Part 3 Mubarak Alfatha

1928 Words
“Ehem… Assalamu alaikum Yang Mulia Raja,” sapa suara manja yang baru saja masuk dan mengunci pintu ruangan. “Ini sungguh kejutan Peri Aluna. Datang sama siapa keponakan kesayangan om?” tanya Hamizan merentangkan kedua tangannya menyambut keponakan kesayangannya yang sudah seperti putri kandungnya. Putri Derdi itu tetap saja menggemaskan meski usianya sudah 24 tahun. “Aluna kangen banget Om. Aluna kabur dari Bandung dan tidak ada yang tahu kalau Aluna di sini kecuali... Safwan dan Nafisa. Upss, sama Jendral Gib juga.” Aluna mengerjapkan matanya lucu dan Hamizan terkekeh. “Gibran tahu? Itu artinya papi sama mami kamu juga sudah tahu dong?” “Kali ini Jendral Gib dengan sangat terpaksa nurut sama aku karena dia nggak bisa berkutik. Tadi aku ke kantornya Jendral Gib. Habis palakin dia sampai dompetnya kosong. Sebagai papanya, Om nggak akan laporin aku kan?” tanya Aluna yang membuat Hamizan tertawa membayangkan putranya dipalak di kantornya sendiri. Sambil menunjukkan fotonya yang baru saja menghadiri acara ulang tahun Safwan pagi tadi kemudian diantar ke bandara setelah acara selesai. Begitu senang karena keponakan-keponakan sahabatnya itu benar-benar percaya dirinya seorang Barbie hidup. Penampilannya memang mirip seperti boneka Barbie yang belakangan sedang hits. Aluna menceritakan bagaimana dirinya masuk ke lobi kantor Polrestabes dan minta bertemu Gibran. Hamizan tidak henti-hentinya tertawa melihat Aluna dengan ekspresif menirukan putranya yang pasti syok. Ketika Aluna menunjukkan uang di sakunya, Hamizan juga turut membuka dompetnya. Mempersilahkan keponakan manjanya mengambil berapapun yang diinginkannya. Jika dengan Gibran Aluna menguras semuanya, berbeda dengan Hamizan. Aluna hanya mengambil beberapa lembar saja. Katanya cukup untuk makan selama tiga hari sebelum ia pulang ke rumah. “Om tahu? Jendral Gib pasrah waktu aku minta gajinya sebulan plus tunjangannya sekalian. Kalau tidak….” “Kalau tidak apa?” tanyanya. “Jendral Gib bakal jemput Luna di diskotik!” Hamizan kembali tertawa. Ia sangat tahu bagaimana sayang dan protektifnya Gibran pada Aluna. “Kamu tahu berapa total penghasilan Gibran sekarang?” “Paling tiga jutaan," jawab Aluna membuat Hamizan tertawa. Ketika ia memberitahu jumlah yang sebenarnya, keponakannya itu melongo. Salahnya sendiri mencari standar gaji UMR. Lupa jika Gibran seorang PNS Polri. Dalam hati ia senang, jumlahnya jauh dari yang dibayangkannya. “Papi sama mami kamu ada bilang sesuatu yang penting?” tanya Hamizan mencoba mencaritahu keputusan adik iparnya. Seminggu lalu ia sudah membicarakan tentang perjodohan Bara dan Aluna. Meskipun ia tahu Derdi sedang sibuk-sibuknya mengusut kasus besar terkait bandar obat terlarang yang pernah mengicar nyawa Gibran, tapi ia yakin Aluna juga prioritas. “Pernah sih bilang ada yang penting. Tapi Jendral Gib katanya nelpon, eh… Luna langsung dicuekin. Cuma tanya uang jajannya Luna masih ada? Ya masih ada dong. Luna kan bukan tipe cewek yang suka hamburin duit. Sekarang Luna juga lagi nyari kerja. Tunggu interview dari perusahaan keluarganya Safwan,” akunya. “Yakin mau kerja? Katanya mau jadi tuan putri yang cuma minta duit?” Aluna terbahak. Itu memang ucapannya dulu. Tapi seiring bertambah usianya dan belajar hidup mandiri di Jepang bersama Safwan dan Nafisa, tidak bisa ia pungkiri jika mencari uang itu sulit. Selama ini ia selalu dimanja. Tapi Safwan sudah membuka matanya lebar-lebar bahwa ia harus sabar mengumpulkan pundi-pundi. “Om jangan bilang yang lain dulu ya, kalau Luna di sini. Anggap saja ini cuma kunjungan peri. Nggak ada jejaknya. Luna mau tenangin diri dulu, soalnya mami bilang mau jodohin Luna sama calon mantu pilihannya.” Aluna menghela pasrah. Hilang sudah keceriaan di wajahnya. “Kamu sudah tahu mau dijodohkan sama siapa?” tanya Hamizan. “Belum. Aluna putus sama cowok yang pernah Luna kasih tahu. Cowok yang Luna pikir baik kayak Jendral Gib. Tapi kenyataannya dia cowok paling egois yang pernah Luna temui,” ujar Aluna. Tanpa sadar ceritanya mengalir tentang sang mantan dan perbuatan menyebalkannya. Sebulan ini telinganya sakit mendengar sindiran dan olokan dirinya ditinggal nikah mantannya. Katanya kecantikannya hanya karena sihir, sehingga mantan kekasihnya memilih gadis lain yang jujur saja membuat Aluna merasa minder. Mantannya akan menikahi seorang model terkenal. “Om tidak akan biarkan cowok itu gangguin kamu lagi. Dia pasti akan sangat menyesali keputusannya menolak gadis secantik kamu. Kalau dia tahu saingannya kayak pilihan kami, dia mungkin akan mundur teratur," ujar Hamizan. “Kami? Om sudah tahu Luna mau dijodohin sama siapa?” tanya Aluna melotot ketika Hamizan tersenyum. Tidak tahu saja gadis itu jika dialah yang merekomendasikan calon suami untuknya. “Apa sih yang om tidak tahu kalau itu untuk kebaikan kamu? Om bakal jadi orang kepo kayak kamu. Tapi om tidak mau kamu menerima dia karena terpaksa. Kenal saja dulu. Sebenarnya om yang mengusulkan dia sama orang tua kamu," ujar Hamizan dalam hati karena yakin jika keponakannya itu akan setuju. Pertanyaannya, bagaimana mempertemukan keduanya? Ia ingin mereka saling mengenal dan yakin dengan niat baik perjodohan ini. “Dia lebih keren nggak dari Jendral Gib?” tanya Aluna mulai penasaran. “Kata mami kamu sih, sebelas dua belas. Susah dipilih karena kerennya beda. Dia cerdas, jadi sangat memenuhi standar kamu yang pengen punya suami cerdas. Biar nanti punya anak nggak dibilang bloon sama Gibran.” Aluna kembali tertawa. Omnya sangat tahu tipenya. Dia tidak akan membiarkan kakak sepupunya itu selalu meledeknya. Alasan ingin punya suami cerdas juga karena ingin ada yang lebih unggul membelanya saat melawan Gibran. “Jadi kamu mau menetap di sini sekarang?” tanya Hamizan berharap. “Iya Om. Luna nggak mau balik ke Bandung. Selain cowok nyebelin itu, sepupu Luna dari saudara tirinya mami suka gangguin Luna. Aduin Luna yang nggak-nggak terus sama eyang. Om jangan bilang sama papi sama mami. Dari dulu kan eyang nggak begitu suka sama papi," pintanya. “Biarkan saja. Nanti juga mereka lelah sendiri. Apalagi kalau kamu sudah menikah dan hidup bahagia. Kalian akan selalu jadi prioritas kami. Kata mami kamu si kembar juga bakal nyusul pindah ke sini. Tapi tunggu ujian semester berakhir dan proses pindahnya diurus. Om sejujurnya senang, kalian semua akan tinggal sama-sama di sini. Tidak terpisah-pisah lagi," ungkapnya tersenyum. “Terus, siapa yang mau dijodohin sama aku? Bukan Safwan kan?” tanya Aluna langsung terkesiap melihat senyum di wajah Hamizan. Namun langsung bernapas lega ketika omnya menggelengkan kepala. “Mubarak Alfatha.” “Mubarak Alfatha, Mubarak Alfa… tha,” ulang Aluna. Entah kenapa ia suka mendengar nama itu. Tanpa sadar tangan kanannya bergerak memegang dadanya. Ada sesuatu yang aneh dirasakannya namun sulit untuk ia jelaskan. “Kamu sakit?” Hamizan menegakkan punggungnya dari sandaran sofa. “Nggak Om, cuma baru keingat sesuatu. Luna belum beli hadiah buat Jendral Gib. Dia ulang tahun minggu lalu,” ujar Aluna berusaha mengelak. Tidak mungkin ia mengatakan jika saat ini ia butuh dokter jantung. “Om pikir kamu butuh dokter jantung.” Aluna membelalak sampai berjengit dari sofa saking kagetnya. Omnya jadi menyeramkan dengan menebak isi pikirannya. Baru saja dalam benaknya mengungkapkan jika butuh dokter jantung. Detak jantungnya tidak normal setelah mendengar nama laki-laki yang ingin dijodohkan dengannya. Bisa turun harga dirinya jika ada yang tahu. “Oh ya, kamu bisa ketemu dia di kampus. Besok lusa dia ada kelas gantikan om mengajar. Kuliah umum tentang kesehatan jantung. Om ada jadwal operasi penting. Orangnya ganteng, kamu bakal punya banyak saingan. Tapi jangan langsung bilang kalau kamu mau dijodohin sama dia. Meskipun orang tuanya sudah setuju kamu jadi menantu mereka, tapi belum tentu juga kamu mau,” ujarnya melirik Aluna. “Jadi dia dosen?” “Iya, dosen muda, ngajarnya mahasiswa S1. Dia idola baru di kampus,” ujar Hamizan yang membuat Aluna mencibir. “Dia juga seorang dokter spesialis BTKV seperti om,” tambahnya dalam hati. *** Aluna duduk di kursi taman sambil menghitung uang palak dari Gibran. Ia sudah bersumpah tidak akan kembali ke rumah eyangnya sebelum tante dan sepupunya yang menyebalkan itu minta maaf karena sudah menghina papi dan maminya. Aluna hanya berharap jika kedua orang tuanya tidak tahu. Uang palak dari Gibran sebenarnya ingin ia kirimkan pada adik kembarnya. Ia sudah meminta Faiz dan Raiz agar tidak makan malam di rumah itu. Makan di luar saja sepulang bimbel. Ia tidak ingin kedua adiknya terus mendengarkan ucapan buruk mereka mengenai keluarganya. Rasanya sakit sekali saat mendengar sepupunya menyebut dirinya pembawa sial. Wajah cantiknya selalu saja dianggap sihir dari nenek sihir. Mereka saja yang tidak mau mengakui jika dirinya memang cantik. Safwan benar, tidak perlu mempedulikan mereka lagi. Sejak tantenya bercerai dengan suaminya dan kembali ke rumah eyang mereka, Aluna selalu saja jadi sasaran kebencian. Terlebih ketika kekasih dari sepupunya minta putus. Apa salahnya jika kekasih sepupunya itu tertarik padanya? Ia sama sekali tidak pernah menggoda seseorang. Saat tante dan sepupunya tahu ia putus dengan laki-laki yang beberapa bulan ini menjadi pacarnya, mereka tertawa bahagia. Sebenarnya ia juga bahagia karena ia bisa lepas dari laki-laki kurang ajar itu. Jika Gibran sampai tahu ia pacaran dengan orang lain setelah putus dari Safwan, maka bisa tamat riwayatnya. Aluna mengakui jika saat ini sama saja ia melarikan diri. Tapi tidak tahan terus dihina saat dirinya tidak salah. Ia tidak pernah mengusik siapapun, tapi mereka malah mengganggunya. Mungkin perjodohan yang beberapa waktu lalu dikatakan maminya sudah menjadi jalan keluar untuknya. Apa salahnya dijodohkan? Apalagi jika maminya suka, pasti papinya juga akan suka. Terlebih tadi melihat raut wajah omnya. Hamizan sepertinya mengenal dengan baik sosok laki-laki yang akan dijodohkan dengannya. Nama Mubarak Alfatha kembali menggema dan membuatnya kembali merasakan perasaan yang sama. Berdebar. Dering ponsel membuyarkan lamunan Aluna. Telpon dari Safwan. Sahabatnya itu pasti baru menyadari jika pouch make up miliknya ketinggalan. Kartu atm miliknya ada di dalam sana. Rasanya senang sekali mendengar mantan rasa sahabatnya itu panik menanyakan kondisinya seolah ia baru saja diculik. “Aku baik-baik saja Saf. Aku sampai di bandara langsung ketemu Nafisa. Aku belum mau balik ke rumah. Barang-barang aku tolong kirimin besok ya Saf, aku nggak ada baju ganti. Aku titip si duo itu dulu sama kamu. Kalau duit jajannya kurang… JANGAN PELIT! Nanti aku ganti Saf...” kata Aluna yang tadinya bicara dengan tegas kini melemah dengan nada membujuk. “Yang penting kamu baik-baik saja sekarang. Mereka berdua bukan bayi yang bakal bikin aku repot. Jangan lupa interview kamu lusa. Pesan aku itu dibaca Neng Peri! Jangan dibiarin numpuk!” “Kamu hawatir gitu, nanti ada yang denger bilangnya kamu nggak bisa move on dari aku Saf.” “Jangan geer!” “Ya aku kan cantik? Cantik karena sihir,” ujarnya sendu. “Kamu jangan mikir nenek sihir lagi sama anaknya! Mereka pasti bakal rinduin kamu dan nyesel udah gangguin kamu.” “Makasih ya, Saf. Aku janji nggak bakal nangis lagi. Btw, aku mau bagi satu rahasia besar. Aku bakal dijodohin Saf. Aku setuju mau dijodohin. Kamu jangan bunuh diri ya?” candanya. “Kamu kenapa tiba-tiba mau terima perjodohan? Karena mantan kamu tiba-tiba tunangan?” “Nggak kok Saf, aku suka dengar namanya. Bikin aku berdebar. Jadi nggak sabar pengen ketemu,” ungkapnya antusias. “Jangan jadi cewek murahan Lun! Jual mahal dikit! Sejak kapan kamu penasaran sama cowok?” “Iya juga ya? Kok aku penasaran sama dia? Padahal baru tahu nama doang?” “Argghhh… Ya ampun! Kamu memang kebangetan! Pantas saja Bang Gibran protektif tingkat DEVIL sama kamu. Sudah, aku mau mandi. Gerah ngomong sama kamu. Bisa-bisa rambutku rontok semua.” Aluna terkikik geli karena mendengar sahabatnya menggeram kesal. “Paling kamu mau konser di kamar mandi kan Saf, terus nyanyiin lagunya teh Rossa. Kumenangis… membayangkan, betapa kejamnya dirimu atas diriku. Ingat Saf, namaku Aluna. Mantan terindah kamu. Bye Saf!” Klik! “Mubarak Alfatha… namanya aku suka, gimana orangnya ya? Aku bakal suka sama dia nggak ya?” batin Aluna kembali memegang dadanya yang berdebar. “Jadi nama kamu Aluna?” "Iya. Kamu pasien di sini?" "Iya. Pasien jantung." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD