku tidak akan mau bekerja sama dengannya. Sadam menghambur-hamburkan uang milikku sesukanya. Kartu kreditku di bobol, membeli sesuatu atas namaku, entahlah. Semua semakin menjadi-jadi sekarang. Apa mungkin aku terkena karma? Tapi tidak, aku tak mempercayai karma. Dulu, Sadam adalah orang yang membuat karirku melejit. Ia bahkan yang membuat diriku seterkenal sekarang. Namun entah ada angin apa, ia justru menjatuhkanku saat ini. Ia kaya, terkenal, tampan, tetapi ia menunjukkan sifat aslinya hanya kepadaku. Aku pernah berpikir untuk memghentikan saja permainan ini. Namun sayang, ia selalu mengancamku. Ancamannya tidak main-main, itu bisa merusak karir dan nama baikku yang sudah capai-capai aku raih. Meninggalkan Dandi? Well, memang tersisan sedikit penyesalan, namun tak besar. Aku pun tak menyukai dirinya yang seperti itu. Aku bahkan menyukai dia yang dulu. Dari balkon sini, aku memperhatikan gerak-gerik Dandi dan Raia. Entah kenapa kurasa mereka sangat akrab. Padahal sudah bertahun-tahun tak bersua. Raia itu ibarat segelas kopi, lidahnya pahit. Tapi tampilannya manis. Beberapa orang memang menyukai caranya bersikap, berbeda denganku yang sering memprotes etikanya. Tak lama aku melihat Raia beranjak dari tempat duduknya. Aku membalikkan tubuhku agar tak ketahuan sedang memperhatikan mereka. “Ji,” sapa Raia hati-hati. “Ah, ya?” jawabku pura-pura kaget. Aku melihat raut rasa bersalah terlukis di wajahnya. “Maaf, sepertinya Dandi hanya sedikit canggung denganmu.” Raia menyibakkan rambut pendeknya. “Biasa aja kali, Rai. Nggak pa-pa, kok. Lagian aku juga suntuk,” jelasku. “Kedalam lagi, yuk. Ada yang mau di diskusikan dengan kamu.” Raia menarik tanganku. Aku hanya mengikutinya, pasrah. “Dan,” kejut Raia. Aku melihat Raia mengerlingkan matanya pada Dandi. Oh, tuhan rencana apa yang sedang mereka lakukan. “Ji, sorry, ya. Tadi kesannya aku nyuekin kamu,” ujarnya.  Aku menaikkan sebelah alisku tak percaya. Beberapa waktu lalu ia bahkan seperti tak mengharapkan kehadiranku, dan kini dengan mudahnya ia minta maaf? “Nggak pa-pa kok, Dan,” jawabku bohong dintambah dengan senyum seadanya. Aku melirik ke arah Raia yang kembali duduk di sisi kiri Dandi. Apa yang sudah ia katakan pada Dandi hingga pria itu bisa luluh? Aku memutar-mutar otakku ada apa di antara mereka. “Jadi, aku tadi sempat kepikiran untuk mengambil konsep yang mirip dengan perhelatan....”  “Ji?” “Jihan?” “Ah, ya apa?” tanyaku. “Kamu kok malah bengong, sih? Kenapa? Dandi ngomong loh dari tadi,” ujar Raia. Hah? Yang benar saja? Selama itu kah aku termenung hinggak tak mendengar Dandi berbicara? “Sorry, lagi kepikiran sesuatu,” jawabku asal. Aku kemudian duduk di sisi kanan Dandi dan mencoba masuk ke dalam pembahasan mereka. “Gimana? Gimana?” “Jadi gini, karena istrinya James suka sama kemewahan, aku pikir kayanya bagus ambil tema garden indoor gitu, kaya konsep Taeyang juga, hanya saja lebih berwarna aja mungkin,” jelas Dandi panjang lebar. Aku menangguk, memahami ucapannya perlahan. “Nah, terus kan, gaun pengantinnya itu putih lebih ke krem. Bagian d**a aku bikin terbuka, karena dari foto aku lihat istrinya James itu punya d**a yang bagus.” Dandi mencoret-coret sebuah kertas sambil menunjukkannya padaku. Aku kembali mengangguk. Otakku langsung bekerja memikirkan seperti apa desain ruangannya nanti. “Jas punya James, tentu saja bahan yang aku pilih yaitu wol vicuna. Aku pikir itu sangat cocok untuk selera james. Diameter benangnya sebelas mikron, tentu saja jasnya jadi semakin halus.” “Waw, kamu emang pinter banget, yah? Pantesan punya bisnis sendiri,” ujarku padanya. Pemikiran Dandi benar-benar cemerlang menurutku. Dandi terkesiap mendengar ucapanku yang tiba-tiba. Ia terdiam beberapa saat dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Loh, kok malah grogi gitu, sih?” aku tergelak melihat tingkahnya. Seperti abg ygang sedang jatuh cinta. Menggemaskan. “Lagian kamu pake muji-mujk gitu, siapa yang nggak grogi?” sambungnya. “Yeee, biasa aja kali. Lagian jasnya James yang kamu buat nggak semahal Brioni Vanquish II punya kamu,” celetekku. Aku melihat eksprei Dandi yang berubah malu-malu. “Kamu kok bisa tahu aku pakai Brioni?” tanyanya. “Siapa sih yang nggak kenal sama jas yang di jait dengan benang berlapis emas putih? C’mon, Dan. Aku nggak buta fashion!” seruku. Dandi ikut tergelak bersamaku. Rasa kesalku mendadak berubah menjadi sedikit nyaman, seperti kembali ke tiga tahun lalu. Saat aku dan Dandi masih bersama. Tak lama Dandi mengacak-acak rambutku. Jantungku berhenti berdetak seketika. Astaga! Ternyata rasa itu masih ada. Rasa yang sama saat Dandi menyentuh kepalaku dulu, seperti yang ia lakukan sekarang walaupun dengan status yang berbeda. Kami terdiam sesaat. Mata kami bertemu dengan tangan Dandi yang masih menempel di kepalaku. Tiba-tiba saja aku jadi sangat ingin memeluknya. Tiba-tiba saja aku jadi sangat ingin mencumbuinya. Tiba-tiba saja, semuanya terngiang. “Ekhem,” dehamnya. Dandi yang tiba-tiba tersadar bahwa barusan dirinya telah melakukan hak memalukan langsung menarik tangannya dari kepalaku. Aku tergelak, “Lagi bikin mantra supaya aku jatuh cinta lagi, ya?” candaku. “Kalau boleh,” jawabnya singkat. Untuk yang kedua kalinya jantungku berhenti berdetak. PRANG! PRANG! PRANG! Aku dan Dandi saling bertatapan dan menoleh ke arah sumber suara. Sama-sama mata kami melirik ke tempat duduk Raia. “Raia!” pekik kami serempak. Dandi segera keluar dari bangkunya dan menuju dapur dengan tergesa. Aku mengikutinya di belakang. Sebenarnya aku tak terlalu panik, mungkin saja Raia hanya terpeleset atau apa? Tapi ku akui, aku tak sadar kapan Raia pergi dari meja diskusi tadi. Entah karena terlalu asik bersama Dandi, atau dia yang memang mengendap-endap pergi ke dapur dan membuat kegaduhan. Entahlah. Tapi kulihat Dandi sangat panik. Aku berjalan menuju dapur tapi tak mendapati Raia di sana. Pintu lemari bofet yang tertempel di dinding terbuka. “Raia!” pekik Dandi. Aku mengikuti Dandi. Dan tepat di bawah bofet itu Raia tergeletak. Aku menjadi panik dan mencoba untuk membangkitkannya. Betapa terkejutnya aku saat Dandi memutar badan Raia dan mendapati darah segar mengalir dari hidungnya.  “Ji! Tolong kunci mobil aku di atas meja! Kita bawa Raia ke rumah sakit!” Dandi segera mengangkat tubuh Raia yang terkulai lemas. Aku pun segera berlari menuju ruang tengah dan mendapati kunci mobil Dandi di sana. Aku membuka pintu rumahnya dan menekan tombol pada kunci mobil lalu membukakannya untuk Dandi agar bisa meletakkan Raia di dalam. Aku kemudian menutup pintu rumahnya dan segera menuju mobil. Aku mendapati Dandi berada di kursi belakang yang masih memangku Raia. Lalu siapa yang akan membawa mobil? Dia menyuruhku? Aku termenung sesaat. “Ji! Kok bengong, sih? Cepetan bawa Raia ke rumah sakit! Kamu bisa bawa mobil, kan?” nada bicara Dandi meninggi. Mungkin karena gusar atau apa. “Eh, eh, iya, bisa,” jawabku gugup. Aku segera duduk di kursi kemudi dan menyalakan marcedes hitam itu. *** Di perjalanan menuju ke rumah sakit, diam-diam aku melirik ke spion. Entah kenapa aku merasa kesal kembali, kenapa Dandi seperhatian itu pada Raia? Bahkan ia menyuruhku untuk menyupiri mereka. Menjengkelkan. Bercak darah Raia masih terlihat kontras di baju putih polos milik Dandi. Aku melihat tangannya mengelus-elus pipi Raia penuh perhatian. TIIN! Jantungku seakan akan copot barusan. Aku tak melihat bahwa lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. “Hati-hati dong, Ji!” berang Dandi. “Iya aku juga panik, Dan! Ngagak usah bentak-bentak!” jawabku kesal. Aku melihat ekspresi bersalah Dandi dari spion. Tak lama ia mendongakkan kepalanya pada wajah Raia. Astaga! Apa yang akan dia lakukan? Mencumbui Raia? Aku segera menatap jalanan lurus ke depan. Aku tak mau mengotori mataku dengan aksi mereka barusan. Astaga, tapi mengapa hatiku panas begini? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD