Hawa sejuk pagi ini mengiringi langkah kaki Mimi. Bahkan fajar belum mengintip bumi tatkala ia dibangunkan oleh manajer Sofia beserta CEO Bramantyo, keduanya memintanya lekas bersiap diri. Dan beberapa menit kemudian selepas perjalanan menembus jalan-jalan lenggang Denpasar, Mimi dan dua orang yang lainnya telah sampai pada bandara udara. Mimi pikir ia akan menaiki pesawat seperti kebanyakan orang lainnya. Check in, kemudian mengantre pada ruang tunggu. Kenyataannya, langkah kakinya terus diminta berpacu menembus hamparan lapangan terbang dan berakhir menaiki sebuah transportasi menuju pesawat pribadi. “Ah’ ayolah...” mengibaskan tangannya. Bramantyo tidak sabar melihat dua perempuan yang jalan terlalu lambat. “Bram,” Sofia berseru, kedua tangan perempuan tersebut merengkuh

