Antara Pergi dan Hilang

1020 Words
Syam tak tahu harus berbuat apa kini. Bayang-bayang Hana terus menghantui pikirannya. Duduk sendiri memikirkan bagaimana nasib hubungannya kedepan dengan wanita yang amat ia cintai itu. "Aku pergi karena rasa sayang yang terlalu dalam, aku harap kamu ngerti itu," Ia ingin satu saja orang mengerti bagaimana perasaannya saat ini, ia lebih sakit daripada Hana. Hana hanya tahu ia akan pergi, tanpa tahu apa penyebab ia akan pergi. Andai saja Hana tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Niscaya ia akan menangis melihat pengorbanan sang kekasih. "Sayangnya kamu hanya melihat dari satu sisi, aku anggap itu wajar-wajar saja," Tak tahu lagi bagaimana hidupnya saat senyuman Hana tak lagi ia lihat setiap hari, tak tahu lagi bagaimana hidupnya saat suara Hana tak lagi ia dengar, senyum, canda, tawanya akan hilang dan tak lagi ia lihat langsung, betapa pedihnya ia membayangkan hal itu. Pagi itu Syam duduk sembari minum air putih. Fokusnya terpecah pada suara dering handphone yang berada di kamarnya. Dengan cepat ia berlari mengambil handphone itu, dengan hati mengatakan bahwa Hana lah yang menelpon. Namun kenyataannya salah, dia bukan Hana melainkan Elis. Elis menelponnya entah apa yang akan ia katakan. "Halo," suara Elis terdengar dari handphone Syam. "Iya Lis, kenapa?" tanya Syam langsung. "Hana sakit, mending lo cepet deh kesini, dia ngelarang gue buat ngasih tahu lo," bisik Elis. "Ha?! O-oke gue kesana sekarang, gue titip Hana Lis!" jawabnya sedikit panik. Setelah menutup teleponnya Syam langsung bergegas untuk siap-siap pergi ke rumah Elis. Dengan langkah cepatnya ia langsung menaiki mobilnya lalu dengan gagahnya ia melakukan mobil dengan kecepatan tinggi. Rasa panik telah membuatnya buta akan keselamatan dirinya. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah kondisi Hana. Mendengar perihal itu membuatnya tak bisa tenang, dan terus menyalahkan dirinya sendiri. Tak lama setelah itu akhirnya ia sampai di rumah Elis. Dengan rasa khawatir ia tak ragu untuk langsung masuk dan melihat kondisi sang kekasih, Hana. "Assalamualaikum," salamnya membuat Hana terkejut akan kehadirannya. "Waalaikumussalam," jawab Elis sedangkan Hana masih terdiam. "Lo yang ngasih tahu ya?!" tanyanya kesal. "Hehe," Elis pun mempersilahkan Syam untuk masuk ke dalam. Di sana sudah ada Hana yang terbaring di kamar Elis. Melihat kondisi sang kekasih yang lemah, pucat membuatnya merasa sedih dan tak rela akan meninggalkannya. "Sayang," lirih Syam yang merasa sedih melihat kondisi Hana. Hana membuang muka tak mau melihat ke arah Syam. Tak ada gunanya ia melihat Syam melainkan air matanya akan jatuh, ia tak mau hal itu terjadi padanya. "Sayang, bilang ke aku, mana yang sakit," ucap Syam seperti berbicara dengan seorang bayi. Hana terus membuang muka tak mau melihat Syam yang berada di sampingnya itu. "Udah minum obat?" tanya Syam lagi dengan begitu lemah lembut. Ia hanya menggeleng-geleng tanpa berkata apapun. "Belum minum obat?!" tanya Syam lagi memastikan. Mendengar itu Hana kini mengangguk polos tanpa kata. "Astaga, Elis!" teriak Syam memanggil Elis yang sedang berada di teras rumah. "Apaan?!" teriaknya balik. "Sini lo!" "Bentar," "Kenapa pacar gue belum lo kasih obat?" tanya Syam. "Lah dia nya nggak mau," jawab Elis dengan apa adanya. "Dia cuma mau lo yang kasih dia minum obat," lanjut Elis lagi. Mendengar itu Syam tak bisa apa-apa melainkan menelan ludah sendiri karena malu telah membentak Elis dan ternyata Hana yang tak mau meminum obat. Hal itu membuatnya semakin berat untuk pergi meninggalkan Hana. Bayangkan saja jika nanti Syam sudah berada di Singapura terus Hana sakit, siapa yang akan merawatnya, ia sangat khawatir akan hal itu. "Sini minum obatnya!" perintah Syam lalu membangunkan Hana dari tempat ia berbaring. Dengan penuh manja Hana pun menelan obat yang Syam kasih kepadanya. "Udah, sekarang istirahat ya!" perintah Syam lagi. Syam berniat untuk menemui Elis di depan, ada sesuatu yang akan ia bicarakan dengan sahabat kekasihnya itu. Namun, baru saja ia berdiri Hana langsung menarik tangannya. "Jangan pergi!" ucapnya begitu. Syam tersenyum lalu duduk di samping sang kekasih yang sedang terbaring lemah. "Janji ke aku, kalau kamu nggak akan pernah pergi!" pinta Hana yang membuat Syam tak sanggup untuk mengatakannya. Syam hanya tertunduk lalu sekilas ia tersenyum kepada Hana. Senyuman pahit yang dipaksa untuk ada di tengah kesedihan ini. "Syam, sayang!" tegas Hana agar Syam mengucapkan janji itu. Perlahan Syam hanya menggeleng menolak perintah Hana. Rasa kecewa sangat kecewa menderu hati seorang Hana. "Ya sudah pergi saja sana!" ucap Hana tanpa melihat wajah Syam. "Hana," panggilnya begitu lemah. "Aku pergi, bukan menghilang," lanjutnya. "Tapi kalau kamu hilang gimana?" ucapannya khawatir namun terdengar lucu. "Gimana aku bisa hilang, hatiku kamu yang bawa lalu hatimu aku yang bawa, bagaimana aku bisa hilang?" balas Syam sangat mengena di hati seorang Hana. "Tapi kenapa harus jauh-jauh, kalau begitu aku ikut aja!" katanya begitu. "Nggak bisa sayang, kamu tunggu aku disini ya!" ucap Syam lagi. Hana merengek seperti anak kecil yang akan ditinggalkan sang Ibu pergi ke pasar. "Aku takut kamu hilang kayak pacarnya Elis," Isak tangisnya tak bisa ia bendung lagi, dengan polosnya ia mengatakan hal itu kepada Syam. Syam mencoba untuk tertawa tipis, walau nyatanya hati kecil ikut menangis mendengar Hana yang terisak tangis sendu. "Tolong jangan menangis," pinta Syam yang matanya sudah berkaca-kaca namun tetap tersenyum. "Aku sama siapa disini kalau kamu pergi?" tangisnya semakin deras. Syam menggosok-gosok matanya karena air mata ini rasanya sudah nekat untuk keluar. "Ada Elis sahabat kamu, nanti kalau dia nakal kasih tahu aku ya," mendengar ucapan Syam membuat tangis Hana semakin menjadi-jadi. "Terus kalau aku udah ngasih tahu kamu, kamu nya kesini bantuin aku?" ucapnya seperti anak kecil yang begitu polos. "Nanti aku kasih tahu Elis biar dia nggak nakal lagi," jawab Syam juga dengan begitu polos. Keduanya berpelukan diiringi isakan tangis antara keduanya. "Jangan hilang ya," sela Hana. "Kalau yang ini aku janji!" tegasnya dengan begitu lugas. "Udah sayang jangan nangis lagi, kamu istirahat gih, aku mau ke Elis sebentar," kata Syam. Hana pun akhirnya menuruti perkataan Syam. Walau berat membayangkan sang kekasih akan pergi, namun dengan pernyataan Syam tadi membuatnya sedikit lega. Tak disangka ia akan menjali sebuah hubungan jarak jauh seperti yang orang-orang lakukan. Ia tak pernah membayangkan hal itu sebelumnya. Rasa sedih dan rindu sudah mulai ia rasa mulai saat ini, padahal Syam masih berada di sampingnya namun rasa kehilangan telah menghantuinya sedari Syam mengatakan bahwa ia akan pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD