“Hei, kau Aurel!” Sebuah teriakan berhasil menghentikan langkah Aurel yang berjalan menuju kantin perusahaan. Dengan tampang tanpa dosa Aurel menoleh ke arah sumber suara dan mendapati ada Rani—salah satu staff—yang tengah menusuknya dengan secarik tatapan tajam. “Ya, ada apa—“ Bibirnya bahkan belum sempat mengatup, akan tetapi Rani telah lebih dulu menarik tangan Aurel ke satu ruangan tempat penyimpanan barang. Dan di sana bukan hanya ada mereka berdua, melainkan ada beberapa staff lain yang seperti bersiap menguliti Aurel habis-habisan. “A-ada apa kalian berkumpul di sini?” tanya Aurel tergagap. Tubuhnya bergidik ngeri kala melihat sorot mata membunuh yang terhunus tepat ke arahnya. “Dibayar berapa kau sama pak Gara?” “Hah?” Aurel sedikit kebingungan dengan pertanyaan yang terlonta

