Lorong kantor pusat perusahaan milik keluarga Dirgantara terasa lengang sore itu. Lampu-lampu gantung yang menyinari dinding kaca, menampilkan bayangan panjang tubuh Rafael yang melangkah cepat. Wajahnya tegang dengan sorot mata yang tajam. Seolah-olah setiap tapak kaki membawa serta bara kegelisahan yang belum padam. Sejak pertemuannya dengan Maira setelah keluar dari ruang rapat bersama sang kakek. Sejak tadi, kata-kata Maira terus terngiang di kepala Rafael. Jawaban singkat, penolakannya untuk menjelaskan isi pembicaraan dengan Kakek Dirgantara. Bukan hanya sekadar sikap defensif seorang bawahan kepada atasan. Namun, ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang ditutupi. "Dia jelas menyembunyikan sesuatu," batin Rafael. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal dalam saku celana, menahan

