Delapan belas

1092 Words
Sadam membawa Jihan pada sebuah rumah mewah. Warna putih dan abu-abu menajdi dominan di rumah ini. Jihan melangkah masuk saat Dandi membukakan pintu untuknya. "Rumah siapa ini, Dam?" tanyanya. "Rumah kamu, rumah kita." Sadam tersenyum sambil melihat-lihat rumahnya sendiri. "Maksud kamu?" tanya Jihan lagi. "Iya, aku beliin rumah ini buat kamu, Ji. Dan ini tempat kita tinggal kalau aku ditinggal Yuliana keluar kota atau keluar negri. "Kamu serius, Dam? Kamu kasih rumah mewah buat aku? Kalau mbak Yuliana tau gimana, Dam?" tanya Jihan lahi. Tapi terlihat sangat jelas kalau wajahnya menyimpan raut bahagia. "Sejak kapan aku becandain kamu, Ji?" tanya Sadam kemabli. Benar, Sadam memang tidak pernah main-main dengan ucapannya selama ini. Sampai detik ini apa yang ia katakan pasti rerwujud dan langsung ia laksanakan. Sadam termasuk laki-laki yang bertanggung jawab dengan ucapannya. Bukan hanya sekedar janji dan janji. Sadam membawa Jihan ke lantai atas tempat kamar mereka berada. Betapa bahagianya Jihan karena kamar itu lebih mirip kamar hotel. Ketika memasuki kamar, ia mendapati kasur dengan ukuran king size dengan bed cover ewarna abu-abu. Sepertinya Sadam menyukain warna itu, dan tentu saja akan menjadi warna favorit Jihan sebentar lagi. Di bagian dalam terdapat kamar mandi yang juga luas. Ada bath up dan shower. Benar-benar kamar mandi impian Jihan sedari dulu. Jihan melihat-lihat isi lemarinya. Dan betapa.kagetnya Jihan karena di dalamnya juga terdapat pakaian wanita. "Itu untuk kamu," ujar Dandi. Tatapan Jihan semakin berkaca-kaca. Ia tak menyangka kalau Sadam sudah menyiapkan semuanya untuknya. Jihan memeluk Dandi erat, "Jangan tinggalin aku, ya?" pinta Jihan. Ia mengakui bajwa dirinya dengan sangat mudah jatuh cinta pada Sadam. Berbeda dengan Dandi yang membutuhkan waktu bernulan-bulan untuk mendapatkan Jihan. Entah karena harta yang di miliki Sadam, entah apa. Yang pasti Jihan benar-benar merasa bahagia saat ia bersama Sadam. "Iya, aku janji." Sadam berjanji pada Jihan. "Bagaimana kalau mbak Yul tau Dam?" tanyanya lagi. "Dia nggak akan tau kalau selama dia pulang aku tetap ada di rumah. Jadi aku harap kamu sabar sampai aku bemar-benar menceraikannya." Jihan sekali lagi hanya mengangguk. Hari sudah mulai larut. Jihan memberi tahu pada Raia bahwa untuk sementara ia akan tinggal bersama Sadam. Dan jika ada pekerjaan, ia akan menghubungi Raia. Raia tentu saja menyetujuinya. *** Sadam membawa Jihan pada sebuah rumah mewah. Warna putih dan abu-abu menajdi dominan di rumah ini. Jihan melangkah masuk saat Dandi membukakan pintu untuknya. "Rumah siapa ini, Dam?" tanyanya. "Rumah kamu, rumah kita." Sadam tersenyum sambil melihat-lihat rumahnya sendiri. "Maksud kamu?" tanya Jihan lagi. "Iya, aku beliin rumah ini buat kamu, Ji. Dan ini tempat kita tinggal kalau aku ditinggal Yuliana keluar kota atau keluar negri. "Kamu serius, Dam? Kamu kasih rumah mewah buat aku? Kalau mbak Yuliana tau gimana, Dam?" tanya Jihan lahi. Tapi terlihat sangat jelas kalau wajahnya menyimpan raut bahagia. "Sejak kapan aku becandain kamu, Ji?" tanya Sadam kemabli. Benar, Sadam memang tidak pernah main-main dengan ucapannya selama ini. Sampai detik ini apa yang ia katakan pasti rerwujud dan langsung ia laksanakan. Sadam termasuk laki-laki yang bertanggung jawab dengan ucapannya. Bukan hanya sekedar janji dan janji. Sadam membawa Jihan ke lantai atas tempat kamar mereka berada. Betapa bahagianya Jihan karena kamar itu lebih mirip kamar hotel. Ketika memasuki kamar, ia mendapati kasur dengan ukuran king size dengan bed cover ewarna abu-abu. Sepertinya Sadam menyukain warna itu, dan tentu saja akan menjadi warna favorit Jihan sebentar lagi. Di bagian dalam terdapat kamar mandi yang juga luas. Ada bath up dan shower. Benar-benar kamar mandi impian Jihan sedari dulu. Jihan melihat-lihat isi lemarinya. Dan betapa.kagetnya Jihan karena di dalamnya juga terdapat pakaian wanita. "Itu untuk kamu," ujar Dandi. Tatapan Jihan semakin berkaca-kaca. Ia tak menyangka kalau Sadam sudah menyiapkan semuanya untuknya. Jihan memeluk Dandi erat, "Jangan tinggalin aku, ya?" pinta Jihan. Ia mengakui bajwa dirinya dengan sangat mudah jatuh cinta pada Sadam. Berbeda dengan Dandi yang membutuhkan waktu bernulan-bulan untuk mendapatkan Jihan. Entah karena harta yang di miliki Sadam, entah apa. Yang pasti Jihan benar-benar merasa bahagia saat ia bersama Sadam. "Iya, aku janji." Sadam berjanji pada Jihan. "Bagaimana kalau mbak Yul tau Dam?" tanyanya lagi. "Dia nggak akan tau kalau selama dia pulang aku tetap ada di rumah. Jadi aku harap kamu sabar sampai aku bemar-benar menceraikannya." Jihan sekali lagi hanya mengangguk. Hari sudah mulai larut. Jihan memberi tahu pada Raia bahwa untuk sementara ia akan tinggal bersama Sadam. Dan jika ada pekerjaan, ia akan menghubungi Raia. Raia tentu saja menyetujuinya. *** Sadam membawa Jihan pada sebuah rumah mewah. Warna putih dan abu-abu menajdi dominan di rumah ini. Jihan melangkah masuk saat Dandi membukakan pintu untuknya. "Rumah siapa ini, Dam?" tanyanya. "Rumah kamu, rumah kita." Sadam tersenyum sambil melihat-lihat rumahnya sendiri. "Maksud kamu?" tanya Jihan lagi. "Iya, aku beliin rumah ini buat kamu, Ji. Dan ini tempat kita tinggal kalau aku ditinggal Yuliana keluar kota atau keluar negri. "Kamu serius, Dam? Kamu kasih rumah mewah buat aku? Kalau mbak Yuliana tau gimana, Dam?" tanya Jihan lahi. Tapi terlihat sangat jelas kalau wajahnya menyimpan raut bahagia. "Sejak kapan aku becandain kamu, Ji?" tanya Sadam kemabli. Benar, Sadam memang tidak pernah main-main dengan ucapannya selama ini. Sampai detik ini apa yang ia katakan pasti rerwujud dan langsung ia laksanakan. Sadam termasuk laki-laki yang bertanggung jawab dengan ucapannya. Bukan hanya sekedar janji dan janji. Sadam membawa Jihan ke lantai atas tempat kamar mereka berada. Betapa bahagianya Jihan karena kamar itu lebih mirip kamar hotel. Ketika memasuki kamar, ia mendapati kasur dengan ukuran king size dengan bed cover ewarna abu-abu. Sepertinya Sadam menyukain warna itu, dan tentu saja akan menjadi warna favorit Jihan sebentar lagi. Di bagian dalam terdapat kamar mandi yang juga luas. Ada bath up dan shower. Benar-benar kamar mandi impian Jihan sedari dulu. Jihan melihat-lihat isi lemarinya. Dan betapa.kagetnya Jihan karena di dalamnya juga terdapat pakaian wanita. "Itu untuk kamu," ujar Dandi. Tatapan Jihan semakin berkaca-kaca. Ia tak menyangka kalau Sadam sudah menyiapkan semuanya untuknya. Jihan memeluk Dandi erat, "Jangan tinggalin aku, ya?" pinta Jihan. Ia mengakui bajwa dirinya dengan sangat mudah jatuh cinta pada Sadam. Berbeda dengan Dandi yang membutuhkan waktu bernulan-bulan untuk mendapatkan Jihan. Entah karena harta yang di miliki Sadam, entah apa. Yang pasti Jihan benar-benar merasa bahagia saat ia bersama Sadam. "Iya, aku janji." Sadam berjanji pada Jihan. "Bagaimana kalau mbak Yul tau Dam?" tanyanya lagi. "Dia nggak akan tau kalau selama dia pulang aku tetap ada di rumah. Jadi aku harap kamu sabar sampai aku bemar-benar menceraikannya." Jihan sekali lagi hanya mengangguk. Hari sudah mulai larut. Jihan memberi tahu pada Raia bahwa untuk sementara ia akan tinggal bersama Sadam. Dan jika ada pekerjaan, ia akan menghubungi Raia. Raia tentu saja menyetujuinya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD