Cerita yang baru saja terucap dari bibir Galaksi berhasil membuat buliran kristal menganak sungai di sepasang bola mata Vania. Wanita itu memandang Galaksi dengan sorot mata penuh simpati. Tetesan kristal pun akhirnya berjatuhan dari pelupuk matanya. Kening Galaksi mengernyit. Jemarinya langsung menyeka cairan yang masih terasa panas di kedua belah pipi wanita itu. “Kenapa kamu malah menangis, Sayang?” gumamnya. “Argh, menyebalkan!” Vania memalingkan wajahnya, lalu mengusap wajahnya dengan kasar untuk menghapus air mata yang tak berhenti berlinang dari kedua bola matanya. “Kenapa kamu tidak bilang dulu kalau mau cerita kisah yang memilukan seperti ini?” protesnya. Galaksi tersenyum kecil. “Aku tidak tahu kalau kisahku akan terdengar menyedihkan seperti ini,” ucapnya dengan suara yang te

