Cantik sekali. Hal itu yang pertama kali Luna pikirkan saat ia melihat dirinya sendiri di kaca, lengkap dengan make up, gaun, sepatu, tas dan segala pernak-pernik lain yang terpasang pada tubuhnya.
"Nah, selesai. Kau cantik sekali." Sang make up artis yang Luna ketahui bernama Eliora memuji wajah Luna yang jadi luar biasa cantik karena kerja kerasnya. "Aku sangat mengerti kenapa Mr. Alexandriöu bisa jatuh cinta padamu."
Perkataan itu membuat Luna tersipu malu meski pada kenyataannya tidak demikian. Zero dan dia tidak saling mencintai, well, tapi biarlah orang mau berkata apa. Luna tidak peduli. Dia hanya harus berperan dengan baik malam ini untuk membalas dendam Zero.
Mereka masih berada di hotel saat jam sudah menunjuk pukul empat. Konsernya dimulai pukul enam, dan perjalanan mereka hanya membutuhkan tiga puluh menit.
Sisa waktu yang Luna punya ia gunakan untuk belajar menggunakan heels. Jangan salahkan dia karena tidak bisa memakai sepatu dengan hak tinggi ini, karena seumur-umur baru kali ini Luna memakainya.
Ia sudah belajar berjalan sejak semalam, dan alhasil kakinya sakit semua karena terpelecok berkali-kali. Untungnya tidak sampai terkilir dan membengkak, jadi ia masih bisa berjalan dengan baik.
Melihat Luna yang kesulitan berjalan membuat Eliora membantunya. Wanita yang umurnya jauh lebih tua dari Luna itu mengajarkannya trik agar bisa seimbang dan tak terjatuh.
"Sudah?" Perkataan Zero yang tiba-tiba datang nyaris membuat Luna kehilangan keseimbangan, untungnya dengan sigap Eliora memegang tangannya.
"Ya, sudah, Mr. Alexandriöu. Mrs. Alexandriö sangat cantik, bukan?" Eliora menjawab pernyataan Zero alih-alih Luna. Membuat Zero tanpa sadar menaikkan alisnya sebelah, menatap Luna dengan pandangan menilai.
Gadis itu merasa tubuhnya di-scan saat Zero terus memandanginya lekat, membuat jantungnya terasa ingin lepas dari rongga. Bukan karena jatuh cinta, melainkan ia gugup. Akankah Zero puas dengan penampilannya sekarang?
"Beautiful." Kata itu diucapkan dengan sangat kecil, bahkan hanya bisa didengar oleh Zero sendiri. Ia membalikkan tubuh kemudian, meninggalkan kedua wanita itu yang masih berharap akan jawaban dengan raut wajah bingung.
"Well, sepertinya dia terlalu malu." Eliora tertawa, berusaha membuat suasana mencair.
"Yeah, jangan terlalu pedulikan." Luna ikut tertawa, seolah mereka membahas hal yang lucu. Namun, di dalam hati, dia masih bertanya-tanya, Apa Zero sungguh tidak puas dengan penampilannya malam ini?
***
"Mau kubantu?" Perkataan itu terdengar saat Luna mendongak dan menemukan Zero telah berdiri di depan pintu mobil, mengulurkan tangannya untuk membantu Luna berdiri. "Kau belum terbiasa menggunakan heels, bukan?"
Luna menarik senyumnya lalu menerima uluran tangan Zero, ia berdiri dengan posisi yang kurang seimbang, saat lelaki itu tiba-tiba menarik pinggangnya. Mengikis jarak di antara mereka.
"Aku akan memelukmu seperti ini dan kita melangkah bersama-sama. Jangan takut terjatuh karena aku akan menjagamu." Bisikkan itu terdengar menenangkan dan meyakinkan, membuat Luna tanpa sadar mengangguk. Percaya pada Zero.
Mereka berdua melangkah masuk ke dalam dan duduk sesuai dengan tiket yang Elizabeth beri. Di luar dugaan, orang yang menonton justru sangat banyak, bahkan tempat ini nyaris penuh ketika jam sudah menunjuk pukul enam.
Well, Luna pikir hanya ada segelintir orang di bumi ini yang menyukai musik klasik, karena sesungguhnya Luna mengantuk setiap kali mendengarkannya. Namun, dugaannya itu ditepis telak.
"Ramai sekali, kenapa setiap tempat begini?" Zero menggerutu kala menyadari situasi yang ada. Dia sungguh benci tempat seperti ini, apa tidak ada ruang VIP yang bisa ia sewa?
"Namanya konser. Kalau kau mau sepi, nonton saja film di rumah sendiri," balas Luna tanpa sadar. Setelah itu, ia kembali merutuki dirinya sendiri karena terus menjawab perkataan Zero. Beruntung, si lelaki bermata abu tidak mendengar perkataannya.
Konser dimulai, Luna memperhatikan dengan saksama. Kala Elizabeth muncul di depan panggung, semua orang berteriak riuh. Seolah ia adalah sosok yang dinanti.
Dia sepopuler itu? batin Luna bertanya-tanya.
Sedangkan Zero terdiam di tempat. Pandangannya mengunci Elizabeth, setiap gerakan yang gadis itu lakukan tidak lepas dari matanya.
Suasana hening sesaat kemudian, seorang pria dengan balutan kemeja rapi masuk. Mendampingi Elizabeth yang sungguh terlihat cantik dengan gaun sederhana berwarna pink pastel dengan panjang semata kaki.
Mereka sempat beradu pandang sejenak, dan saling mengangguk bersama. Seolah keduanya baru saja berkomunikasi tanpa kata.
Melihat hal itu membuat Zero menggepalkan tangan, itu Martin. Sang pianis yang membuat Elizabeth meninggalkan Zero, kala ia bilang ia menemukan sang cinta sejati.
Mereka melakukan konser berdua dan gadis tengil itu sengaja mengundang Zero.
Hell! Apa maksudnya?
Elizabeth pikir dia akan cemburu?
No, big no.
Sejak awal Zero memang tidak menyimpan rasa padanya. Hanya saja, rasa benci itu tumbuh kala Zero sadar, dia ditinggalkan demi orang lain.
Zero benci ditinggalkan oleh seseorang. Karena itu ia melampiaskan semua kemarahan pada Elizabeth, dan sekarang ... gadis itu mau membuktikan bahwa ia sudah bahagia, karena telah menggapai mimpi sekaligus cintanya?
Menggelikan sekali.
"Bukankah mereka tampak serasi?" Luna berbisik di telinga Zero kala melihat Elizabeth dan sang pianis, yang dibalas dengan tatapan horor dari lelaki itu. Takut, Luna mengigit bibir bawahnya dan mengalihkan pandangan. Tidak berkata apa-apa lagi.
Konser dimulai ketika sang pria menekan tuts piano dengan jari-jarinya. Alunan musik lembut yang membuat Luna terbuai. Selang tidak lama Elizabeth menyusul dengan menggesek sang biola. Menciptakan harmoni yang indah dengan perpaduan di antara keduanya.
Luna terpesona, dia tidak pernah tahu musik klasik bisa seindah ini. Permainan itu terasa penuh emosi dan perasaan, membuat semua penonton terkagum.
Bravo! Mereka membawakan sebuah penampilan yang luar biasa.
Zero pun demikian, lelaki itu menarik senyumannya tanpa sadar kala Elizabeth ternyata sudah mampu membuktikan padanya ... kalau ia telah berubah menjadi sosok yang berbeda. Meski awalnya hal itu terasa menggelikan dan mustahil untuk terjadi.
Seketika, kebencian itu menguap begitu saja.
Sejak awal Zero terlalu menganggap remeh Elizabeth dan berpikir gadis itu tak bisa tanpanya, karena itu harga dirinya begitu terluka saat tahu Elizabeth telah menemukan seseorang yang lain yang bisa ia jadikan sandaran dan meninggalkan Zero sendiri.
Namun, setelah menyaksikan penampilan tadi, entah ke mana kebencian Zero pergi karena yang tersisa adalah rasa kelegaan dan bangga kala Elizabeth ternyata bisa tumbuh menjadi sosok yang berbeda, meski tanpa dirinya.
"Penampilan yang luar biasa!" seru Luna sambil bertepuk tangan bersama penonton lain.
Suasana riuh dan respons yang bagus nyaris membuat Elizabeth nyaris menitikkan air mata, dia bahkan tidak menyangka kalau Zero benar-benar datang.
Dia menyayangi lelaki itu, sungguh. Namun, dia lebih mencintai Martin. Zero adalah bagian dari hidup Elizabeth yang tak akan pernah ia lupakan. Ia masih merasa bersalah karena meninggalkan Zero demi lelaki lain, padahal ia tahu Zero benci ditinggalkan.
Tangisan Elizabeth kemudian pecah kala ia melihat Zero berdiri di tempatnya dan ikut bertepuk tangan bersama penonton lain.
Sosok yang dingin itu telah berubah kembali ... menjadi Zero yang dulu Elizabeth kenal.