“Mbak Kanaya ya?” “Iya pak.” “Silahkan duduk.” Tentu saja setelah hari yang ditentukan, Kanya dating sendirian ke ruang rapat fakultas. Ia tak pernah masuk sini sebelumnya. Mana bisa mahasiswa biasa seperti Kanya tiba-tiba ada kepentingan untuk menggunakan ruangan ini. Tapi di sinilah ia sekarang. Duduk di hadapan tiga orang dosen yang menatap berkas kertas di tangan masing-masing sementara itu Kanya hanya berpegangan pada tali totebagnya. “Mbak Kanaya.” Seorang di depan Kanya yang berkumis tebal angkat bicara. Ia sama sekali tak mengenai dosen tersebut, mungkin karena ia tak pernah diajar beliau. Atau kemungkinan lainnya, beliau adalah orang dari luar fakultas. “Perkenalkan nama saya Dirjo, saya adalah tim penilai untuk beasiswa yang lima bulan lalu Mbak Naya apply.” Kanya menanggu

