D-2

1001 Words
"Lo harus percaya Han, apapun yang Syam lakukan, gue yakin itu semua pasti demi lo," ucap Jeje sama seperti yang Syam katakan tadi. Hana hanya mengangguk. Apa yang ia katakan tadi jelas saja tidak tulus keluar dari hati terdalamnya. Ingin sekali rasanya mengatakan itu dengan tulus namun apa daya itu terlalu berat untuk ia lakukan, masih tak rela melihat Syam pergi. Ia tahu ini adalah bentuk sebuah keegoisan tapi memang begitu adanya, ini sangat sulit. "Katanya malam ini kalian mau pergi jalan-jalan?" tanya Jeje entah darimana ia dapat berita itu. "Iya bro, sorry ya gue nggak bisa lama-lama," ucap Syam seraya izin berpamitan dengan Jeje. "Cepet banget, ntaran napa," ucap Jeje. "Gue kebetulan juga mau beli sesuatu Je," jawabnya lagi. "Oke deh kalau begitu, kalian hati-hati ya," pungkas Jeje lalu membiarkan mereka berdua pergi. *** 'Tadi maafin Jeje ya," ucap Syam tiba-tiba saat di dalam mobil. "Kok maaf?" tanya Hana. "Ya, tadi terlalu ceplas-ceplos ngomongnya," kata Syam lagi. "Nggak apa-apa biasa aja kok," Suasana serasa hening dan sunyi, Hana masih terngiang-ngiang dengan kata-kata Jeje yang mirip dengan perkataan Syam. Hana memikirkan semua itu. Sedangkan Syam, pikirannya tak jauh beda dengan yang tadi, memikirkan nasib hubungan mereka saat ia akan pergi besok. "Kita kemana?" tanya Hana. "Ke tempat yang nggak bakal kamu lupain sampai kapanpun," katanya dengan cukup lugas. "Wah kemana nih?" tanya Hana lagi dengan intonasi cukup excited. Syam hanya tersenyum sambil menyetir mobilnya. Suasana malam di perkotaan sangat jelas terasa pada malam ini. Jalanan yang macet, kelap-kelip lampu kota, tingginya gedung-gedung pencakar langit, sangat kental sekali. Namun kini, mobil Syam melaju ke daerah yang sedikit meminggir dari kota. Bau sawah-sawahan dan jalanan yang semakin menanjak. Namun masih terlihat ramai mobil dan motor berlalu lalang disana. Hana tak kenal dengan daerah itu, namun terlihat jelas bahwa ini seperti daerah perbukitan dan banyak orang bersantai ria bersama sahabat, keluarga, maupun pasangannya melihat taburan bintang yang begitu indah. Setelah sekian lama diperjalanan akhirnya mereka sampai. Sampai disebuah taman bernama tamana langit, di taman itu kita dapat melihat kelap-kelip lampu kota dari atas. Indahnya pemandangan kota kita lijat dari ketinggian, sangat indah. Bukan hanya itu, taburan bintang-bintang yang menghiasi langit tampak begitu elok di pandamg mata. Aroma asap sate tercium sampai ke hidung Hana. "Hmm kayak bau sate," celetuk Hana yang berniat untuk memberi kode pada sang kekasih. "Ya emang bau sate sayang, itu dagangnya," kata Syam menunjuk dagang sate di pojok sana. "Hmmm," rupanya Syam tak peka akan hal itu. Justru ia mengarahkan Hana untuk berpose agar ia bisa memotretnya. Tak heran, Syam memang tertarik dengan dunia fotografi. Hasil fotonya sangat bangus, ia begitu excited jika melihat kamera. Namun kini ia hanya menggunakan kamera handphone saja, ia tak membawa kameranya, walau begitu hasilnya tak kalah bagus dari foto dengan kamera "Ayo yang berdiri disana!" perintahnya. Dengan langkah malas Hana pun mau tak mau berjalan ke tempat yang ia arahkan. "Senyum dong!" perintahnya lagi. Dengan senyum paksa Hana terlihat sangat lucu hingga membuat Syam tertawa geli. "Kok senyumnya gitu sih," katanya sambil tertawa. "Hmm sate," malah begitu sahut Hana. "Kamu mau sate?" tanya Syam. "Malah nanya lagi ni bocah," celetuk batin Hana. "Iya mau," jawabnya dengan manja. "Ya udah kita duduk disana yok," Mereka pun duduk di sebuah warung sate tepi bukit itu, sembari melihat keindahan yang terpampang nyata di depan mata. Hana terlihat sedang menikmati pemandangan sembari menunggu satenya jadi, sedangkan Syam masih sibuk memotret Hana. Hana yang sudah lelah kini bersikap bodoamat dan tak peduli, ia hanya memikirkan satenya untuk saat ini. "Udah ah yang, malu tu diliatin," kesal Hana akhirnya. "Dih siapa yang liatin, wajar-wajar aja kok kalau kita mau foto-foto," bela Syam. "Foto-foto sih wajar, tapi kamu biasa aja dong nggak usah sampai baring-baring gitu ngambil fotonya, malu ayang," kesalnya lagi. "Ya kan namanya juga nyari angel yang bagus," belanya lagi. "Ah tahu deh," akhirnya Hana pasrah dan tak melanjutkan pembelaan nya lagi. Hana bersikap cuek melihat tingkah aneh sang kekasih, Syam memang seringkali membuat Hana merasa malu, tapi kadang itu terasa lucu jika diingat-ingat. "Sayang, udah sayang udah," panggil Hana dengan suara lemah lembut penuh makna. Makna bahwa ia merasa sangat malu dengan tingkah Syam. "Hehe," senyumnya tipis. *** Tak lama setelah menunggu beberapa saat akhirnya sate yang mereka pesan pun tiba. "Makasih mbak," ucap keduanya kompak. Dengan lahap Hana makan seperti orang kerasukan. "Pelan-pelan sayang," ujar Syam yang masih melongo melihat Hana yang begitu sangar menghabiskan sate itu. "Aku lagi laper yang," jawabnya dengan mulut yang full dengan makanan. "Udah udah nggak usah ngomong," kata Syam lagi. Ia sedikit heran namun ingin tertawa karena begitu lucu melihat Hana seperti itu. Rupanya ia ngidam sate, senyum manis Syam terlihat saat memandangi Hana memakan satenya. "Kenyang?" tanya Syam yang melihat sate Hana tinggal 2 tusuk. "Aman aman," ujarnya seraya memberikan jempol kepada Syam. "Nggak apa-apa ya kalau aku gendut," celetuk Hana tiba-tiba. "Iya nggak apa-apa tetap cantik kok," jawab Syam dengan tulus walau sebenarnya ia kaget Hana tiba-tiba menanyakan hal itu. Setelah semua makanan habis kini mereka duduk berdempetan. Warung itu menyajikan tempat duduk lesehan juga dan kebetulan Hana dan Syam milih duduk lesehan serta berada di pojok luar agar ia bisa melihat indahnya pemandangan disana. Duduk berdempetan, Hana bersandar di bahu sang kekasih. Lalu Syam dengan langsung merangkul serta mendekapnya dengan hangat. Keduanya terus begitu tanpa berkata apapun, menikmati dinginnya malam dengan saling menghangatkan satu sama lain. Ditemani angin malam yang terus berhembus di wajah mereka, tak lupa bintang-bintang juga ikut menyaksikan betapa hangatnya malam yang mereka rasakan. "Tetaplah seperti ini," bisik Syam di sela mereka saling berdekapan. Mendengar itu Hana semakin mengeratkan pelukannya kepada Syam sembari ia sandarkan kepalanya pada d**a bidang milik Syam. "Besok malam aku mau kesini lagi," pinta Hana. Syam hanya tersenyum mendengar permintaan sang kekasih. Ia memejamkan mata menikmati malam yang indah ini bersama Hana sang kekasih hati. "Apapun yang terjadi, kita akan tetap saling mencintai," ucap Hana tiba-tiba. Ia berbicara seperti orang yang sedang mabuk, tapi bisa jadi itu karena ia kekenyangan dengan sate yang ia makan tadi hingga membuatnya berlebihan seperti itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD