CHAP 22 - Calon Menantu
Nath dan Aldo tergesa - gesa menuju ruang rapat karena mendapatkan telepon dari Cindy, sekretaris Aldo, bahwa Aditya sudah sampai ke ruangan rapat dan Aldo harus segera menghadapnya untuk membicarakan masalah hotel di Bali. Ternyata setelah sampai ruang rapat, hanya ada Aditya saja yang berada di ruangan.
“Al...papa mau bicara sesuatu.” Panggil Aditya dan Aldo segera mendatanginya.
“Ada apa pa? Ada masalah lain?” Aldo penasaran mendekati Aditya. Sepertinya ada masalah yang sangat gawat yang ingin dibicarakan rahasia oleh Aditya sebelum rapat di mulai.
“Hmm...wanita ini siapa?” Tanya Aditya penasaran melihat Nath.
“Ah.. ini Nath. Nath, ini kenalin papa ku.” Jelas Aldo menarik tangan Nath untuk lebih mendekat kepada Aditya.
“Ah...ini pacar kamu yang diributi sama mama ya… hahahah..” Aditya tertawa senang melihat wanita yang menjadi asisten pribadi Aldo adalah kekasih anaknya tercinta. Ia langsung menjabat tangan Nath. Ia senang dengan wanita yang dipilih Aldo. Sepertinya wanita yang pintar dan bisa membantu Aldo. Mata Nath yang sangat bersinar, sangat membuat Aditya terpesona.
“Uda pa jabat tangannya, jangan lama - lama!” Protes Aldo memisahkan tangan Aditya dan Nath.
“Ya ampun Al, masa jabat tangan sama calon menantu aja kamu protes sih. Masa cemburu sama papa sendiri!” Goda Aditya sambil tersenyum, begitu juga dengan Nath yang tersenyum kepada Aditya. Sedangkan Aldo, ia cemberut, tidak rela karena tangan Nath disentuh pria lain, walaupun itu papanya sendiri.
“Ya…..gitu deh pa.” Aldo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Nath hanya bisa memandang Aldo geli, karena sikapnya. Sangat lucu melihat Aldo seperti remaja yang baru jatuh cinta sehingga sekarang menjadi bucin terhadapnya.
“Dasar kamu… Bucin banget sih. Ya udah sekarang kita bicarakan masalah penting.” Aditya langsung duduk di kursinya diikuti oleh Nath dan Aldo. Nath masih tersenyum malu melihat kelakuan Aditya dan Aldo. Sudah lama Nath tidak bertemu dengan Aditya, dan sampai saat ini wajah Aditya tidak berubah sama sekali. Masih tampan seperti dulu, gagah walaupun rambut sudah mulai beruban. Aditya yang masih sering menjahili Aldo jika berdekatan dengan Diana. Masih om yang sama seperti dulu.
“Gini Al, sebenarnya masalah batalnya proyek dengan Akira ini benar atau tidak? Ada apa sebenarnya? Dan masalah kematian Sastria, apakah ada sangkut pautnya dengan masalah hotel Bali?” Tanya Aditya penasaran.
“Saya gak tau pa, ini ada hubungan atau enggak dengan kematian Sastria. Namun proyek di bali dengan Akira gak batal. Aku dan Nath lagi mencoba menjebak siapa yang berusaha menyabotase hotel bali, ternyata memang ada Sastria di belakangnya, tetapi otak di balik Sastria belum berhasil kami tangkap. Akira juga belum mendapatkan telepon dari manapun menyangkut hotel di Bali. Aku masih mencurigai mereka memang berusaha menggagalkan saja atau mereka ingin mengambil alih. Aku masih menyelidiki.” Jelas Aldo.
“Baik, papa mengerti.” Aditya mengangguk - angguk mengerti. “Oh ya, untuk Nath harus berhati - hati ya, jangan sampai dia terlibat banyak. Papa takut akan membahayakan Nath. Ok!.” Lanjut Aditya memperingatkan.
“Iya Pak. Saya akan berhati - hati.” Jawab Nath tersenyum. Aditya memang orang yang penuh dengan perhatian dan misteri. Memang orang yang patut di curigai, tapi sangat sulit mencari kelemahan dan kesalahan yang dilakukan Aditya.
“Oh ya… hari ini kita ada meeting tambahan dengan DevGroup.” Tiba - tiba Aditya teringat meeting berikutnya dengan Devan. Temannya dan Dito yang sama - sama membangun usaha. Tapi Devan memilih membuat group tersendiri di luar negeri setelah Dito memutuskan untuk menikahi Lani. Devan dahulu adalah kekasih dari Lani, tetapi entah bagaimana caranya, akhirnya Dito menjadi suami dari Lani. Aditya masih tidak mengerti karena masing - masing pihak saling merahasiakan dan tidak ingin mengungkitnya.
“DevGroup?” Tanya Aldo penasaran. Ia tau DevGroup, tapi ia tidak mengerti urusan bisnis apa antara DevGroup dan SJH group, karena masing - masing berbeda jenis usaha. DevGroup di bagian otomotif dan penerbangan sedangkan SJH bergerak dalam bidang farmasi, perhotelan, real estate dan minyak sawit. Sangat Aneh.
“Iya… itu perusahaan papanya Citra.” Jelas Aditya kembali.
“Citra itu anak dari DevGroup?” Aldo bertanya dengan penasaran. Fiuh...pantas saja mama ngotot menjodohkannya.
“Permisi pak, saya ke toilet dulu ya… kebelet nih.” Potong Nath karena kebelet ke toilet. Dari tadi ia menahan karena ia kira akan membahas hal penting dengan Aditya, ternyata bukan hal yang terlalu penting.
“Oh baik Nath, silahkan.” Aditya mempersilahkan Nath ke toilet. Aldo pun tersenyum melihat Nath yang sudah menahan kebeletnya dengan muka tidak enak. Rasanya ingin menertawakan Nath tapi tidak berani, takut di jitak nanti di apartemen.
“Citra itu anaknya Devan. Teman papa.” Lanjut Aditya menjelaskan kepada Aldo setelah kepergian Nath ke toilet.
“Pantes. Dasar mama! Getol banget jodohin aku sama Citra. Padahal aku beneran gak suka sama itu anak.” Aldo gemas dengan mamanya sendiri. Memang mama selalu memilih dari kalangannya sendiri. Dulu ia menjodohkan dengan Diana, sekarang dengan Nath. Kalau dengan Diana, Aldo sangat suka, tapi kalau Citra, wanita itu bukan tipenya.
“By the way… kamu udah lama gak ketemu Citra kan? Terakhir waktu kamu sakit, dia datang ke apartemen, tapi kamu gak ada.”
“Oh ya...aku tau pa.” Jawab Aldo cekikikan.
“Kenapa kamu cekikikan gitu? Kamu sengaja gak buka pintu ya?” Aditya semakin mendekatkan posisi duduknya dengan Aldo. Ia berbicara pelan karena takut ketahuan Nath. Nanti bisa ada tragedi dengan anaknya jika Nath mengetahui.
“Iya...aku lihat koq di cctv pintu, ternyata dia gigih juga. Sampai 1 jam gak pulang.” Aldo dan Aditya tersenyum bersama.
“Dasar kamu. Raja tega. Kamu itu ada di unit kamu atau Nath? Katanya Nath juga gak masuk kerja.” Selidik Aditya.
“Al lagi jalan ke Ancol sama Nath. Lagi kencan, terus abis itu pulangnya makan di unit Nath.” Aldo tertawa puas karena memang ia berhasil mengerjai Citra. Ia sangat malas untuk berbicara dengan Citra. Saking malasnya, bertemu pun enggan.
“Ke Ancol. Ampun deh kamu… Terus makan di tempat Nath atau makan Nath? HAHAHAHAH...” Pikiran Aditya semakin menjadi m***m karena berpikir yang aneh - aneh tentang kelakuan Aldo yang baru saat ini.
Aldo tersipu malu dan pipinya memerah karena dibilang makan Nath. Memang maunya Aldo sih begitu, tapi tidak pernah kesampaian. Nath selalu menolak. Dasar papa bikin kesel aja. Pikir Aldo.
“Ketauan kamu. Dasar anak nakal!”
“Ah, kayak papa gak pernah muda aja sih.” Aldo berkelit.
“Ah.. papa muda gak senakal kamu tau!! Jangan sampai gak tanggung jawab ya kalau dia hamil!” Perintah Aditya. Ia tidak mau Aldo menjadi orang yang b******k dan tidak mau bertanggung jawab. Semua pilihan memang diserahkan kepada Aldo, tapi tetap ia harus bertanggung jawab.
“Alah… kayak aku gak tau aja. Papa kan dulu nakal banget sama mama demi dapat restu dari opa dan oma kan! Dasar pembohong! Papa lebih parah daripada aku!” Goda Aldo. Ia ingat betul mamanya pernah bilang, kalau dulu papa nya memaksa menghamilinya terlebih dahulu supaya direstui oleh orang tua mamanya.
Aditya bukan orang kaya sementara Felicia adalah anak konglomerat, ya demi cinta, apapun dilakukan oleh Aditya sampai ia berhasil membangun perusahaan yang besar. Tapi restu orang tua Felicia benar - benar sulit didapat walaupun Aditya sudah tergolong cukup berhasil. Mereka masih memikirkan tentang level Aditya, sehingga mau tak mau, Aditya dan Felicia berbuat nekat, yaitu secara sengaja hamil, sehingga akhirnya kedua orang tua Felicia terpaksa menyetujui pernikahan mereka.
“Hadeh… mama kamu nih. Buka rahasia aja!” Aditya memijat dahinya sendiri, malu jika mengingat apa yang ia lakukan dengan Felicia. Saking cintanya ia kepada Felicia, ia melakukan semua hal untuk Felicia. Hingga hari ini, ia sangat mencintai Felicia walau terkadang Felicia tidak percaya akan kesetiaannya, bahkan ia tahu bahwa Felicia mempekerjakan seorang detektif untuk memata - matainya. Padahal sedikitpun tidak pernah terpikir di benak Aditya untuk berselingkuh. Tapi karena kecemburuan Felicia yang begitu besar, itu menandakan bahwa Felicia sangat mencintainya. Tidak berpaling dari dirinya. Felicia yang selalu ada dan mendukung dirinya dalam senang dan susah.
“Tapi pa… aku memang mau Nath hamil sih, aku juga pengennya giat bikin anak, biar papa dan mama cepat dapat cucu. Tapi… .” Aldo berbisik di telinga Aditya, ia takut Nath bisa mendengar keinginannya.
“Dasar kamu! Papa nih udah setuju. Nikahin aja. Gak usah pake hamlin dulu.” Aditya berbisik ke telinga Aldo.
“Mama?”
“Itu urusan papa. Papa siap back up.” Aditya menepuk dadanya sendiri, membanggakan diri yang bisa mengendalikan Felicia.
“Hadeh...back up segala. Papa aja nurut bener sama mama, ketakutan gitu ditinggalin sama mama, gimana bisa backup aku.” Aldo meledek Aditya. Memang Aditya paling nurut dengan Felicia. Seperti kerbau dicucuk hidung. Jika Felicia sudah bilang A, Aditya pasti ikut, tidak berani membantah.
“Dasar anak kurang ajar. Bisa - bisanya menghina papa sendiri. Papa tu…...”
“Papa tu apa???” Tiba - tiba seorang wanita paruh baya menyela pembicaraan antara ayah dan anak ini dan semakin lama semakin mendekat ke arah Aditya, ya itu Felicia.
“Eh ada mama…. Papa gak kenapa - kenapa ma. Koq mama bisa ada disini?” Aditya tiba - tiba menjadi gagap jika ada Felicia. Felicia memang mencuri dengar apa yang dibicarakan Aditya dan anaknya. Walaupun tidak seluruhnya, tapi ia sangat merasa terhibur dengan semakin dekatnya Aditya dan Aldo saat ini. Suatu perkembangan yang sangat menyenangkan bagi Felicia.
Dulu hubungan ayah dan anak sempat renggang karena Aldo mendengar rumor bahwa Aditya yang membuat Dito wijaya menjadi bangkrut. Aldo sangat marah pada papanya, dan Aditya sendiri tidak dapat menjelaskan secara detail apakah ia terlibat atau tidak dengan bangkrutnya Dito. Hal ini menyebabkan Aldo mogok berbicara bertahun - tahun kepada Aditya. Bahkan Aldo memilih pindah ke apartemen daripada rumahnya sendiri. Felicia sudah memohon agar Aldo tidak melakukan hal itu, tetapi Aldo tetap bersikeras untuk pindah dan tidak ingin bertemu dengan papanya sendiri.
Hampir 6 tahun Aldo tidak berbicara dan menghindari. Dan setahun belakangan ini, Aldo berbicara hanya untuk keperluan pekerjaan saja, tidak ada senyum maupun bercanda dengan papanya sendiri. Tapi anehnya setelah Nath datang, Aldo mulai mengalami perubahan. Felicia sangat bersyukur akan hal ini. Meskipun ia belum menyukai Nath seutuhnya, tapi setidaknya ia mulai belajar menyukai calon menantunya itu.
“Gak usah alihin pembicaraan pa. Apa yang papa takut dari mama? Tadi mama dengar Aldo ngomong papa ketakutan gitu.” Felicia langsung duduk di sebelah Aditya dengan pandangan yang menodong untuk Aditya berbicara jujur. Felicia berusaha menahan tawanya sendiri melihat suami tercintanya gelagapan seperti maling yang ketahuan.
“Hmm… gak ma… gak ada apa - apa. Aku cuma ngobrol biasa aja sama Aldo. Cuma kerjaan aja koq.”
“Dasar.. Papa sama Aldo suka main rahasia - rahasia sama mama. Nanti mama perhitungan sama mantu mama ya!” Balas Felicia mengancam. Bukannya kesal, Aditya malah gemas dengan sikap Felicia yang sangat manja. Merengek seperti minta diberi permen. Perlahan Aditya mendekati Felicia dan mencium pipinya. Felicia langsung tersipu malu dan memukul pelan lengan Aditya. Sedangkan Aldo, menutup matanya sendiri.
“Haduh...gak usah berbuat m***m di sini ya! Malu sama umur pa! Ngotorin mata Aldo yang masih suci aja sih!” Perintah Aldo sambil menutup mata. Ia malu sendiri melihat kelakuan kedua orang tuanya. Dari dulu memang orang tuanya agak tidak tau malu, terlalu romantis jadi membuat orang lain di sekitar yang melihat mereka menjadi malu sendiri.
“Ntar kamu juga gitu sama istri kamu! Protes aja! Ini artinya papa sayang sama mama. Dasar kamu!” Protes Aditya disambut pelukan Felicia yang tertawa melihat kelakukan 2 orang yang ia sayangi.
15 menit kemudian, para direksi dan petinggi SJH group memasuki ruang rapat dan langsung membahas permasalahan perusahaan saat ini. Felicia sebagai salah satu pemegang saham tentu saja harus ikut dalam rapat ini. Nath juga sudah masuk dan langsung duduk di belakang kursi Aldo untuk mencatat apa saja yang dibutuhkan dalam rapat.
“Jadi gini saudara - saudara sekalian, kita saat ini rapat untuk membahas kerja sama dengan DevGroup. Saat ini sedang dalam pembicaraan untuk membuat mobil bersama.” Aditya membuka rapat.
“Apakah kita akan membuka perusahaan baru untuk bekerja sama dengan DevGroup Pak?” Tanya Aldo.
“Oh tentu saja. Maka dari itu, hari ini saya mau kita semua voting siapa yang akan menjadi direktur di perusahaan baru dan nama perusahaannya.”
“Bagaimana jika Pak Aldo saja yang pegang perusahaan baru pak?” Usul seorang direksi yang memang sudah lama bekerja sama dengan SJH group dan sangat mengagumi kehebatan Aldo dalam memimpin perusahaan.
“Baiklah, coba kita vote terlebih dahulu ya bapak dan ibu. Coba tulis di kertas, kira - kira siapa yang kalian inginkan.” Usul Aditya. Sebenarnya ia tidak ingin Aldo memegang perusahaan yang berhubungan DevGroup. Ia memiliki kecurigaan tersendiri terhadap Devan, tapi ia terpaksa harus membuat perusahaan ini atas dasar persahabatan dengan Devan. Ada hutang budi yang harus dilunasi kepada Devan, sehingga mau tidak mau ia harus menuruti permintaan Devan membuat perusahaan merger.
Awalnya, perjodohan antara Devan dan Citra sangat Aditya tentang, tetapi karena Felicia selalu memaksa, mau tidak mau, Aditya mengikuti saja. Ia sangat bersyukur bahwa Aldo tidak suka dengan Citra, karena sebenarnya ia pun tidak suka terhadap Citra. Apalagi berbesan dengan Devan, benar - benar hal yang paling dihindari oleh Aditya. Sisi gelap Devan sangat diketahui oleh Aditya. Beberapa kegiatan mafia dari Devan pun diketahui oleh Aditya. Maka wajar saja ia sangat menentang. Sementara Felicia dengan bodohnya menjerumuskan diri untuk berbesan dengan Devan. Benar - benar suatu hal yang bisa menjadi malapetaka.
Aditya takut Aldo akan terlibat langsung dengan Devan, ada suatu rahasia besar yang Aditya simpan rapat agar tidak diketahui orang lain tentang Devan. Ia juga tahu ada orang dalam perusahaannya yang sedang berkhianat dan ingin menjebak Aldo dan dirinya, maka sebisa mungkin ia akan mencegah Aldo menjadi pemimpin perusahaan merger dengan DevGroup. Tapi apabila memang Aldo yang harus menjadi pemimpin perusahaan merger itu, Aditya harus melindungi dengan sekuat tenaga agar Aldo tidak terjerat kelicikan Devan.
Setelah menuliskan nama yang mereka inginkan, para direksi segera mengumpulkan kertas yang mereka tulis kepada sekretaris dari Aditya, dan mereka mulai menghitungnya di papan. Terdapat 4 nama yang di vote terbanyak
“Baiklah, setelah voting ini ternyata vote terbanyak adalah Bapak Aldo.
“Oh my God, what should I do?” Jerit Aditya dalam hati. (Ya Tuhan, Apa yang harus aku lakukan?)
See you next chapter yaaa... Love you
Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga
Muach...muach..muach..
Siez