Mencoba Untuk Ikhlas

1356 Words
Aaron mengedarkan pandangan ke sekeliling. Saat ini ia sedang berada di sebuah rumah sederhana milik keluarga Shena. Jika dibandingkan dengan tempat tinggalnya, rumah ini tidak ada apa-apanya. Terdapat beberapa bingkai foto yang menggantung di dinding. Aaron meringis saat melihat ada foto yang terdapat Shena, Amanda, dan juga Yudha sedang tersenyum bahagia. Dan kini, kebahagiaan keluarga kecil mereka telah Aaron hancurkan. Shena berjalan sembari membawa segelas air putih, lalu meletakkannya di atas meja. Kemudian ia duduk di samping Amanda. "Terima kasih," ucap Aaron sembari tersenyum tulus. Shena mendengus pelan, memalingkan wajah ke arah lain. "Sekarang cepat katakan apa tujuan kamu datang ke sini?" Aaron menghela napas panjang. "Saya benar-benar minta maaf atas apa yang telah terjadi. Saya tahu, maaf dari saya gak akan bisa mengembalikan Om Yudha. Karena itu, saya akan menyerahkan diri ke kantor polisi atas apa yang telah saya lalukan sampai membuat Ayah kalian meninggal dunia," ujarnya dengan tatapan sayu. Aaron sudah pasrah untuk segala apa pun yang akan terjadi pada dirinya. Sekalipun nanti, ia akan menghabiskan sisa waktunya di balik jeruji besi. Shena menganggukkan kepala. "Bagus deh kalau begitu. Memang sudah seharusnya kamu sadar kalau kamu adalah seorang pembunuh. Dan penjara memang tempat yang tepat untuk seorang pembunuh seperti kamu," ucapnya menatap datar pada Aaron. "Kak, jangan bicara seperti itu. Bang Aaron bukan pembunuh. Apa yang terjadi pada Ayah, itu sudah takdir dari Tuhan." Amanda membuka suara. Membuat Shena gemas pada adiknya itu, karena lebih membela Aaron daripada dirinya. Padahal jelas sekali kalau laki-laki asing itu yang telah menabrak ayah mereka sampai kehilangan nyawa. "Manda, kamu kenapa terus membela pembunuh itu? Dia memang pantas masuk penjara," ucap Shena menatap tidak suka pada adiknya. Amanda menggelengkan kepala. "Cukup, Kak. Manda bukan bermaksud untuk membela Bang Aaron. Tapi memang ini sudah jalannya, Ayah harus meninggal dengan cara seperti ini. Kecelakaan itu juga murni terjadi tanpa ada kemauan dari Bang Aaron. Jadi Manda minta, Kak Shena stop menyalahkan Bang Aaron dan mengatainya pembunuh," ujarnya mencoba memberi pengertian pada Shena. Shena berdecak kesal. Ia tidak suka kalau Amanda terus membela Aaron yang jelas-jelas adalah pelaku dari kecelakaan itu. Aaron tersenyum tipis mendengar ucapan Amanda. Ia kagum pada pemikiran gadis itu. Sangat berbanding terbalik dengan Shena yang kalut dalam emosi sampai yang terlintas dalam pikirannya hanyalah rasa benci dan dendam. Namun, Aaron juga tidak bisa menyalahkan sikap Shena yang seperti ini padanya. "Gak apa-apa, Manda. Memang ini sudah kewajiban saya untuk mempertanggung jawabkan kesalahan yang telah saya perbuat," sahut Aaron. Shena bangun dari posisi duduknya. "Ya sudah, sekarang ayo pergi ke kantor polisi. Saya mau lihat kamu berada di balik jeruji besi." "Kak, apa yang mau Kakak lakukan? Ini bukan Kak Shena yang Manda kenal. Ke mana Kakak yang baik hati dan mudah memaafkan?" Shena menundukkan kepala menatap pada Amanda. "Ini beda cerita, Manda. Kakak gak bisa diam aja, kalau Ayah kita meninggal di tabrak oleh orang ini. Dia yang telah membuat kita kehilangan Ayah untuk selama nya dan Kakak gak mau memaafkan orang jahat ini sampai kapan pun," tegasnya lalu menunjuk pada Aaron yang masih duduk di kursi. "Kak, Manda yakin kalau pun Ayah bisa selamat dari kecelakaan itu. Pasti Ayah akan memaafkan Bang Aaron dengan mudah dan tulus, karena Ayah yakin apa yang telah terjadi padanya sudah musibah dari yang di atas," balas Amanda. "Cukup, Manda! Kakak gak mau dengar kamu yang terus membela pembunuh ini." Sebelum Amanda kembali bersuara, lebih dulu Shena mendekati Aaron lalu meraih tangan laki-laki itu. "Sekarang ayo ikut saya ke kantor polisi," ucapnya segera menarik keluar Aaron dari dalam rumah. "Kak, tunggu, Kak! Jangan kayak gini!" teriak Amanda. Amanda mencoba mengejar dan melarang Shena, namun apalah daya ia yang tidak bisa melihat, membuatnya kesusahan untuk bisa mengejar langkah lebar Shena. ♡♡♡ Selama perjalanan menuju kantor polisi, tidak ada obrolan yang terjadi antara Aaron dan Shena. Mungkin Aaron sudah gila karena telah bersedia menyerahkan diri ke kantor polisi atas kecelakaan yang terjadi hingga merenggut nyawa Yudha. Entah bagaimana tanggapan keluarga Aaron saat mengetahui diri nya di penjara gara-gara kasus tabrakan. Shena melirik pada Aaron yang sedang fokus mengemudi. Apa yang di katakan Amanda memang benar, kalau tidak semestinya ia bersikap terlalu keras dan terus menyalahkan Aaron atas kepergian ayahnya. Shena berpikir, ia terlalu berlebihan dalam menanggapi masalah ini. Semua makhluk yang bernyawa pasti akan mati. Dan meninggalnya Yudha memang sudah seperti ini jalannya. Shena juga teringat pesan yang selalu di ajarkan oleh Yudha semasa hidupnya, kalau ia harus menjadi orang yang rendah hati dan mudah memaafkan. Karena setiap manusia pasti memiliki salah dan khilaf. Shena memejamkan mata, lalu menarik napas panjang. "Berhenti." Aaron mengeritkan dahi menoleh pada Shena begitu mendengar perintahnya. "Saya bilang berhenti," tegas Shena saat Aaron masih juga melajukan mobil. Akhirnya Aaron menghentikan laju mobil di pinggir jalan. "Kenapa? Kantor polisi masih jauh dari sini." Aaron bertanya. "Kita gak usah pergi ke kantor polisi. Saya turun di sini aja dan kamu boleh pergi," ucap Shena segera melepas sabuk pengaman dan keluar dari dalam mobil. Hal itu tentu saja membuat Aaron bertanya-tanya. Ia segera keluar dari mobil dan berlari menghampiri Shena. "Shena tunggu!" Aaron menarik satu tangan gadis itu, namun segera di tepis olehnya. "Apa? Saya gak mau ada urusan lagi sama kamu," ketus Shena menjawab lalu kembali melanjutkan langkah. Aaron tidak tinggal diam, ia berlari mengejar gadis itu untuk dimintai penjelasan. "Shena tunggu, saya butuh penjelasan dari kamu. Apa yang membuat kamu tiba-tiba berubah?" Shena menghentikan langkah, memutar tubuh lalu menatap datar pada Aaron. "Saya akan berusaha untuk memaafkan kamu. Dan masalah ini gak usah di bawa ke kantor polisi. Saya akan berusaha untuk ikhlas demi Ayah." Aaron terdiam di tempat dengan pikiran entah ke mana. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Shena. Bukankah gadis itu sangat ngotot sebelumnya untuk membawa masalah ini ke jalur hukum? Lalu kenapa tiba-tiba dia meminta untuk melupakan masalah ini? Shena segera masuk ke dalam angkot yang berhenti di hadapannya. Aaron yang baru sadar dari lamunan pun terkejut saat Shena sudah pergi menumpangi angkot. Helaan napas panjang keluar dari mulut Aaron. Harusnya ia merasa lega dan senang saat Shena mengatakan untuk melupakan masalah ini. Namun, rasa bersalah terus menghantui Aaron. "Gue gak bisa tenang sebelum gue bisa mempertanggung jawabkan kesalahan gue. Apa pun itu caranya," gumamnya lantas memutar tubuh hendak masuk ke dalam mobil untuk mengejar Shena. Namun, ia dikejutkan dengan keberadaan Angela yang sedang berdiri di pintu kemudi mobil, membuat tubuh Aaron membeku. Bibir Angela mengulas senyum, lantas melangkah mendekati Aaron dan langsung memeluk tubuh kekar laki-laki itu. Menyandarkan kepala di d**a bidangnya dengan nyaman. Sedangkan Aaron menggeram marah. Tangannya terkepal kuat tidak sudi membalas pelukan perempuan ini. "Sayang, aku sangat merindukan kamu." "Lepas, Angela." Aaron mencoba melepaskan pelukan Angela, namun perempuan itu justru semakin mengeratkan pelukannya. "Gak. Aku gak mau melepaskan pelukan ini, sebelum kamu maafin aku." Aaron memejamkan mata sejenak. Kemudian dengan paksa ia melepaskan pelukan Angela, membuat perempuan itu terkejut dan menatap tak menyangka pada Aaron. "Sayang...." "Berhenti, Angela. Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi," ucap Aaron dengan tampang datar. Angela nampak sedih mendengarnya, ia menggelengkan kepala pelan. "Jangan seperti ini aku mohon. Maafkan aku, Sayang. Tolong lupakan masalah kemarin dan kita lanjutkan rencana pernikahan kita. Itu adalah mimpi indah kita selama ini kan, Sayang?" Angela mencoba untuk meraih tangan Aaron, namun laki-laki itu justru memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Mungkin lebih baik kalau kamu membahas pernikahan dengan Derry," ucap Aaron. Mengenaskan memang. Menjalin hubungan lama bersama gadis yang harusnya sebentar lagi ia nikahi itu, kini ia terpaksa merelakannya untuk bersama sang adik dan meninggalkannya begitu saja. Tapi, Aaron mencoba untuk tetap berpikir positif kalau ini memang sudah jalannya. Sementara melakukan ini karena memang tidak ada jodoh antara dirinya dan Angela. "Derry? Kenapa harus Derry? Kamu pacar aku, bukan Derry." Aaron tersenyum miring. "Sudahlah, aku mempunyai urusan yang lebih penting lagi dari pada membicarakan hal bodoh dengan seorang pengkhianat seperti kamu," ucapnya membuat hati Angela tertohok. Lantas melangkah melewati Angela dan masuk ke dalam mobil. Meninggalkan perempuan itu yang menangis tersedu-sedu di pinggir jalan. Aaron memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. "Angela, maafkan aku. Aku terpaksa harus bersikap seperti ini. Hubungan kita udah gak bisa dilanjutkan lagi. Aku gak mungkin kembali bersama kamu, sedangkan kamu sudah dimiliki oleh Adikku sendiri."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD