8. Putus Komunikasi

1077 Words
Cahaya matahari musim semi yang masuk melalui celah* kaca jendela membangunkan Franklin. Matanya mengerjap beberapa saat sembari meregangkan otot-ototnya. Perjalanan selama 18 jam lebih 20 menit benar-benar membuatnya lelah. Alih-alih ia makan malam setelah ia sampai di apartemen, ia memilih berganti pakaian dan langsung tidur karena jet lag. Ponselnya yang tiba-tiba berdering mengembalikan kesadarannya. Dengan malas, ia menjawab telepon dari Alice. "Kak, kenapa baru diangkat?" "Ck, baru aja nelepon, udah bilang baru diangkat!" "Ih, asal Kakak tahu aja, ya! Mami sama Papi udah nelepon bergantian, tapi gak satu pun Kakak angkat!" "Aku baru bangun, Dek! Udah, ah mau sarapan dulu!" "Iya, deh! Nanti disambung lagi. Bye!" Setelah pemuda itu memutuskan sambungan telepon, ia segera bangkit dari ranjang untuk membersihkan diri. *** "Mas kok sampai segitunya sih?" protes Felisha. Andre menghela napas panjang lalu berbaring di pangkuan sang istri tercinta. Matanya terpejam, begitu menikmati usapan lembut tangan Felisha di rambutnya yang mulai dipenuhi uban. "Bagaimana bisa Franklin melupakan Azzura kalau mereka masih sering bertukar kabar?" "Mas, bukankah itu berarti Mas sudah memaksa mereka untuk memutuskan hubungan persahabatan selama bertahun-tahun?" "Aku tak pernah sejahat itu, Sayang. Aku hanya memberikan bentangan jarak agar mereka saling melupakan rasa itu." "Padahal hati tak mudah dikendalikan, Mas. Kita tak bisa memaksakan dengan siapa kita jatuh cinta." Mata Andre menatap lekat sang istri. "Jika hal itu terjadi padamu, apa yang kamu lakukan?" "Seperti apa yang kedua anak kita alami?" Andre mengangguk pelan tanpa memutuskan pandangannya dari wajah istrinya. "Tentu saja aku akan menyibukkan diri untuk menekan perasaanku, Mas. Berharap agar Tuhan membantuku untuk mencintai orang yang tepat." "Itu yang aku inginkan, Sayang. Aku tak pernah berniat jahat pada Azzura. Sama sekali tidak! Gadis manis berbudi luhur itu tak pantas kita jahati!" tegas Andre. "Anak-anak Hazig sudah kita anggap seperti anak sendiri. Aku yakin mereka akan menemukan kebahagiaan masing-masing tanpa harus menabrak apa yang selama ini menjadi pegangan hidup kita, Sayang." Felisha mengangguk pelan. Andre masih setia menatap wajah sang istri. "Terima kasih sudah memahamiku," ucap Andre seraya mengecup bibir Felisha. *** Franklin menjambak rambutnya. Belum ada 24 jam ia berada di Frankfurt, tetapi pikirannya sudah kalut luar biasa. Beberapa kali ia mondar-mandir di balkon kamarnya dengan ponsel di genggamannya. "Gimana bisa nomor Azzura terhapus begitu saja? Bukan cuma itu, nomor Mirza, Azzam, Ayah Hazig, dan Bunda Nay juga gak ada! Oh, Tuhan, apa yang terjadi? Padahal aku ingin mengabari mereka." Beberapa saat ia memejamkan matanya, mencoba mengingat angka demi angka nomor ponsel Azzura. Namun, tetap saja ia gagal. Inilah kelemahannya, ia tak bisa menghafal deretan angka seperti nomor ponsel, nomor KTP, atau semisalnya. Bahkan nomor ponselnya sendiri ia tak mudah mengingatnya. "Sial!" erang Franklin. "Eh, tapi kenapa cuma nomor ponsel mereka saja yang gak ada? Nomor teman-temanku masih ada di sini." Franklin tersenyum tipis. Ia sudah menduga siapa pelakunya. Ia ingin meminta penjelasan, akan tetapi pasti saat ini orang itu sedang sibuk. Ia akan menghubunginya kembali. *** Azzura melangkah tak bersemangat memasuki lingkungan sekolah. Ia diantar sang ayah ke sekolah karena Azzam berangkat dari rumah temannya. Semalam, Azzam menginap di sana untuk menyelesaikan tugas kelompok yang akan ia presentasikan hari ini. "Zura!" Teriakan Olivia membuatnya menoleh ke belakang. Gadis itu segera berlari menyusul Azzura yang kembali melanjutkan langkahnya tanpa menunggunya. "Ih, Zura! Gue kan minta ditungguin!" "Lo gak minta!" sahut Azzura datar. "Hei, kenapa muka lo kusut kayak baju yang gak disetrika? Mikirin Abang Franklin, ya?" goda Olivia. Azzura menjawab godaan Olivia dengan tatapan membunuhnya. Sontak Olivia menelan salivanya kasar seraya menggeleng kencang. Ia memilih diam karena ia paham mood sahabatnya ini sedang buruk. Dengan pikiran yang berkecamuk, mereka melangkah memasuki ruang kelas yang sudah ramai oleh siswa lainnya. "Zura," panggil Olivia, lirih. Yang dipanggil hanya menghela napas kasar lalu menutup wajahnya dengan kedua lengannya di atas meja. Olivia hanya bisa menatap sedih Azzura yang begitu rapuh. Selain keluarganya, Olivia adalah orang terdekatnya yang mengetahui bagaimana perasaannya pada Franklin. "Zura, gue gak akan maksa lo cerita. Tapi kalau lo udah merasa gak sanggup lagi, lo bisa hubungi gue kapan aja! Gue gak bisa lihat lo kayak gini," lirih Olivia. Azzura hanya menjawab dengan anggukan. "Bangunin gue kalau guru udah masuk!" Tiba-tiba Azzura bersuara setelah keheningan menyelimuti mereka beberapa saat. "Oke!" sahut Olivia. Azzura memilih tidur sejenak karena semalam ia tak bisa tidur karena terus memikirkan Franklin. Sejak tadi, nomor ponsel sahabatnya itu sudah tidak bisa ia hubungi. Ia yakin Franklin sudah sampai di Frankfurt. Hanya saja ia bingung, mengapa hingga saat ini ia belum mengabarinya. Bukan Franklin yang biasanya. "Apa dia berniat melupakanku?" tanyanya dalam hati. *** Seminggu telah berlalu. Azzura mulai kembali tenggelam dalam kesibukannya sebagai pelajar. Ia pun meminta sang ibu menemaninya mendaftar di salah satu tempat bimbingan belajar mengingat ia ingin benar-benar fokus dengan persiapan ujian akhir dan seleksi masuk perguruan tinggi. "Bunda, aku mau ikut bimbel. Boleh?" "Boleh banget, Sayang. Mau daftar di mana?" "Bunda punya rekomendasi gak?" tanya Azzura kembali. Nayyara tersenyum. "Ada, punya salah satu teman ngajar Bunda dulu. Gak terlalu jauh kok dari sini." "Bunda mau temenin aku, gak?" Nayyara menggeleng pelan. "Maaf, Sayang. Bunda lagi gak bisa ke mana-mana. Sempat keluar flek lagi tadi karena Bunda nekat sibuk di dapur." "Ya Allah, Bunda. Lagi hamil kok malah sibuk di dapur segala sih! Kan udah ada Bibi. Aku juga sesekali masih sempat masak juga, kan?" Azzura memang sudah berulang kali melarang ibunya beraktivitas berlebihan karena tengah hamil. "Bunda kan gak terbiasa diam di kamar, Nak," ujar Nayyara membela diri. "Pokoknya gak ada lagi capek-capek! Bisa-bisa Ayah marahin aku sama Kak Azzam kalau Bunda gak mau nurut." Nayyara terkekeh geli. Suaminya memang sangat protektif sejak dulu. "Iya, deh. Bunda diam aja di kamar kayak ayam yang lagi ngeram!" ujarnya dengan raut wajah kesal. Azzura segera beringsut lalu memeluk wanita yang sudah mengorbankan banyak hal untuknya. "Terima kasih, ya, Bunda. Bunda harus sehat terus, sampai nanti anak-anak Bunda menikah dan punya anak," bisik Azzura. "Udah mulai membayangkan pernikahan rupanya," gurau Nayyara. "Ih, Bunda! Jelas dong aku mikir, tapi untuk saat ya belum." "Karena Franklin?" Nayyara menebak isi hati putrinya. "Eh, kenapa malah bahas dia sih, Bunda!" protes Azzura. "Sudah coba telepon dia?" tanya Nayyara. Azzura menggeleng dengan kepala tertunduk. "Eh, katanya mau daftar bimbel. Bunda nanti hubungi teman Bunda itu, ya! Kamu nanti perginya sama Azzam aja biar kalian bareng terus." Nayyara mengalihkan pembicaraan agar putrinya tidak larut dalam kesedihan. "Iya, Bunda. Aku ke kamar Kak Azzam dulu, ya!" pamit Azzura. Nayyara mengulas senyuman seraya menganggukkan kepala. Setelah Azzura meninggalkannya, Nayyara tersenyum tipis. "Ternyata Kak Andre benar-benar melakukannya," gumamnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD