Tanpa adanya sebuah keraguan, Gara dengan begitu saja mengangkat tubuh Aurel dan mendudukkannya di atas meja. Sedangkan dirinya memposisikan diri di hadapan wanita itu. Satu tangannya melingkar tepat di pinggang, serta satu tangan yang lain terlihat begitu fokus memerhatikan jejak kemerahan di leher jenjang Aurel. Sampai-sampai tidak menyadari jika di saat bersamaan sang wanita hampir saja kehabisan stok oksigen di dalam paru-parunya. Demi ayam jantan yang berkokok, Aurel tidak tahu harus berbuat apa di posisi seperti saat ini. Jarak yang begitu dekat, hingga hembusan nafas hangat Gara yang menerpa lehernya, membuat ia seperti tengah tergelitik sesuatu yang tidak kasat mata. Terasa aneh namun diam-diam ia menikmatinya. “Tidak terlalu parah, kok. Harusnya kau tidak perlu menutupnya.” “Ha

