Maira melangkah lesu ke area parkir belakang gedung. Langit Jakarta mulai mendung, awan kelabu menggantung rendah seolah ikut menyerap semangatnya yang menguap perlahan.
Dengan gerakan lelah, Maira mengenakan helm kusam yang talinya mulai longgar, lalu menghidupkan motor tuanya.
Suara mesin yang terdengar seperti batuk-batuk itu menyembur pelan. Nyaris serak, seolah mencerminkan isi hati pemiliknya.
Lemah.
Letih.
Penuh beban.
Alih-alih langsung pulang, Maira justru memutar gas motornya ke arah sebaliknya. Ia menyusuri jalanan ibukota tanpa arah. Membiarkan angin sore menerpa wajahnya, menusuk pori-pori kulit yang sudah terlalu sering menahan tangis.
Di sebuah persimpangan lampu merah, Maira berhenti. Matanya terarah pada deretan mobil mewah di sebelah kanannya.
Di antara mobil-mobil itu, satu menarik perhatiannya. Sebuah mobil hitam elegan dengan pelat nomor khusus yang begitu ia kenal.
Mobil milik Axel Dirgantara.
Jantung Maira berdegup cepat. Ia segera memalingkan wajah, berpura-pura sibuk memperbaiki posisi helm. Tapi pikirannya tak bisa lepas dari bayang-bayang pria itu.
Bagaimana mungkin seseorang bisa terlihat begitu sempurna dari luar... tapi terasa begitu dingin dan menyakitkan di dalam?
Apakah semua orang sukses memang harus kehilangan empati seperti itu? Apakah orang kecil sepertinya memang pantas diperlakukan tanpa belas kasihan?
Apakah karena satu kesalahan-yang bahkan tak disengaja-ia benar-benar layak dipecat?
"Dasar Axel sialan!"
Mata Maira mulai memanas. Namun, lampu lalu lintas berubah hijau, dan Maira segera melaju, mencoba menelan emosi yang hampir meledak menjadi air mata.
***
Maira berhenti di sebuah minimarket kecil di pinggir jalan. Motor tuanya diparkir sembarangan di bawah pohon rindang yang daunnya mulai basah.
Di dalam, Maira hanya membeli dua hal: roti isi murah dan sebotol air mineral.
Itulah makan malamnya hari ini.
Dompetnya mulai menipis. Uang bulanan belum cukup menutupi tunggakan rumah kontrakan. Saat ia melangkah keluar, hujan mendadak turun deras tanpa aba-aba.
Maira buru-buru menstarter motor. Hujan mengguyur tubuhnya, membasahi jaket tipisnya. Di tengah jalan besar yang lengang, ia melihat sosok seorang kakek berdiri di tepi zebra cross.
Payung kecil bertengger di pundak kakek itu. Juga sebuah tas kulit besar menggantung di bahunya. Namun, ada sesuatu yang janggal.
Dari sisi lain, seorang pengendara motor berjaket hitam mendekat perlahan. Gerakannya mencurigakan, terlalu mendekat, terlalu pelan.
Dan benar saja.
Dalam hitungan detik, tas kulit itu direbut paksa. Sang kakek tersentak, terhuyung, sementara motor pelaku melesat menembus hujan.
Maira terdiam sepersekian detik.
"Kakek!" teriaknya.
Kemudian, tanpa pikir panjang, Maira memutar stang motor, menarik gas sekuat tenaga, dan mengejar.
Ban motornya sempat tergelincir karena jalanan licin, tapi ia berhasil mengontrol arah. Suara hujan bercampur klakson mobil dan teriakan marah pengguna jalan.
Namun telinganya hanya fokus pada satu hal-deru motor si penjambret.
Maira menyalip mobil, melompati polisi tidur, melintasi tikungan sempit, nyaris menabrak becak. Tapi Maira terus membuntuti.
Jarak semakin dekat.
Penjambret itu menoleh ke belakang. Wajahnya sempat panik. Mungkin tak menyangka bahwa pengejarnya adalah seorang perempuan, basah kuyup, mengendarai motor tua.
Saat penjabret itu mencoba memotong jalur dan nyaris menabrak becak yang tiba-tiba keluar dari gang kecil, kecepatannya menurun.
Itulah momen Maira.
Dengan keberanian nekat, ia menarik rem, memiringkan motornya ke kiri, dan menendang keras bagian belakang motor si penjambret.
BRUK!
Motor itu oleng parah.
Pria itu terlempar ke trotoar, tas kulit terlempar ke tengah jalan. Sementara Maira ikut terguling bersama motornya, terseret di aspal yang dingin, basah, dan menyakitkan.
Namun ia tak peduli.
Rasa sakit di lutut dan sikunya tak sebanding dengan satu hal yang terus ia kejar.
Tas itu.
Orang-orang mulai berdatangan. Beberapa pria langsung mengepung penjambret yang berusaha kabur meski kakinya terkilir.
Warga sekitar memukulnya ringan, sampai akhirnya polisi patroli datang dan mengamankannya.
Maira merangkak, mengambil tas itu dari tengah jalan. Memeluknya erat, meski tubuhnya menggigil dan tangannya berdarah.
"Dek!" Suara seseorang terdengar dari arah zebra cross.
Maira menoleh.
Kakek tua tadi sudah berdiri, dibantu dua pria bersetelan jas hitam dan mengenakan jas hujan plastik tipis.
Dengan tertatih, ia menghampiri Maira.
"Ini tasnya, Kek." Maira menyerahkan tas itu sambil tersenyum lemah.
Sang kakek menatapnya tak percaya. Tangan tuanya bergetar saat menerima tas itu.
"Kamu... kejar dia sendirian?"
Maira mengangguk, menyeka air hujan yang menempel di dahinya.
"Iya... saya nggak bisa diam aja lihat Kakek dijambret."
Salah satu asisten mendekat. "Pak, kita harus segera kembali ke mobil. Anda kedinginan."
Tapi kakek itu tetap menatap Maira.
"Bawa dia juga. Pastikan dia tidak luka parah."
Maira buru-buru menolak. "Nggak usah, Kek. Saya beneran nggak apa-apa. Cuma lecet sedikit."
"Kamu sudah menolong saya. Setidaknya izinkan saya mengantar pulang atau mengajak kamu makan. Kamu basah kuyup, luka pula."
Maira tersenyum canggung. "Saya kebetulan lewat saja..."
"Tak ada kebetulan di dunia ini," ucap kakek itu pelan. Sorot matanya tajam namun hangat. "Siapa namamu, Nak?"
"Maira."
Kakek itu mengangguk. Namanya seperti ia simpan dalam hati. Dalam-dalam.
***
Tak lama kemudian, Maira sudah duduk di dalam mobil mewah beraroma kulit premium. Tubuhnya dibalut selimut hangat, sementara tangan mungilnya memegang teh panas yang mengepul.
Mobil itu melaju menuju restoran klasik yang tenang dan sepi, disiapkan khusus hanya untuk mereka.
"Terima kasih sudah menyelamatkan saya, Maira," ujar kakek itu tulus. "Kalau boleh tahu, kamu kerja di mana?"
Maira ragu. Gasi itu ingin menutupi kenyataan pahit hari ini. Namun akhirnya ia memilih jujur.
"Saya kerja di Dirgantara Group, Kek. Di divisi desain produk."
Gerakan tangan kakek itu terhenti.
"Dirgantara?" tanyanya pelan, tak seperti kaget... lebih kepada heran.
"Iya," jawab Maira.
"Nama lengkapmu siapa tadi?"
"Maira Maharani."
Lelaki tua itu menatap Maira. Lama. Begitu dalam, hingga membuat Maira merasa tidak enak.
"Ada yang salah, Kek?"
Kakek itu tersenyum kecil. "Tidak... tidak apa-apa." Tapi matanya seolah menyimpan sesuatu yang lebih.
"Kamu tinggal di mana?"
"Sama adik saya. Dia masih sekolah. Orang tua kami sudah meninggal."
"Maaf..."
"Nggak apa-apa," Maira menangkup gelas tehnya, mencoba tetap tersenyum. "Saya sudah terbiasa sendiri."
Kakek itu mengangguk pelan. Lalu berkata, "Kalau boleh tahu... siapa nama lengkap kakek?"
"Hartawan Dirgantara."
Jantung Maira seolah berhenti berdetak.
Mulutnya terbuka sedikit. Ia menelan ludah. Nama itu... sangat familiar.
"Kakek... Kakek Hartawan?"
Hartawan tersenyum lembut. "Jadi kamu tahu?"
"T-tau..." Maira menunduk gugup. "Saya kerja di perusahaan milik keluarga Kakek..."
Hartawan justru tertawa kecil. "Lucu sekali. Dunia memang tak pernah berhenti memberi kejutan."
***
Beberapa menit kemudian, setelah Maira diantar pulang ke rumah kontrakan kecilnya, mobil mewah itu masih berhenti di parkiran restoran.
Di dalam, Hartawan duduk terdiam, memandangi hujan yang turun rintik-rintik di luar kaca.
Pak Salman, asistennya, duduk di samping.
"Anda terlihat sangat memikirkan sesuatu, Pak."
Hartawan menghela napas panjang. "Gadis itu... bukan orang sembarangan."
"Dia tampak sederhana. Tapi keberaniannya luar biasa."
"Dan lebih dari itu... dia tulus."
Pak Salman mengangguk. "Apa Anda punya rencana, Pak?"
Hartawan memejamkan mata sejenak, lalu menatap langit kelabu.
"Panggil Axel. Suruh dia datang malam ini ke rumah."
"Baik, Pak. Perlu saya beri tahu alasannya?"
Hartawan menyunggingkan senyum kecil, mata tuanya bersinar penuh siasat.
"Tak perlu. Biar dia datang dengan amarah seperti biasa. Lalu biar aku beri kejutan yang akan mengubah hidupnya."