5 - tamat

742 Words
Part 5 Author POV Setelah kejadian malam itu, hubungan Elvan dan Beatrice menjadi hangat dan mesra. Elvan senang Beatrice telah menerimanya sepenuh hati. Tak ada kata cinta terucap dari bibir mereka berdua, tapi Elvan yakin, mereka saling menyayangi. Pernikahan keduanya bahagia. Sampai suatu sore Minggu yang cerah, ketika sedang bersantai di beranda ditemani teh dan kudapan, gangguan itu datang. Sebuah mobil mungil berwarna putih berhenti di pinggir jalan depan rumah. Seorang wanita cantik keluar dari mobil itu. Rahang Elvan seketika mengencang. Natalie. Wanita itu pernah beberapa kali datang ke rumahnya, tapi Elvan selalu memiliki cara mempersingkat kehadirannya. Setelah ia menikah dengan Beatrice, Natalie tak berhenti berkunjung. Untungnya di saat Beatrice tidak berada di rumah. Elvan tidak ingin hubungannya dan sang istri yang masih rapuh, direcoki oleh kehadiran orang ketiga. Kali ini, ia tak bisa mengindar lagi, bukan? Semoga saja Natalie hanya bertamu sebentar. “Siapa, Van?” Beatrice menoleh menatap Elvan penuh tanya. Elvan tidak menjawab, karena tidak memungkinkan. Natalie telah berdiri di depan mereka. “Halo. Van,” sapa Natalie lembut merayu dengan tatapan lurus pada Elvan, sedikit pun tidak menghiraukan kehadiran Beatrice. “Ada apa, Nat?” Natalie tersenyum manis. “Apa aku tidak boleh mengunjungi calon suamiku?” “Apa maksudmu berkata seperti itu?? Aku bukan calon suamimu!” bantah Elvan kesal. “Kau tahu aku mencintaimu. Dan aku tahu, kau juga mencintaiku. Kau terpaksa menerima perempuan ini karena paksaan orangtuamu, kan? Aku tak keberatan menjadi istri keduamu.” Wajah elvan menggelap. Ia tak menyangka Natalie seberani ini. Wanita itu memang beberapa kali menyatakan cinta kepadanya, tapi Elvan menolak dan mengatakan dengan jelas, bahwa ia tidak memiliki perasaan apa pun. Elvan berdiri dan siap membalas perkataan Natalie, lalu mengusirnya, ketika kursi di sebelahnya berderit. Beatrice bangkit dan berjalan masuk ke dalam rumah. “Trice!!” Namun Beatrice tidak menoleh. Istrinya itu terus melangkah pergi. Napas Elvan memburu. Ia memandang Natalie dengan sorot dipenuhi amarah. Jika tatapan bisa membunuh, wanita itu pasti telah kehilangan nyawa saat ini juga. “Berhenti mengganggu aku dan istriku, Nat! Aku sudah menikah! Sampai kapan pun, aku tak akan berpisah dengan istriku, apalagi demi bersama wanita sepertimu!” Setelah mengucapkan kalimat itu, Elvan meninggalkan Natalie dan masuk ke dalam rumah. “Elvan!!” Panggilan Natalie sama sekali tak ia gubris. *** Beatrice POV Aku menelungkup di tengah ranjang dan menangis sejadi-jadinya. Tidak kusangka Elvan mencintai wanita lain, bahkan wanita itu datang ke rumah, mengatakan bersedia menjadi istri kedua. Tidak! Aku tidak akan pernah mengizinkan Elvan menikah dengan wanita lain. Tidak tahu kapan tepatnya, tapi aku sadar, aku mencintai Elvan dan tak mau kehilangannya. “Trice ....” Panggilan Elvan terdengar lembut. Dalam sedetik, tangannya yang kukuh terasa mengelus bahuku. Suara tangisku menghilang. Hanya tubuh yang begetar menahan diri agar tidak bersuara dan melampiaskan semua kekecewaan dan sakit hatiku. “Aku dan Natalie tidak ada hubungan apa-apa ....” Aku masih menunggu kelanjutan kalimat Elvan, tapi yang terdengar hanyalah helaan napas panjangnya. “Trice ..., wanita yang ada di hatiku hanya dirimu. Aku …, mencintaimu ....” Seketika tubuhku mengejang mendengar pernyataan Elvan. Elvan mencintaiku? Benarkah yang kudengar ini? Atau aku berhalusinasi karena terlalu berharap? Elvan meraih tubuhku hingga berbalik menghadapnya. Elvan duduk di bibir ranjang dan menatapku dalam-dalam. “Aku mencintaimu, Trice. Natalie hanya gangguan kecil dalam hubungan kita. Jangan acuhkan.” “Tapi dia bilang, kau mencintainya.” Elvan tersenyum lembut. “Itu katanya, bukan kataku.” Jemari Elvan menghapus air mataku yang mulai menetes dari sudut mata. “Yang ingin menikah denganku adalah dia, bukan aku. Aku sudah memilikimu,” tambah Elvan. Seketika dadaku berdebar lembut. Aku menatap Elvan dengan mata berbinar. “Percaya padaku, hanya dirimu yang kucinta,” bisik Elvan sambil membungkuk. Kecupan lembut dan basah hinggap di bibirku. Aku terharu. Dan aku tahu, aku harus memercayai Elvan. Siapapun wanita itu, aku harus yakin, dia tak akan bisa mendapatkan hati Elvan yang sudah menjadi milikku. “Aku juga mencintaimu, Van,” bisikku parau di sela kecupan Elvan. The end Hai, teman2 Terima kasih sudah membaca cerita ini sampai selesai. Terima kasih untuk love dan komennya. btw cerita ini memang pendek ya, hanya novelet. jangan lupa follow akun dreame/innovel aku, karena aku bakal terus share cerita2 gratis lainnya. follow juga i********: dan youtube aku, id: evathink Btw, buat yang pengen koleksi ebook karya-karya aku, bisa purchase di GOOGLE PLAY BUKU, k*********a dan IBUK (unduh app di playstore) Untuk versi buku cetak, READY STOCK, bisa order pada aku, WA +628125517788 Luv, Evathink
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD