Lelaki jangkung dengan bola mata lebar berwarna keabu-abuan tengah asik dengan dunianya sendiri di pojok perpustakaan. Membaca buku-buku filsafat sambil bersandar ke rak buku.
"Hai, Virgo! What are you doing?" sapa gadis berseragam SMA dengan rambut pendek sebahu berwarna coklat, dan tingginya yang hanya mencapai ketiak lelaki bernama Virgo.
Virgo memejamkan matanya sekilas, menandakan kalau ia sedang tidak ingin ada orang manapun yang mengganggu dirinya membaca.
"Are you blind?" respon Virgo dingin.
Gadis bername tag Venus, menunduk malu dan berkata lirih, "Are you free tonight?" tanya Venus sambil memainkan jemarinya karena gugup. Sudah sejak kelas 11 Venus sangat mengagumi Virgo, dan kali ini Venus berniat menyatakan perasaannya lagi dengan mengajak Virgo kencan. Lagi? Ya. Awal semester kelas 12 Venus pernah menyatakan cintanya kepada Virgo, meski laki-laki itu menolak.
"No. I'm busy." Virgo menutup buku yang belum selesai ia baca gara-gara kehadiran Venus yang sangat mengganggu.
Virgo melangkahkan kakinya meninggalkan Venus. Mau bagaimanapun Virgo tidak bisa menerima cinta Venus. Virgo lebih mencintai buku-buku filsafatnya lebih dari apapun.
"Virgo tunggu!" Venus mengejar langkah Virgo yang lebar.
"Stop ngikutin gue kayak babu. Gue bilang gue sibuk." ucap Virgo setelah menghentikan langkahnya beberapa saat.
Venus nurut dan mendengus kesal. Tiap ucapan yang keluar dari mulut Virgo bagaikan perintah untuk siapapun agar menurutinya. Siswa-siswi biasa memanggil Virgo dengan sebutan frozen blue blood yang berarti 'berdarah biru beku'.
Virgo merupakan golongan ningrat, blasteran Indonesia British, selain dikenal karena kekayaan dan gelar kebangsawanan yang dibawa dari Inggris, lelaki itu juga dikenal dingin bak es batu di Kutub Utara, namun ia juga cerdas, selalu mendapat peringkat pertama paralel.
Semua orang juga percaya kalau Virgo adalah manusia yang nyaris sempurna di sekolah, sampai tak ada yang mau mendekati Virgo karena insecure, kecuali Venus.
Alasan mengapa seorang bangsawan sekolah di Indonesia? Jawabannya hanya Virgo yang tau. Bahkan ketika usianya menginjak 17 tahun, ia memilih menjadi warganegara Indonesia dan melepas gelar kebangsawanannya.
Virgo yang berjalan sangat memperhatikan langkahnya tiba-tiba ditabrak seorang gadis lain dari depan yang tersandung akar kayu dekat ruang seni.
"Aakkhh!!"
Mereka berdua jatuh dengan posisi Virgo yang menopang tubuh kecil gadis asing diatasnya.
Hal memalukan seumur hidup Virgo adalah kejadian yang menimpanya sekarang.
Gadis itu langsung bangun begitu sadar ada orang lain yang juga terjatuh karena dirinya. "Ihh... Siapa si yang naro akar pohon disini?!" kesalnya.
Virgo ikut bangun dan menatap gadis bername tag Tiara Ananda dengan dahi berkerut dan kedua mata yang melebar. Tangan Virgo mencekal lengan Araa cukup kuat. "Lo sengaja kan?"
Maksud ucapan Virgo adalah ia berpikir kalau gadis di depannya sengaja jatuh agar bisa bersentuhan dengan Virgo.
Araa yang tadinya sibuk memarah-marahi akar kayu itu terhenyak dan menatap Virgo. "Sengaja apa? Ta-tadi aku ga liat ada akar kayu di situ. Sumpah!" ucap Araa agak terbata dan gemetar karena tatapan dingin Virgo yang mirip singa kelaparan.
Melihat tangan Araa yang gemetar, Virgo melepas cekalannya. Menatap kedua mata Araa dan pergi.
Araa menghembuskan nafasnya kasar setelah melihat lelaki jangkung itu perlahan menjauh dari pandangannya.
"Gilak! Vibes-nya kayak ketemu sama setan." ucap Araa sambil mengelus-elus dadanya, kemudian masuk ke ruang seni.
....
Pemilik ekor dan rambut biru laut itu sedang mengamati tiga orang nelayan yang gaduh di atas kapal. Entah apa yang mereka ributkan sampai membuat Aries terusik.
"Cepat berikan mutiara yang kamu temui itu!" kata lelaki dewasa berambut gondrong.
"Nggak akan! Saya bertaruh nyawa menyelam untuk mendapatkan ini, sekarang anda mau seenaknya meminta begitu aja." respon si lelaki yang diketahui berhasil mendapatkan mutiara di dasar laut.
Sekarang Aries paham, dua nelayan di satu kapal lainnya adalah perampok.
"Shark, lakukan tugasmu!" perintah Aries kepada ikan hiu peliharaannya.
Hiu itu berenang mendekati kapal yang berisi dua orang, membuat salah satu orang yang menyadari kehadiran hiu itu berteriak. "Hiu bos! Hiu!" katanya.
Ketiga orang di atas kapal itu panik setengah mati. Mereka berusaha mengendalikan kapalnya agar bisa menghindar jauh dari hewan predator itu. Namun na'as, kapal berisi perampok itu malah terbaik, kedua orang itu tenggelam sementara satu orang di kapal lain berhasil mendayung semakin jauh.
Aries mengawasi peliharaannya agar tidak membunuh manusia lagi, dan yang dilakukan Shark sekarang adalah menggigit kaki manusia itu yang mungkin akan berakibat cacat jika manusia itu masih hidup. Aries tersenyum tipis melihat kelakuan Shark.
...
Venus membuka bungkus plastik chiki cukup kuat, membuat isi makanan ringan itu berjatuhan ke lantai. Ia kesal, sangat kesal dengan perilaku Virgo.
Tiap hari lelaki itu terasa semakin sulit Venus gapai. Padahal kalau laki-laki normal pada umumnya, digodain cewek beberapa bulan saja sudah luluh, seperti kisah-kisah di film.
"Venus! Lo nyampah mulu deh kalo makan, gue piket hari ini, jangan buat kerjaan makin banyak." kata seorang siswi yang duduk dibelakang Venus.
Venus menatap siswi di belakangnya, "Iya ntar gue bersihin sendiri kok. Mood gue lagi buruk, mending lo diem deh biar ga memperburuk situasi." katanya dengan nada sebal.
Mita, selaku sahabat Venus yang mendengar ucapan Venus, berjalan ke arah meja dimana Venus duduk. Ia menyapa dan memperhatikan wajah Venus yang masam.
"Rooftop yuk!" ajak Mita, Venus melirik sekilas dan langsung mengikuti ajakan Mita.
Mereka berdua keluar dari kelas, "Virgo lagi ya?" tanya Mita saat keduanya berjalan melewati lorong menuju tangga.
Venus meremas chiki ditangannya, "Iya! Sebel banget gue anjir."
Sekitar dua menit kemudian, mereka berdua sampai di atas gedung. Angin siang langsung menerpa wajah dan rambut mereka.
Mita berjalan mendekat ke arah tembok setinggi dadanya, meletakkan kedua tangan diatasnya sambil menatap ke bawah. Begitupun dengan Venus yang ikut menatap ke bawah, ke arah yang Mita tunjuk dengan ekor matanya.
Kedua siswi itu memperhatikan siswi lain dibawah sana yang sedang terlihat sibuk dengan lukisan yang sedang di selesaikannya.
"Araa?" tanya Venus, "Apa hubungannya dengan kita?"
Mita menatap Venus, "Gue tadi sempet liat Virgo merhatiin Araa selama kurang lebih semenit."
"Maksudnya?" Venus masih belum mengerti arah pembicaraan Mita.
"Lo ga tau ya? Kalo Virgo adalah orang yang ga pernah merhatiin seseorang secara sembunyi-sembunyi."
Venus mengernyitkan dahinya, ia benar-benar tidak paham dengan ucapan Mita.
"Lo ga curiga gitu, kalo ada chemistry diantara mereka berdua?" Mita memperjelas, lagipula ia lupa kalau otak Venus kadang agak lemot.
Venus kembali memperhatikan Araa sambil makan chiki ditangannya, "Engga. Jangankan curiga, gue aja ga pernah mikirin sedetik pun tentang Araa, karena yang gue pikirin cuma Virgo."
"Jadi lo ga masalah semisal Virgo ada sesuatu yang istimewa dengan Araa?"
Venus menatap ke arah Mita sedikit kesal, "Mita! Selama bukan mata gue sendiri yang liat Virgo merhatiin Araa. Gue ga bakal cemburu, ga bakal iri, gue lebih percaya kalo gue liat dengan mata kepala sendiri."
Mita menghembuskan nafas kasar. Venus masih sama seperti Venus yang dulu, tidak mudah percaya hanya dengan kata-kata. Hal itulah yang membuat Mita malas duduk sebangku dengan Venus meski mereka sahabatan.
"Lagian jaman sekarang masih aja percaya sama omongan orang." kata Venus memberi jeda, "Tapi bukan berarti gue ga percaya omongan lo, lagipula lo ga ada bukti kan?" lanjutnya.
Mita memutar bola matanya malas dan berbalik meninggalkan Venus.
Venus acuh tak acuh melihat kepergian Mita. Kedua perempuan itu memang memiliki sifat yang bertolak belakang. Kebanyakan orang pasti tak akan percaya kalau sebenarnya mereka dekat, jika dilihat dari sifat dan sikap mereka satu sama lain.
Venus masih memperhatikan Araa yang sedang menggambar di sana, sampai ia merasa aneh dengan hasil gambar Araa.
...
Sebenarnya siswa-siswi kelas 12 tidak diwajibkan untuk berangkat ke sekolah karena sudah selesai ujian, kecuali siswa-siswi yang memang masih ada keperluan seperti mereka mengajukan diri untuk menampilkan bakat mereka di wisuda nanti.
Araa salah satunya, ia berniat menampilkan bakat menyanyi sambil menggambar. Setiap lirik lagu yang ia nyanyikan pasti akan terwujud dalam bentuk gambar.
"Hear my voice beneath the sea."?
"Sleeping now so peacefully."?
"At the bottom of the sea."?
"Sleep for all eternity." ?
Suara itu berasal dari Araa. Ia menyanyikan apa saja yang terlintas di kepala, sambil membuat sketsa yang baru Araa sadari ternyata gambarnya terlihat tidak asing.
Manusia setengah ikan. Araa sendiri terpengarah kaget, ia tidak sadar sedari tadi.
"Makhluk apa ini?" lirih Araa sambil mengamati sketsanya cukup lama.
____