Luna menganga saat dirinya sampai di depan pagar mewah yang tampak sangat tinggi setelah perjalanan panjang dari panti. Seseorang dengan pakaian jas rapi menjemputnya, katanya dia adalah suruhan Zero.
Sesungguhnya, ia masih tidak mengerti alasan lelaki kaya seperti Zero mau mengadopsi gadis miskin seperti Luna. Apa untungnya? Dengan kekayaan yang luar biasa seperti ini, Luna yakin dia bisa memiliki siapa pun yang dia mau.
Akan tetapi, kenapa harus Luna?
Kenapa dia tertarik menikahi gadis yang masih sekolah?
Apa dia p*****l?
Berbagai pertanyaan terus terngiang di kepala Luna sampai mereka memasuki halaman. Luna dibuat kagum saat mereka harus melintasi jalanan panjang untuk sampai di depan rumah. Tempat ini benar-benar indah, membuat Luna serasa tak bisa percaya kalau ada area yang seindah ini di kota Jakarta.
"Kita sudah sampai, Nyonya."
Perkataan itu keluar dari mulut supir yang mengantar Luna. Dipanggil dengan 'Nyonya' membuat Luna kebingungan sendiri. Pasalnya, sampai dengan saat ini dia masih menggenakan seragam sekolah, dan tentunya panggilan itu terasa canggung untuknya.
"Jangan panggil aku Nyonya, aku belum menikah dengan siapa pun," sela Luna pada supir itu, tetapi pegawai Zero mengabaikannya dan malah membukakan Luna pintu.
"Silakan keluar, Nyonya."
Luna menghela napas. Situasi apa ini? Dia merasa canggung sekaligus tak nyaman.
"Terima kasih," kata Luna dengan sopan saat supir Zero membawakan barangnya dan menuntun Luna masuk ke dalam rumah.
Gadis itu belum selesai dengan rasa kagumnya dengan rumah yang lebih mirip dengan istana ini, saat sekelompok pelayan dengan balutan seragam serupa datang menyapanya.
"Selamat datang, Nyonya Luna!" Mereka semua menyapa dan berbungkuk ke arah Luna, membuat Luna salah tingkah hingga ikut membungkukan badan.
"Halo ...," sapa Luna ramah dengan senyumnya. Dia merasa sedikit lebih senang dengan pelayan-pelayan ini daripada dengan supir yang terus mengabaikannya sedaritadi. Meski tidak bisa Luna pungkiri, dia lagi-lagi kagum karena rumah ini mempekerjakan sangat banyak pelayan, bahkan jumlahnya melebihi penghuni panti asuhan Matahari, tempat tinggal Luna sebelumnya.
Para pelayan itu hanya berkumpul sebentar, karena setelahnya mereka langsung berpencar. Memberi jalan kepada Luna untuk lewat.
Luna ingin berbincang dengan mereka, tetapi mereka semua menundukkan wajah dan berbungkuk, membuat Luna mengurungkan niatnya.
Gadis itu berjalan masuk dengan perasaan yang campur aduk ber
sama supirnya tadi. Di dalam perjalanan, dia terus mengagumi rumah milik Zero yang sangat-sangat indah. Dekorasinya memang tidak banyak, tetapi kesan mewahnya benar-benar kental. Nuansa d******i putih membuat Luna merasa nyaman, seperti sedang di surga.
"Naiklah ke lantai atas, kau akan menemukan Mr. Zero di kamar paling ujung." Supir itu berkata pada Luna, dan Luna hanya mengangguk paham.
"Koperku?" Luna bertanya dengan raut wajah bingung saat lelaki itu pergi dengan membawa kopernya.
"Aku yang akan menyimpannya," balas supir itu dengan wajah datarnya lalu berlalu meninggalkan Luna.
Luna terdiam, dia bingung sekaligus heran dengan perilaku supir tadi yang terkesan terlalu dingin padanya.
"Apa dia memang selalu seperti itu?" tanya Luna pada dirinya sendiri.
Gadis itu memutuskan untuk mengabaikan orang yang dianggapnya tak penting, lalu mengedarkan pandangan. Menikmati nuansa indah dari rumah yang luar biasa ini.
Membayangkan akan tinggal di tempat yang mirip dengan surga ini membuat Luna merasa senang sekaligus ngeri. Senang karena tempat ini begitu indah, ngeri karena ... dia mungkin tinggal bersama p*****l berkedok pengusaha.
Sibuk berkeliling, Luna tidak tertarik untuk naik dan menemui Zero di lantai atas. Gadis itu terus-menerus merasa kagum dengan isi dari rumah ini, sampai dirinya berhenti di depan sebuah foto kecil yang terpajang di ruang tamu.
Satu-satunya foto yang berada di sana. Entah kenapa ukurannya terasa sangat kontras jika dibandingkan dengan ukuran meja yang besar.
Di sana ada foto seorang lelaki kecil tengah tersenyum sambil memegang tangan dua orang dewasa, sepertinya orang tuanya. Namun, anehnya, di bagian ayah, foto itu dirobek secara kasar. Membuat Luna mengernyit heran karenanya.
Dia baru saja hendak meneliti lebih jelas, sampai suara bariton milik seseorang mengurungkan niatnya.
"Sepertinya, ada yang terlalu penasaran dengan rumah ini, sampai mengabaikan perintah untuk menemuiku di lantai atas."
Luna terkesiap. Ia langsung mundur beberapa langkah, mencari sumber suara sampai dia menemukan seorang pria dengan tatapan mata tajam di tangga, tengah memandanginya lekat.
"Well, welcome, Sweetheart. Kau suka rumah barumu?" tanyanya dengan senyum yang menawan.
Melihat senyumnya, Luna bukannya terbius. Melainkan, ia merasa merinding, karena Zero tampak jauh lebih 'bagus' daripada yang Luna bayangkan.
Saat pertama kali tahu tentang Zero yang umurnya berbeda 15 tahun dari Luna membuatnya pasrah dan lemas harus dinikahi oleh seorang Om-om yang ia bayangkan berbadan gendut dan p*****l. Akan tetapi, Zero justru menghancurkan ekspetasi Luna.
Dia tampan ... matanya berwarna abu-abu, jika Luna tidak salah lihat. Tubuhnya atletis, dia memiliki senyum yang menawan. Akan tetapi, Luna tidak bisa membaca pikirannya.
Semacam, lelaki itu berlindung di balik senyumnya. Menyembunyikan segala hal yang ia pikirkan dengan rapat, hingga tak ada celah bagi Luna untuk menembus pertahanan itu.
"Aku ...." Luna baru saja hendak menjawab pertanyaan yang dilayangkan untuknya, sampai Zero memotong ucapan Luna.
"Naiklah ke atas. Ada hal yang harus kubicarakan padamu." Seolah tak mau mendengar jawaban Luna, Zero langsung berbalik setelah mengatakan hal itu. Membuat Luna mengernyit heran.
Perkataan Zero yang terakhir kali tampak seperti perintah, dibandingkan dengan suruhan biasa. Merasa ngeri karena ada aura gelap yang membuat Luna merasa tertekan, gadis itu hanya menurut dan mengikuti Zero untuk naik ke lantai atas.
Suasananya terasa sepi, mungkin karena semua pegawai berada di lantai bawah. Luna menghentikan langkahnya saat melihat Zero tengah berdiri di depan pintu kamar.
Entah kamar itu milik siapa.
"Ini kamarmu." Zero berkata dengan suara yang pelan, tetapi cukup terdengar di telinga Luna. "Kita tidak akan tidur sekamar bila tidak ada kepentingan. Akan tetapi, jika aku menginginkanmu, aku akan kemari dan kau harus siap. Kita akan melakukannya di kamar ini. Jangan pernah sekalipun membayangkan kalau kau akan masuk ke dalam kamarku."
Luna mengigit bibirnya, ngeri. Membayangkan kalau dia akan melakukan hal-hal dewasa bersama Zero membuat bulu kuduknya meremang.
"Tapi ... aku tidak berniat untuk masuk ke dalam—"
"Jangan membantahku, Laluna." Luna nyaris saja berteriak, saat Zero tiba-tiba berbalik dan mencengkeram dagunya dengan satu tangan. Membuat jarak di antara mereka menjadi sangat tipis.
Jantung Luna berdebar seribu kali lebih kencang daripada biasanya, pasalnya dia tidak pernah melakukan kontak fisik dengan pria hingga sedekat ini.
"Aku tidak suka dibantah, apalagi ditolak. Kau mengerti?" tanya Zero dengan tatapannya yang tajam.
Luna mengangguk, dia terlalu takut untuk berbicara. Setelahnya, Zero melepaskan cengkeramannya, dan Luna menghela napas lega.
"Kamar itu, adalah kamarku." Zero menunjuk pintu bagian ujung, tempat yang ditunjukkan pada supir tadi. "Sebenarnya tadi aku meminta Jeremy untuk mengantarmu ke kamarku. Akan tetapi, setelah aku pikir-pikir lagi, sepertinya kau tidak pantas."
Luna tidak menjawab, dia memiliki banyak pertanyaan di dalam benaknya. Sesungguhnya sejak naik ke lantai atas, dia memiliki pandangan yang berbeda dengan Zero.
Lelaki itu ... tampak kasar dan ketus. Dia berbicara tanpa berpikir, seolah sengaja untuk menyakiti Luna.
Akan tetapi, Luna tidak tahu apa alasannya.
"Kena ... pa?" Luna memberanikan diri untuk bertanya. Meski takut, tetapi ia ingin tahu apa alasan Zero menganggap Luna tidak pantas untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Kau mau tahu?" Zero tersenyum miring dan kembali menatap Luna, membuat gadis kecil itu harus menelan salivanya lagi. Zero maju beberapa langkah yang refleks membuat Luna mundur seirama.
Zero kembali tersenyum saat tak ada lagi ruang bagi Luna untuk kabur. Luna bahkan bisa merasakan hangatnya napas Zero, karena jarak mereka yang terlalu dekat.
"Dengar." Zero berbisik di telinga Luna dengan suara khasnya. "Aku sudah membelimu dari tempat kumuh itu, dan sekarang kau adalah milikku. Aku memang akan mempersuntingmu sebagai isteri, karena Indonesia bukan negara yang bebas. Akan tetapi seharusnya aku sadar lebih awal kalau ...."
Ucapan Zero yang tergantung di udara serasa tidak bisa lagi terdengar di telinga Luna. Gadis itu rasanya ingin menangis saat dia sadar, kalau Zero sungguh bukan manusia yang baik.
Dia tidak berniat untuk mencintai Luna atau membangun rumah tangga dengannya.
Sepertinya ... lelaki itu hanya menjadikan Luna pajangan, atau tempat pemuas hasratnya belaka. Bukan sebagai wanita yang ingin Zero cintai.
"w************n sepertimu ... mana pantas masuk ke dalam kamar mewahku?"