Ferril membeku usai ditampar. Ia jelas menyentuh pipi kirinya sendiri. Padahal belum sembuh luka terakhir yang dibuat oleh abangnya. Masih ada sisa membiru. Tapi Echa malah menambahkannya. Bukannya luka yang dapat terlihat justru menambah luka di hati. Rasanya tentu saja jauh lebih menyakitkan. Walau ia tahu kenapa Echa sampai menamparnya hingga ia hanya bisa terpekur sementara gadis itu tampak mengurut leher Acha yang muntah-muntah. "Gak samperin?" Adit menyenggol lengannya. Ia menghela nafas. Kemudian melihat sekitar. Beberapa menit lagi, kepolisian pasti akan datang. Berbahaya kalau kedua gadis itu sampai terbawa. Terutama Acha. Akhirnya ia berjalan menghampiri Acha. Alih-alih menghampiri Echa yang membuang muka begitu ia datang. Ia tahu kalau akan diabaikan. "You must go now. The p

