Sisa-sisa Harga Diri

908 Words
Hujan turun deras, seolah mengejek Arka yang berdiri mematung di depan lobi hotel berbintang. Pakaian kurirnya yang basah kuyup kontras dengan kemewahan lampu kristal di dalam sana. "Kita selesai, Arka. Jangan cari aku lagi." Suara Maya terdengar datar di balik telepon. Di seberang jalan, Arka bisa melihat Maya masuk ke dalam mobil mewah milik Rendy. Rendy, pria yang selalu menghina Arka dengan sebutan 'sampah kota', sempat menoleh dan memberikan senyum sinis sebelum menutup pintu mobil. Arka mengepalkan tinju. Perih. Bukan hanya karena cinta yang kandas, tapi karena kenyataan bahwa di dunia ini, tanpa uang dan wajah tampan, ia hanyalah butiran debu. "Kenapa... kenapa dunia tidak pernah adil padaku?" gumamnya serak. Ia berjalan tak tentu arah hingga berteduh di depan sebuah kios tua yang hampir roboh. Di etalasenya yang berdebu, sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk mata yang tertutup tampak berkilau aneh. Entah mengapa, jantung Arka berdegup kencang. "Ambillah, anak muda. Itu sudah menunggumu selama seribu tahun," suara parau seorang kakek dari dalam kegelapan kios mengejutkannya. Tanpa sadar, Arka merogoh saku, mengeluarkan lembaran sepuluh ribu terakhirnya, dan mengambil kalung itu. Begitu jemarinya menyentuh logam dingin tersebut, sebuah suara mekanis bergema langsung di kepalanya. [Ding! Host Terdeteksi.] [Kesesuaian Jiwa: 100%.] [Memulai Inisialisasi Sovereign System...] Arka terhuyung. Pandangannya mengabur. Sebuah layar hologram transparan muncul di depan matanya, sesuatu yang hanya pernah ia baca di novel-novel fantasi. [Status Host: Mengenaskan (Level 0)] [Penampilan: 2/10 (Buruk)] [Kekayaan: Rp 0 (Sangat Miskin)] [Keberuntungan: -50 (Sial)] [Hadiah Pengguna Baru Tersedia: Paket Evolusi Pemula. Apakah Anda ingin menggunakannya?] "Apa ini... halusinasi?" Arka menyentuh wajahnya yang kasar. "Persetan dengan semuanya. Jika ini mimpi, aku ingin bangun sebagai orang yang berbeda! Ya, gunakan!" [Proses Evolusi dimulai...] Rasa panas menjalar ke seluruh tubuh Arka. Tulang-tulangnya berderak, kulitnya terasa seperti terkelupas dan berganti dengan jaringan baru yang lebih halus. Lemak di perutnya menyusut, sementara otot-ototnya mengencang secara instan. Beberapa menit kemudian, rasa sakit itu hilang. Arka melihat pantulan dirinya di kaca etalase yang kusam. Ia terengah. Pria di kaca itu bukan lagi Arka yang kusam dan bungkuk. Wajahnya kini memiliki garis rahang setajam silet, hidung bangir sempurna, dan mata yang bersinar tajam. [Ding! Penampilan telah diperbarui: 9.5/10.] [Ding! Saldo awal sebesar Rp 1.000.000.000 telah ditransfer ke rekening Host sebagai modal dasar.] Ponsel di saku celana Arka bergetar. Sebuah SMS masuk dari bank: Saldo Anda: Rp 1.000.000.000,00. Arka tertawa kecil, tawa yang penuh dengan tekad baru. Malam ini, Arka yang lama telah mati. Dan besok, dunia akan berlutut di hadapannya. Matahari pagi menyelinap di sela-sela jendela kamar hotel mewah tempat Arka menghabiskan malam pertamanya. Ia berdiri di depan cermin, masih terpaku menatap sosok pria asing yang kini menjadi dirinya. Postur tegap, kulit bersih tanpa cela, dan tatapan mata yang seolah mampu menembus jiwa siapa pun yang melihatnya. [Ding! Misi Harian Tersedia: "Langkah Pertama Sang Penguasa".] [Tujuan: Beli pakaian yang layak dan buat kesan mendalam di pusat bisnis kota.] [Hadiah: Skill Pasif - "Aura Intimidasi Tingkat Rendah".] Arka tersenyum tipis. "Mudah." Satu jam kemudian, Arka melangkah keluar dari butik ternama di jantung kota dengan setelan jas custom-made seharga ratusan juta rupiah. Orang-orang yang berpapasan dengannya secara refleks menoleh, berbisik, bertanya-tanya apakah dia seorang aktor internasional atau pewaris konglomerat yang baru pulang dari luar negeri. Ia melangkah menuju Star Tower, gedung tertinggi di kota itu. Tujuannya adalah sebuah kafe eksklusif di lantai teratas untuk memantau pergerakan saham melalui sistemnya. Namun, saat berada di lobi, sebuah keributan kecil menarik perhatiannya. "Aku sudah bilang, ayahku butuh bantuan medis segera! Jangan halangi jalanku!" Seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjang yang diikat rapi tampak sedang berdebat dengan petugas keamanan. Wajahnya yang tegas namun menyimpan kecemasan luar biasa itu milik Sonia Wijaya, CEO muda dari Wijaya Group yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Di sampingnya, seorang pria tua—ayahnya—terkulai lemas di kursi roda, wajahnya pucat pasi. [Ding! Mata Sovereign mendeteksi anomali medis.] [Target: Handoko Wijaya. Status: Serangan jantung akibat racun tersembunyi.] [Saran: Gunakan 10 Poin Evolusi untuk membeli 'Pil Detoksifikasi Instan'.] Arka melihat petugas keamanan itu mulai kasar karena merasa Sonia menghalangi akses masuk tamu VIP. Tanpa ragu, Arka melangkah maju. Tangannya yang kuat menahan bahu petugas itu sebelum ia sempat mendorong Sonia. "Berhenti. Apa kamu tidak lihat dia butuh pertolongan?" suara Arka berat dan berwibawa. Petugas itu tersentak, nyalinya menciut begitu menatap mata Arka. "T-tapi Tuan, ini prosedur..." "Persetan dengan prosedur," Arka mengabaikannya dan beralih ke Sonia. Sonia menatap pria asing di depannya dengan bingung. Ia belum pernah melihat pria setampan dan seberwibawa ini. "Siapa kamu? Tolong, ayahku..." Arka berlutut di samping kursi roda Handoko. Dengan gerakan cepat yang tak terlihat, ia berpura-pura menekan titik saraf tertentu sambil memasukkan pil dari sistem ke mulut pria tua itu. "Tenanglah, Nona Sonia. Aku tahu cara menangani ini." Hanya dalam hitungan detik, warna kulit Handoko yang tadinya membiru kembali memerah. Napasnya yang tersengal mulai stabil. Ia perlahan membuka mata. "Ayah!" Sonia memeluk ayahnya dengan tangis lega. Ia kemudian menatap Arka dengan tatapan yang sangat berbeda dari sebelumnya—ada rasa syukur, kekaguman, dan sedikit rasa penasaran yang mendalam. "Terima kasih... aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kamu tidak ada," bisik Sonia, matanya masih terpaku pada wajah Arka. [Ding! Misi Selesai.] [Hadiah: Skill 'Aura Intimidasi' didapatkan.] [Kedekatan dengan Sonia Wijaya: +20% (Ketertarikan Awal).] Arka berdiri, merapikan jasnya tanpa noda sedikit pun. "Simpan terima kasihmu untuk nanti, Nona. Nama saya Arka. Kita akan sering bertemu mulai sekarang." Arka berlalu begitu saja, meninggalkan Sonia yang masih terpaku, menatap punggung pria misterius yang baru saja menyelamatkan dunianya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD