One Step Closer

1496 Words
Cleo mengetuk ruangan Pak Rudy dengan hati-hati. “Masuk!” ucap Pak Rudy. “Permisi, Pak.” Cleo masuk ke ruangan bosnya dengan ketakutan. Belum sempat Pak Rudy mempersilakan duduk, seseorang mengetuk pintu ruangannya. “Ya, masuk!” Pak Rudy mempersilakan orang itu masuk. “Selamat pagi menjelang siang, Pak.” Seseorang memberi salam kepada Pak Rudy. “Pak Devan, silakan masuk!” kata Pak Rudy ramah. Cleo langsung menoleh ke belakang, ke arah pintu. “Ngapain orang itu ke sini?” batinnya. “Mohon maaf mengganggu waktunya, Pak.” “Ah tidak kok. Silakan duduk.” Pak Rudy mempersilakan Devan duduk. Cleo berdiri memandang Devan yang berjalan ke arah tempat duduk. Bahkan sampai Devan duduk pun Cleo masih melihatnya. “Kenapa kamu diam saja, Cleo? Silakan duduk juga!” Pak Rudy mempersilakan Cleo duduk di samping Devan. “Oh iya, baik, Pak.” Cleo pun duduk dengan cemas. “Sepertinya Pak Rudy ada obrolan serius dengan Bu Cleo ya? Apakah saya keluar dulu, Pak?” “Ah tidak, kok. Saya hanya ingin menanyakan perihal keterlambatan Cleo. Tapi tidak apa-apa, silakan Pak Devan menyampaikan kepentingannya dulu. Tampaknya butuh berbicara empat mata ya? Pak Rudy bertanya pada Devan. “Saya lebih baik keluar dulu, Pak,” ucap Cleo. “Tidak perlu buru-buru, Bu Cleo. Anda di sini saja dulu. Saya ingin membicarakan soal Anda kepada Pak Rudy,” tukas Devan dengan santai. “Maaf, Pak, soal apa ya?” Cleo mengernyitkan dahinya. “Begini, Pak Rudy,” Devan memulai pembicaraan. “Kemarin, saya mengalami musibah. Seseorang menusuk saya. Dan Bu Cleo ini yang menyelamatkan saya. Karena kejadian itu, Bu Cleo terlibat urusan dengan polisi. Oleh sebab itu, hari ini beliau datang terlambat.” Devan menjelaskan permasalahannya. “Penusukan? Pak Devan mengalami penusukan?” Pak Rudy heran. “Benar, Pak. Bu Cleo ini datang tepat waktu sehingga nyawa saya bisa tertolong.” “Bapak kenapa tidak istirahat saja?” tanya Pak Rudy panik. “Saya turut prihatin ya, Pak.” “Lukanya tidak parah, Pak. Saya sudah bisa beraktivitas. Terima kasih, Pak.” Devan tersenyum. Cleo menunduk dan terdiam. “Cleo, terima kasih kamu sudah menyelamatkan Pak Devan. Saya tidak jadi marah. Justru saya sangat bangga sama kamu.” Pak Rudy memuji Cleo. Cleo hanya bisa tersenyum. Setelah itu, Cleo dan Devan keluar bersamaan dari ruangan Pak Rudy. “Kamu kenapa masih cemberut? Aku sudah menebus kesalahanku tadi.” Kata Devan. “Terima kasih,” ucap Cleo ketus. “Tapi aku tadi jujur lo. Kamu memang sangat cantik.” Devan mengulang pujiannya pada Cleo. “Lebih baik rayuan gombal Anda itu disimpan untuk perempuan lain yang mudah digoda. Maaf, saya bukan perempuan yang mudah termakan omong kosong.” Cleo pergi meninggalkan Devan. Dalam hati Cleo bertanya-tanya kenapa tiba-tiba ada Devan di kantornya dan Pak Rudy tampak sangat menghormatinya. “Kamu kena marah Pak Rudy?” tanya Dewi, sahabat Cleo. “Gak kok.” “Mana mungkin? Jelas-jelas kamu terlambat lumayan lama lo tadi.” Dewi heran. “Beneran. Pak Rudy gak marah,” tegas Cleo. “Memang benar-benar anak emas deh.” Dewi meledek Cleo sambil cekikian. “Apaan sih?” “Btw, kamu udah tahu kan ada karyawan baru yang cakep banget tadi?” Dewi bertanya. “Yang mana?” Cleo berpura-pura tidak tahu. Padahal dia sudah bisa menebak bahwa yang dimaksud Dewi adalah Devan. “Tadi, yang di samping Pak Rudy. Namanya Devan.” “Oh,” seru Cleo singkat. Dia malas untuk menanggapi Dewi. “Hai. Cleo ya?” Seseorang memanggilnya. Cleo menoleh ke arah kiri. Dia lagi, dia lagi. “Ada perlu apa ya?” Cleo berkata dengan ketus. Devan mengulurkan tangan. “Perkenalkan, saya Devan.” Devan mengajak Cleo bersalaman. “Kita kan sudah kenal.” Cleo mengabaikan tangan Devan yang terulur. Seketika semua mata tertuju pada Cleo dan Devan. Semua orang yang ada di ruangan itu, terutama para wanita menatap dengan tatapan heran tak percaya. Tidak terkecuali Dewi. Cleo merasa tidak nyaman dengan situasi yang sedang dialaminya. Cepat-cepat dia membalas jabatan tangan Devan. “Saya Cleo. Salam kenal.” Cleo segera melepaskan jabatan tangannya. “Pak Devan ada perlu dengan saya?” “Panggil saya Devan saja. Saya junior Anda di sini.” Cleo menghela napas panjang. Sesak rasanya di d**a. “Baiklah, Devan ada perlu apa?” “Karena saya pegawai baru, bos meminta saya untuk menjadi asisten Bu Cleo. Mohon bantuannya untuk mengajari saya terkait pekerjaan yang harus saya kerjakan.” “Apa? Kenapa harus saya?” Cleo bertanya degan nada tinggi. Di saat yang bersamaan, dia menoleh ke sekeliling. Semua mata masih tertuju padanya. Beberapa wanita menatapnya dengan penuh kebencian dan iri. Devan dengan cepat membaca situasi. Dia tahu bahwa Cleo tidak nyaman dengan kondisi itu. “Mohon maaf, Bu Cleo. Bukannya saya lancang. Namun, ini adalah perintah dari atasan. Saya membawa surat dari bos untuk penugasan ini.” Devan menyerahkan selembar kertas kepada Cleo. Cleo menerima kertas itu dan membacanya dengan saksama. Lalu, dia seperti kehilangan kekuatan. Ingin rasanya pingsan saja. Di dalam surat itu tertulis dengan jelas bahwa Cleo ditugaskan untuk menjadi pembimbing Devan. Surat itu resmi dan langsung ditandatangani oleh atasannya. Kaki Cleo terasa tanpa otot. Namun, dia mencoba untuk tetap santai. “Baik, saya sudah membaca surat itu. Anda boleh bekerja di bawah pengawasan saya. Tapi ingat ya, tolong hargai saya sebagai senior Anda. Jaga sikap dan jangan mencoba untuk memasuki ranah privasi saya.” “Baik, siap, Bu.” “Kalau begitu, silakan duduk di samping saya. Saya akan mengajarkan beberapa hal yang perlu Anda ketahui.” Pada saat itu, Cleo tidak lagi melihat orang-orang di sekitarnya. Dia mencoba untuk tetap fokus dalam mengendalikan dirinya meskipun entah kenapa jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Bahkan dia takut Devan bisa mendengar degupan jantungnya sebab Devan duduk berada di sampingnya. Jarak mereka hanya lima belas centimeter. Devan merasakan hal yang sama. Dia pun sangat gemetar dan jantungnya seperti tidak dapat dikondisikan. Ini melebihi ekspektasi yang dia bayangkan. Dia sama sekali tidak mengira Cleo akan menyuruhnya duduk tepat di sampingnya. Dia membayangkan Cleo akan memberikan tugas kepadanya dan hanya melakukan pengecekan secara berkala. Namun, kejadian ini benar-benar di luar imajinasinya. Dia bisa merasakan duduk tepat di samping wanita yang telah berhasil mengambil hatinya. Aroma parfum s*****l tercium dengan jelas. Hal itu sempat melambungkan imajinasi Devan ke arah yang s*****l. “Devan, silakan dilihat dengan baik di layar komputer dan dengarkan penjelasan dengan baik ya.” Cleo mencoba menjadi senior yang profesional. Dia tidak ingin mencampuradukkan pengalaman pribadinya dengan pekerjaan. Dia ingin menjalankan tugas dari atasannya dengan baik. Meski demikian, Cleo masih bertanya-tanya kenapa semua ini terjadi. Seorang CEO tampan dan tajir melintir ada di sampingnya. Meminta tolong padanya. Cleo menjelaskan semua pekerjaan dengan detail kepada Devan. Devan berakting dengan sangat baik. Dia berperan sebagai junior yang seolah belum tahu apa-apa soal pekerjaannya. Dia menyimak semua penjelasan Cleo dengan saksama. Sesekali dia berakting mengajukan pertanyaan pada Cleo terkait hal-hal yang sulit. Cleo dengan sabar membimbing Devan. Di sudut lain, Santi dan Reva tampak berbisik-bisik. “Enak banget tuh jadi Cleo. Giliran ada yang cakep aja dia yang kena jatahnya. Lah kita ini apaan?” kata Santi julid. “Apakah pangeran tampan hanya untuk putri jelita? Apa kabar kita yang hanya rakyat jelata?” Santi tertawa ngakak mendengar penuturan Reva. “Kita ini rakyat jelata yang nantinya jadi Cinderella.” Mereka akhirnya tertawa bersama. Di sudut lainnya, Dewi masih bertanya-tanya. “Kok bisa ya? Kok bisa sih? Gimana-gimana? Wah enak banget tuh si Cleo. Kenapa gak aku saja, Ya Tuhan?” Dewi masih berperang dengan perasaannya. Dia merasa Cleo sangat beruntung bisa menjadi senior yang membimbing Devan. Padahal kalau dipikir, Dewi lebih senior daripada Cleo. Dia lebih dulu masuk ke kantor itu. “Hmmm rezeki memang tidak ke mana ya. Mungkin ini memang rezekinya Cleo. Beruntung sekali anak itu.” Cleo sangat serius dalam mengajari Devan. “Bu, mohon maaf, jangan terlalu kaku. Saya malah tidak paham dengan penjelasan Bu Cleo kalau situasinya kaku begini.” “Maksudnya bagaimana ya? Maksud Anda penjelasan saya kurang jelas?” Cleo agak tersulut emosinya. “Bukan begitu, Bu. Mohon maaf. Maksud saya ibu yang santai. Rileks saja.” “Dari tadi saya santai kok.” “Dasar perempuan gengsian. Jelas-jelas dari tadi tegang kok bilang nyantai. Tapi makin bikin gemes deh.” Devan membatin saja sambil menahan tertawa. Sementara itu, Cleo juga membatin. “Duh, dasar aku gak bisa menyembunyikan perasaan. Masih kelihatan aja kalau gugup. Duh, malu deh. Malu banget. Tuhan, rasanya ingin keluar saja dari pekerjaan ini.” Devan tidak sengaja menyentuh tangan Cleo. “Lama-lama Anda benar-benar kurang ajar ya sama saya.” Amarah Cleo tiba-tiba memuncak. “Maaf, Bu. Saya benar-benar tidak sengaja kali ini.” Devan menjelaskan. “Saya akan laporkan kamu ke Pak Rudy.” “Jangan, Bu, saya mohon.” Devan memohon kepada Cleo. Cleo terpana dengan ketampanan Devan yang memiliki raut tegas, tapi lembut. Cleo segera menepis lamunannya. “Saya tidak peduli.” Cleo pun bangkit dari tempat duduknya untuk menuju ke ruangan Pak Rudy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD