Bab 2. Mendapat Pekerjaan Baru

1023 Words
Rhea tidak terima dengan perjodohan yang direncanakan oleh kakeknya, dahulu. Sekarang sudah bukan lagi zamannya Siti Nurbaya, di mana seorang gadis harus menikah dengan pilihan orang tua, bukan suami pilihan sendiri. "Aku menolak dengan tegas perjodohan itu. Titik!" Rhea bangkit dari duduknya, lalu pergi ke kamar. "Rhea, tunggu! Papa belum selesai bicara," teriak Papa Rajasa dan Mama Rinjani berusaha menenangkannya. "Biarkan Rhea berpikir dulu. Mungkin dia sedang capek, baru pulang kerja. Besok pagi kita bicarakan ini lagi dengannya," ucap Mama Rinjani dan akhirnya Papa Rajasa pun terdiam. Hari ini terasa menjadi hari paling buruk dalam hidupnya bagi Rhea. Dia dipermalukan di depan umum oleh tuan muda arogan, lalu dipecat dari pekerjaannya, dan sekarang dia akan dijodohkan karena perjanjian kakeknya. Pernah mengalami kisah cinta yang memilukan membuat Rhea enggan menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Apalagi ini dengan orang yang tidak dia kenal. Dia yakin kalau kedepannya hubungan mereka akan buruk. Karena sudah menjalani hari yang sangat melelahkan baik secara fisik dan mental, Rhea jatuh tertidur pulas sampai menjelang pagi. Dengan tidur gadis itu merasa bebannya berkurang. *** Pagi-pagi melihat Rhea bersantai sambil memainkan handphone, membuat Mama Rinjani merasa heran karena tidak seperti biasanya. Ternyata bukan wanita paruh baya itu saja yang memerhatikan sang gadis, Papa Rajasa yang sudah bersiap akan pergi ke kantor pun merasa heran. "Kenapa kamu belum mandi?" tanya Papa Rajasa kepada putrinya. "Nanti saja, Pah. Aku lagi mencari loker yang cocok untukku," jawab Rhea menoleh ke arah sang ayah. "Loker? Untuk apa kamu mencari lowongan pekerjaan?" tanya laki-laki paruh baya itu sambil duduk di samping anak sulungnya. "Karena aku kemarin dipecat dari restoran," jawab Rhea yang kini fokus kembali ke layar handphone. "Apa? Kok, bisa kamu dipecat!" Papa Rajasa terkejut. Gaji yang didapatkan oleh Rhea di restoran itu bisa membantu perekonomian keluarganya. "Gara-gara seorang tuan muda arogan, Pah. Dia yang sudah nabrak aku, tapi aku yang disalahkan. Sudah dipecat tidak dapat uang pesangon lagi, karena harus mengganti pakaian dan sepatu tuan muda itu yang harganya ratusan juta." Mulut Papa Rajasa menganga mendengar ucapan putrinya. Namun, kemudian tiba-tiba saja ekspresi wajahnya berubah. "Memang paling bener kamu itu cepat menikah. Dengan begitu kamu tidak perlu mencari kerja karena akan ada suami yang menafkahi kamu," ujar Papa Rajasa. Rhea yang sedang asyik membaca beberapa persyaratan lowongan pekerjaan, langsung menoleh kembali ke arah ayahnya. Dia sudah bilang semalam tidak mau dijodohkan, tetapi sang ayah masih saja berharap perjodohan itu terjadi. "Tidak mau!" Rhea pun pergi meninggalkan ruang tengah. "Rhea, ini untuk kebaikan kamu dan keluarga kita!" teriak Papa Rajasa, tetapi Rhea tetap mengabaikan ucapan itu. *** Terik sinar matahari yang sangat menyengat membuat Rhea berlari dari parkiran masuk ke kafe. Dia akan bertemu dengan teman baiknya. "Gila, panas banget hari ini! Kulitku terasa gosong lama-lama di luar," gerutu gadis berpenampilan tomboi yang memakai celana jeans sobek, kaus oblong berukuran besar dan kemeja kotak-kotak yang berukuran lebih besar lagi sebagai lapisan luar, topi terbalik, dan rambut diikat satu. "Sorry, banget! Aku panggil kamu dalam cuaca panas begini. Karena aku baru saja mendapatkan kabar mendadak dan ini sangat penting buat kamu, Rhea," ucap perempuan yang berpenampilan anggun, berbanding terbalik dengan temannya. "Kabar apa itu, Eva?" tanya Rhea penasaran. "Sepupu jauhku sedang membutuhkan seorang asisten pribadi untuk sementara waktu sampai asisten pribadi sehat dan siap bekerja kembali," jawab Eva. "Jadi, itu hanya pekerjaan sementara waktu?" Rhea terlihat kecewa. "Iya. Tapi, walau ini hanya pekerjaan sementara waktu, gaji yang ditawarkan itu besar. Dua digit, loh!" ujar Eva sambil mengacungkan kedua jari tangannya ke depan muka Rhea. Mendengar itu mata Rhea langsung berbinar. Penawaran yang sangat fantastis baginya yang baru saja lulus kuliah diberi gaji sebesar itu. "Mau! Aku mau!" Rhea langsung bersemangat. Dengan uang gaji sebanyak itu Rhea bisa mengumpulkan uang untuk modal usaha yang akan dirintisnya nanti. Dia sempat berpikir ingin membuka kafe dekat lingkungan sekolah yang tidak jauh dari rumahnya. Dengan begini dia bisa mewujudkan keinginannya itu. "Besok kamu datang saja ke rumah keluarga Darmawangsa sambil membawa surat lamaran kerja. Kalau bisa sebelum jam delapan pagi kamu sudah ada di sana. Karena seleksi pencarian asisten ini tidak dipublikasikan pada publik. Hanya beberapa orang saja yang tahu dan diizinkan memberi tahu kepada orang terdekat saja," jelas Eva dan Rhea mengangguk dengan wajah berbinar karena dia merasa menjadi salah seorang yang beruntung itu. *** Keesokan harinya Rhea datang ke kediaman keluarga Darmawangsa. Kali ini penampilannya lebih sopan walau tetap memakai celana kain panjang berwarna hitam, kemeja putih, dan blazer senada dengan bawahnya, juga sepatu pantofel hitam mengkilap. Seorang satpam membukakan pintu gerbang dan meminta Rhea untuk masuk ke sebuah ruangan yang ada di pojok bangunan rumah. Gadis itu pun berjalan menuju ke sana dengan langkah penuh percaya diri. Ternyata yang datang untuk melamar pekerjaan cukup banyak, ada sekitar 25 orang. Pihak keluarga Darmawangsa yang melakukan interview ada lima orang. Mereka adalah orang kepercayaan yang bekerja di perusahaan dan rumahnya. Hanya kepala pelayan saja yang bekerja di kediaman keluarga Darmawangsa, sisanya orang yang memiliki jabatan penting di Perusahaan DARMA JAYA COMPANY. Setelah melakukan serangkaian pertanyaan dan tes uji skill dan kompetensi, akhirnya Rhea yang terpilih. Dia pun melakukan penandatanganan kontrak kerja dengan waktu yang tidak ditentukan sampai asisten pribadi sebelumnya sehat dan siap untuk bekerja kembali. "Akhirnya ... aku punya pekerjaan lagi!" teriak Rhea di dalam hati. Senyum lebar tercipta menghiasi wajahnya. "Aku harus segera memberi tahu mama." Ketika Rhea berjalan di halaman dan melewati sebuah pohon jambu air, terlihat seorang laki-laki sedang duduk di atas dahan yang kokoh. Dia tidak tahu siapa orang itu dan sedang apa di sana. Mata Rhea yang awas melihat ada beberapa ulat hijau di dekat laki-laki itu. "Awas ada banyak ulat!" teriak Rhea spontan. Deva yang sedang asyik memakan buah jambu di atas dahan itu terkejut. Tubuhnya hilang keseimbangan dan membuatnya terjatuh. "Awas!" Rhea berusaha menangkap tubuh Deva sebelum menyentuh tanah. Deva memejamkan mata dan siap merasakan sakit akibat menghantam tanah. Namun, sampai beberapa saat hal itu tidak dia rasakan. Dengan perlahan mata tuan muda terbuka. Hal pertama yang dilihat olehnya adalah wajah seorang wanita. Ya, Rhea berhasil menangkap tubuh Deva. Kini laki-laki itu berada dalam gendongannya. "Kamu!" Keduanya sama-sama terkejut karena ingat betul dengan wajah orang yang kini sedang ditatapnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD