"Hallo, Assalamualaikum, Bu Arum?"
"Walaikumsalam Pak Alex, tumben Bapak telpon saya, biasanya langsung ke Mas Ariel, ada apa ya Pak?" tanyaku penasaran.
"Maaf sebelumnya Bu, saya sering telpon ke kantor tetapi selalu dialihkan ke Pak Ariel, katanya Bu Arum sudah memberikan wewenang untuk mengurus perusahaan milik Almarhum Pak Ali," terangnya.
"Saya mau telpon ke ponsel ibu, selalu dilarang katanya sudah dipercayakan sama Pak Ariel, dan Alhamdulillah akhirnya yang mengangkat ibu sendiri," terangnya lagi.
"Memang Pak Alex, soalnya mas Ariel yang memintanya karena beralasan saya memang tidak mengerti masalah di perusahaan itu," jawabku.
"Atau begini saja bu Arum, bisa tidak Bu kita ketemuan jam sepuluh pagi ini di cafe melati saja, tapi ingat Bu jangan sampai orang rumah tau apalagi dengan Pak Ariel, ini penting Bu Arum," ucap Pak Alex.
"Baiklah Pak, saya akan kesana," jawabku.
"Apa maksudnya ini, mengapa Pak Alex tiba-tiba ingin bertemu," selidikku.
Sebaiknya aku telpon ibu dulu, kalau aku mau ke sana dengan Raina.
"Ini kesempatan yang bagus, siapa tau Pak Alex punya sesuatu yang bisa dijadikan bukti kalau mas Ariel lagi bermain api denganku.
Aku memandikan Raina terlebih dahulu, setelah selesai aku pun berganti pakaian gamis dan sekaligus minta izin ke Mas Ariel kalau aku mau keluar ketempat ibu.
"Loh dek, kok kamu juga sudah rapi mau kemana kamu?" tanya suamiku yang masih asyik makan dengan lahapnya.
"Mas, kan sudah janji hari ini mau ketempat ibu, lupa ya?" gerutuku.
"Iya, tapi kan mas lagi ada meeting dadakan, nggak mungkinkan mas ninggalin gitu saja," jawabnya.
"Maka dari itu Mas, mumpung libur boleh dong Arum refreshing dulu ke tempat ibu," jawabku dengan enteng.
"Terus yang bersih-bersih rumah siapa dong kalau kamu ikutan pergi, ndak mungkin 'kan ibu kamu suruh-suruh," ucap Mbak Sukma yang ikut nimbrung.
"Sewa aja pembantu mbak, Arum juga kan mau jalan-jalan suntuk di rumah terus, setiap hari berkutat di sini-sini aja, lihat nich tangan Arum sudah kapalan semua nggak ada bagus-bagusnya dilihat. Arum juga pingin ke salon mas, mau manjain diri sendiri, anggap aja untuk hadiah pernikahan kita," jawabku.
"Alah orang kampung tau apa sih dengan namanya fashion, kecantikan, nggak bakalan tau, udah nggak usah neko-neko di rumah aja," protes Mbak Sukma.
Kulihat Mas Ariel nggak suka melihatku pergi keluar, ada sesuatu yang ia sembunyikan sampai-sampai setiap aku mau pergi keluar selalu ada saja yang diperdebatkan. Namun untuk kali ini aku harus bisa keluar dari rumah ini bagaimanapun caranya.
"Ada apa pagi-pagi ribut, coba kalau makan itu mbok ya tenang," sahut ibu mertua yang baru keluar dari kamarnya.
"Ini loh mah, si Arum mau keluar, mau refreshing dulu katanya," ucap Mbak Sukma dengan tersenyum sinis.
"Oalah, ngapain toh Rum, nanti setelah refreshing kamu bawaannya jadi malas nggak ngapain-ngapain, masa mamah yang bersih-bersih, kamu nggak kasihan sama mamah yang sudah tua renta ini?" ucap ibu mertua dengan lembutnya.
"Justru itu Mah, Arum sudah mendatangkan dari yayasan untuk jadi pembantu di sini. Arum kan nggak tega kalau Mamah yang bersih-bersih," jawabku sekenanya.
Nampak dari raut wajah mereka tidak menyukai tindakanku. Mereka semanis mungkin di depanku tetapi dibelakang dengan gampangnya mereka menghempaskanku ke tanah.
"Kamu nggak ngomong-ngomong kalau mau ngambil ART, kenapa nggak bilang Rum?" tanya mas Ariel dengan kesal.
"Habis, Arum capek Mas membersihkan semua di rumah ini, belum kerjaan lain, terus jagain Raina, waktu istirahat Arum cuma malam itu gin Arum tidur hanya lima jam sehari, itu juga sudah nggak bagus lho buat kesehatan," jawabku lagi.
"Aku 'kan kerja Rum, mana sempat lah aku ngurusin Raina, lagian kamu kamu 'kan tantenya jadi wajar dong kalau kamu ikut ngerawat," tukas mbak Sukma tak mau kalah.
"Sekali-kali lah, sekarang Arum tanya sama Mas, kapan sih Mas terakhir kali ngajak Arum jalan-jalan?" nggak pernah kan biar cuma ke mall aja dari nikah sampai sekarang bisa dihitung pakai jari," kilahku.
"Pokoknya Arum mau keluar, atau ada yang kalian sembunyikan dari Arum?" tanyaku.
Mereka bertiga saling berpandangan entah apa yang ada di benak mereka. Dan sekilas mamah memberi kode mata ke Mas Ariel.
"Nggak ada kok, kamu itu ngomong apa ngawur aja, ya sudah kalau pergi mas antar ke rumah ibu nanti pulangnya mas jemput di sana," ucap suamiku.
"Gitu dong, makasih ya mas, kamu memang suami yang pengertian," jawabku dengan tersenyum sinis,
"Bentar ya mas Arum siapkan dulu perlengkapan Raina," kataku sambil berlalu pergi mengambil keperluan Raina.
Aku sengaja menguping pembicaraan mereka dibalik pintu kamar Raina, walaupun mereka berbisik-bisik masih samar-samar aku mendengar, berarti aku harus menyadap pembicaraan mereka agar tahu apa saja rencana yang mereka susun untukku.
"Ya Allah maafkan hamba-Mu ini yang baru pertama kali menguping pembicaraan orang lain," batinku.
"Riel, kenapa kamu biarkan Arum pergi sendiri keluar, Mama takut dia menghubungi Pak Alex pengacara kita," ucap mamah yang merasa cemas di wajahnya.
"Nggak apalah Mah, sekali-kali, kalau kita nggak ngasih izin nanti ketahuan semua rencana kita, lagian Ariel kasih nomor Arum asal kok, terus untung aja ada Surat Kuasa yang ditandatangani si Lugu itu, jadi Pak Alex sudah tidak banyak bertanya lagi.
"Dan Ariel sudah cari informasi, kalau Pak Alex lagi di luar kota selama dua bulan, jadi untuk saat ini kita mah bebas, mau ngapain kan?"
"Benar juga kamu Riel, enak aja warisan papah dia yang menikmati, kita loh anak-anaknya masa percaya sama Arum yang kampungan itu, bagusnya dia itu jadi pembantu, bukan Nyonya, hahaha ...gelak tawa mereka.
"Astagfirullah ya Allah ... ternyata selama ini kalian membohongiku, baiklah sayang sebelum kamu melangkah lebih jauh, aku harus maju dua langkah di depanmu, kamu belum tau si lugu Arum ini," gumanku.
Setelah selesai mempersiapkan semua keperluan Riana, aku kembali keruang makan.
"Sudah semua Rum, nggak ada ketinggalan," tanya Mama yang masih asyik makan dengan lahap.
"Iya Ma, sudah," jawabku singkat.
"Oh ya Ma, nanti jam sepuluh, orang dari yayasan akan datang ke sini, minta tolong ya Ma jelaskan apa saja yang mau dikerjakan," ucapku lagi.
"Loh, kamu jadi ambil pembantu dari yayasan, 'kan tau sendiri Mama nggak suka ada pembantu di rumah, kerjanya pasti main HP melulu," sahutnya.
"Iya tapi Arum capek Ma, mengurus rumah sendirian, belum kerjaan lain, yang penting kan selalu diawasi, lagian 'kan Ada Arum juga yang bantuin, pokoknya Mama nggak usah khawatir," jelasku.
"Ya sudah terserah kamu saja," jawabnya yang terlihat tidak suka dengan tindakkan aku ini.
"Mas, sampai jam berapa meetingnya?" tanyaku sambil menyuapi Raina makan.
"Kayanya sampai malam, makanya nanti aku jemput malam aja ya, kamu juga'kan lagi tempat ibu nggak apa-apa ya?"
"Oh, kalau gitu Arum bawakan makan siang ya ke kantor?"
"Nggak usah," jawab mereka serentak.
"Kok kalian serentak jawabnya, kan yang Arum tanya Mas Ariel, bukan mbak Sukma atau Mama," jawabku bingung.
"Eh, maksudnya gini Rum, nggak usah ke kantor bawa makan siangnya Ariel, kita bisa makan diluar soalnya yang klien satunya ngajak lunch bareng di restoran, jadi sayang kan kalau capek-capek ke kantor Ariel nya nggak ada," kilah mbak Sukma.
"Ya udah," jawabku.
Setelah selesai acara makannya, kami pun segera pergi, sebelum ke kantor Mas Ariel mengantarku ke rumah Ibu. Jarak antara rumah Ibu dengan rumahku hanya sekitar 6 km saja.
Sampailah kami di rumah ibu yang asri, karena beliau suka bercocok tanam. Kami pun disambut dengan suka cita, maklum aku jarang sekali ke rumah ibu lantaran Mas Ariel beralasan sangat sibuk, padahal dia malas sekali bertemu dengan ibuku.
Ya, ibuku itu memang cerewet, tapi beliau cerewet karena ibu memang punya kebiasaan menilai penampilan setiap orang. Aku dulu sebenarnya sudah diwanti-wanti ibu agar jangan terlalu mencintai keluarganya, terutama mas Ariel, karena dia punya niat yang tidak baik, itulah yang selalu kuingat perkataan Ibu dan ternyata terbukti.
Karena aku bucin, b***k cinta yang tidak tahu mana yang baik dan yang buruk. Hanya karena perjodohan kami dipersatukan. Selama lima tahun ku berlayar tetapi ternyata akan kandas ditengah jalan, sebelum itu terjadi maka aku harus bertindak dengan cepat.
"Assalamualaikum, Bu!" seruku dan langsung menghambur memeluk ibu yang melahirkan aku itu dengan sedikit air mata.
"Walaikumsalam sayang, akhirnya kamu datang juga, kangen banget ibu sama kamu nak?"
"Apa kabar nak Ariel?" tanya ibu kepada Mas Ariel.
"Alhamdulillah baik Bu," jawab suamiku.
"Maaf Bu, Ariel cuma nganterin Arum, soalnya di kantor mau meeting, nanti malam Ariel jemput Arum lagi," jelasnya lagi.
"Ya udah, nggak apa-apa, tapi lain kali ke sini jangan alasan sibuk di kantor ya," kata ibuku dengan memicingkan matanya ke suamiku.
"Bbb... baik bu, saya pamit dulu, Assalamualaikum ...
"Walaikumsalam."
Setelah kepergian Mas Ariel, aku pun menceritakan semuanya kepada ibu apa yang baru saja aku dengarkan.Ibu sangat marah, geram dengan tingkah laku keluarga mas Ariel. Dengan bantuan ibu, aku pun menyusun rencana yang matang untuk membalas sakit hatiku ini.
"Tunggu saja Mas apa yang bisa dilakukan oleh seorang si lugu Arum ini," gumanku.