Banyu Biru

1481 Words
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.15, namun kelas Miss Marsha belum menunjukkan akan dibubarkan. Kelas itu terletak di pojok utara dan satu-satunya yang masih terisi. Meskipun berpendingin, namun keadaan tetap terasa panas dan gerah karena jendela jendela besar dibiarkan tanpa gorden. Belum lagi ditambah d******i suara wanita paruh baya yang keras namun parau tersebut, Miss Marsha. Tak ada kebisingan berarti di ruangan tersebut, tapi diam-diam mahasiswa yang berada di belakang sudah mengomel-mengomel tak jelas satu sama lain. Dosen mata kuliah bahasa inggris advance satu itu memang terkenal suka offside ketika mengajar, maka dari itu tak banyak mahasiswa yang mengambil mata kuliah beliau. Biasanya yang mengambil adalah mahasiswa yang tidak kebagian kelas bahasa inggris sebelah yang dosennya lebih sering absen ketimbang mengajar. Atau mahasiswa abnormal dan kelewat rajin yang sengaja memilih kelas Miss Marsha yang sering memberi pekerjaan rumah. Seperti pria dengan kacamata biru tua tersebut. Di antara mahasiswa-mahasiswa, tampaklah satu laki-laki berwajah serius berada di bangku depan yang memperhatikan dan mencatat apa saja yang dikatakan sang dosen. Matanya fokus gantian menatap papan tulis dan sang dosen. Buku tulisnya hampir penuh dengan catatan rapih yang ia label-labeli berdasarkan mata kuliah. Ialah Banyu, Banyu Sadewa. Mahasiswa pendiam yang tidak terlalu populer di kampus. Ia memang tidak terlalu menonjol di kalangan mahasiswa hukum, namun diantara dosen-dosen, Banyu cukup disegani karena ia cukup berprestasi dan tak segan untuk bertanya serta mendalami mata kuliah yang sekiranya ia kurang kuasai. Ia memanglebih aktif di luar kampus, dan meski tak sepandai Lintang, ia juga sering mengikuti lomba dan mengantongi beberapa piala walau tanpa diketahui. Bagi Banyu, mendengarkan Miss Marsha sangatlah penting karena ini menyangkut masa depannya. Sebagai mahasiswa (hampir) akhir, ia sudah menyusun plan setelah kelulusan. Ya, seperti itulah Banyu, hidup rajin, tertata rapi, dan lurus.  Mau tahu apa rencananya? Ia sudah berencana untuk melanjutkan S2-nya ke luar negeri melalui beasiswa. Edinburgh, itulah kota yang ia tuju. Sebuah kota kecil di Skotlandia dengan universitas yang ia inginkan dan kehidupan sosial yang kelihatan menyenangkan, pun biaya hidup di sana tidak terlalu mahal. Karena berasal dari keluarga yang biasa saja, maka ia harus belajar mati-matian untuk membuat donatur beasiswa menyatakan ia layak… lagi. Ia memang mengandalkan beasiswa untuk bersekolah, bahkan sejak SMP. Dan iapun juga memiliki donator tetap dari PT. Cabra Farma, sebuah perusahaan farmasi yang entah mengapa tertarik sekali mendanai Banyu, padahal ia tak pandai-pandai amat. Tapi toh ia tak ambil pusing, yang penting adalah ia bisa mengurangi beban ayah dan ibunya. Bukan karena keluarganya tidak mampu, namun Banyu menyadari bahwa orang tuanya juga harus menanggung ketiga adiknya. Mendapatkan beasiswa adalah salah satu cara ia membantu keduanya. Dalam proses mendaftar beasiswa ini, Salah satu yang harus ia kuasai adalah bahasa inggris, dalam beberapa bulan lagi ia akan mengikuti ujian IELTS dan paling tidak harus menghasilkan skor 8 dari 10. Tidak ada waktu untuk main-main. Tangan besarnya bergerak-gerak menulis dengan cepat. Pria itu begitu serius hingga tidak memperhatikan ada seseorang yang melambaikan tangannya dari luar, Kanya. Mata Kanya berbinar menatap Banyu. Bagi Kanya, Banyu adalah segala yang ia impikan, pangeran berkuda putihnya yang meskipun tidak terlalu tampan, namun ia memiliki segudang cinta untuk Kanya. Setidaknya itulah yang gadis itu percayai. Kalau tidak cinta, Banyu tentu tidak akan menerima Kanya saat gadis itu menyatakan cinta. Ah, tentu saja Kanya duluan yang menyatakan perasaan. Bagi Kanya, soal perasaan sayang, ia tidak bisa menunda,ia harus menyatakannya duluan meskipun harga dirinya harus turun ke bawah tanah. Apalagi melihat sifat Banyu yang pendiam dan stagnan, jika Kanya tidak mengambil langkah pertama, tidak akan ada perubahan pada hubungan mereka. “Itu teman siapa ya yang di luar?” seru Miss Marsha. Semua mata menengok ke arah jendela tepat di mana Kanya berdiri. Merasa diperhatikan, Kanya membalikkan badan dan berjongkok. Haduh, malunya. Namun bukan hanya Kanya, Banyupun sama malu. Pria itu akhirnya sadar bahwa Kanya sedari tadi berusaha menarik perhatiannya.  Dasar Kanya yang ceroboh. “Sepertinya sudah ada yang ditunggu ya? Kalau begitu kuliah saya akhiri sampai sini. Selamat siang semuanya.” Miss Marsha membereskan barangnya dan tersenyum pada Kanya ketika berjalan ke luar kelas. Dengan tersipu Kanya tersenyum balik. Ia masih berjongkok sambil menenggelamkan kepala, berharap semua orang  yang lewat tidak memperhatikannya. Ah, tentu saja efek yang diterima sebaliknya, semua orang menatap tubuh kecil yang meringkuk di bawah jendela. Meskipun terlihat aneh, mahasiswa yang ada di kelas tersebut diam-diam bertrimakasih kepada Kanya karena akhirnya mereka dapat pulang. Semuanya kecuali Banyu. “Kanya,” Banyu memanggil gadis tersebut yang masih berjongkok dari depan pintu kelas. Ruangan telah kosong dan hanya menyisakan keduanya yang mengobrol di depan. Dengan senang Kanya menghampiri Banyu yang berwajah datar. “Hai, aku nunggu lama loh.” “Kanya, aku kan sudah bilang nggak perlu nunggu. Apalagi tadi kamu ngeganggu pelajaran,” sambar Banyu. Ia merasa kesal dan malu, namun tentu ia tak tega memarahi gadisnya yang terlihat seperti tikus kecil kelaparan. Kanya cemberut dan menunduk. “Jangan marahin aku dong.” Kanya tentu tahu bahwa Banyu akan kesal karena ia mengganggu kelas, namun bukankah aksi Kanya tadi tidak sengaja? Mana ia tahu kalau lambaian tangannya akan dilihat oleh dosen wanita itu dan malah menyebabkan keributan. Banyu menghela nafas. Setiap ia berusaha menasehati Kanya, gadis itu selalu memelas seolah minta dikasihani, dan ya, Banyupun memang jadi kasihan. “Aku enggak marah, tapi lain kali jangan gitu ya…” Wajah Kanya seketika cerah, ia tahu Banyu tak akan marah atau kesal berlama-lama jika Kanya sudah mengeluarkan puppy eyesnya. “Kamu lapar kan?” Banyu tersenyum melihat Kanya tersenyum, amarahnya seketika sirna. Banyu jarang sekali tersenyum, hanya pada saat tertentu dan pada orang tertentu saja ia menarik bibirnya. Salah satu orang yang ia perlihatkan senyum adalah Kanya, orang yang ia sayangi. Bagi Banyu, Kanya adalah malaikat yang entah mengapa bisa jatuh cinta pada pria seperti dirinya. Banyu menyadari bahwa dirinya begitu banyak kekurangan. Wajahnya seperti pria jawa pada umumnya, meskipun rahangnya tegas, namun ia merasa bahwa ia masih masuk pada kategori biasa-biasa saja. Satu-satunya kelebihan fisik yang ia miliki adalah tingginya yang melebihi rata-rata orang Indonesia. Ia juga orang yang cuek dan dingin pada setiap orang, bahkan teman-temannya. Meskipun lumayan cerdas dan rajin, itu tidak akan menarik perhatian wanita karena… memang siapa yang mau memperhatikan kecerdasan dan betapa rajinnya seseorang? Ya, memang siapa? Siapa lagi kalau bukan Kanya? Mungkin bagi Banyu dirinya biasa saja, namun Kanya selalu menganggap Banyu lebih dari biasa. Ia jatuh cinta pada Banyu yang diam-diam memberi makan kucing-kucing kampus. Ia jatuh cinta pada Banyu yang selalu tepat waktu mengumpulkan tugas. Ia jatuh cinta pada wajah serius Banyu ketika memperhatikan papan tulis. Baginya, Banyu yang seperti itu sangatlah seksi. “Makan ayam geprek yuk?” “Itu lagi?”  “Ih, terus mau apa?” lagi-lagi Kanya cemberut. Tangannya sudah disilangkan siap memberi petuah pada Banyu soal kenapa ia tidak boleh pilih-pilih makanan. Banyu tertawa kecil, baginya perdebatan soal ‘mau makan apa’ ini selalu menyenangkan. Kanya akan mulai mengomel soal harusnya manusia bersyukur bahwa ia bisa makan: punya uang membeli makanan-dan tidak susah seperti orang di negara tertinggal seperti Afrika yang bahkan air saja harus berkilo meter jauhnya untuk diambil. Banyu seperti biasa akan diam dan mendengarkan gadisnya berkhotbah sambil menggerak-gerakkan tangan seolah memperagakan seseuatu. Jika dipikir, kelakuan Kanya sangatlah lucu. Banyu kadang masih tidak percaya bahwa Kanya menyukainya, menyukai dirinya apa adanya. Bahkan bagian dirinya yang suka pilih-pilih makanan. “Iya deh, ayo makan geprek,” sambut Banyu. Ia menggenggam tangan Kanya yang mungil sebelum gadis itu sempat mengoceh lebih banyak. Diam-diam Kanya tersenyum lembut di balik punggung Banyu. Ketika bersama Banyu, hatinya merasa hangat, nyaman, seperti dibuai oleh seorang ibu. Meskipun sejujurnya Kanya tidak tahu perasaan Banyu sebenarnya pada Kanya –karena Banyu hanya iya-iya saja saat diajak pacaran dan Banyu juga bukan tipikal pria yang suka berkata-kata manis,  namun Kanya tidak peduli. Ia tidak butuh keraguan lagi, bukankah kenyataan bahwa Banyu mau diajak pacaran, adalah bukti yang valid bahwa perasaan Banyu tulus padanya? Ia hanya ingin momen seperti ini terus ada selamanya. Ia ingin kenangan ini berlanjut dan bisa dia simpan rapat-rapat di laci hatinya. Baginya seperti ini cukup. Banyu dan dirinya, selamanya. Tapi benarkah bisa selamanya? Memikirkan rencana Banyu yang akan sekolah ke Skotlandia saja sudah membuat wajah Kanya memasam. Ia tidak tahu apakah ia dan Banyu akan bertahan setidaknya 4 tahun dengan kondisi berjauhan. Meeski belum pasti apakah Banyu akan mendapatkan beasiswa tersebut atau tidak (kemungkinan besar iya), Kanya terus khawatir dan bertanya-tanya apakah Banyu akan melupakannya selama di sana. Ia dan Banyu akan terpisah jutaan kilometer dan 7 jam jeda waktu. Gadis itu mengenggam tangan Banyu erat seolah tidak mau melepaskan. Matanya agak berkaca-kaca ketika melihat punggung lebar Banyu dan gerak rambut halus pria itu yang tertiup angin ketika berjalan. Ia ingin berkata jangan pergi, namun ia tak bisa. Ia tak bisa menghancurkan impian pria yang disayanginya setengah mati. Ia tak bisa mencegah Banyu yang sudah bertekad bulat. Ia ingin Banyu bahagia. Tapi akankah ia bisa bahagia dengan kepergian Banyu nantinya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD