Setelah malam gala yang mengguncang jagat elit kota, nama Arka menjadi buah bibir. Namun, Arka tahu bahwa menjadi pusat perhatian adalah pedang bermata dua. Di sebuah penthouse mewah yang ia beli secara tunai melalui sistem, ia berdiri di balkon, menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip seperti permata yang menunggu untuk dipetik.
[Ding! Analisis Wilayah Selesai.]
[Peringatan: Host sedang dalam pengawasan. Target terdeteksi sebagai "Pihak Berwenang dengan Skill Investigasi Tinggi".]
[Misi Baru: "Kucing dan Tikus".]
[Tujuan: Hindari kecurigaan penyelidik tanpa menggunakan kekerasan.]
[Hadiah: Peningkatan Sensor Keamanan Sistem & 30 Poin Evolusi.]
Arka tersenyum tipis. Ia bisa merasakan kehadiran seseorang di gedung seberang. Menggunakan Mata Sovereign, ia memperbesar penglihatannya. Di sana, di balik lensa teleskopik, berdiri seorang wanita dengan jaket kulit hitam dan rambut pendek yang dipotong rapi. Wajahnya cantik dengan garis rahang yang tegas, namun matanya memancarkan kecerdasan yang berbahaya.
Dia adalah Vira, seorang detektif independen yang sering disewa oleh pihak kepolisian untuk kasus-kasus pencucian uang kelas kakap. Vira merasa ada yang tidak beres dengan "kemunculan mendadak" seorang miliarder tanpa jejak digital masa lalu yang jelas.
"Menarik," gumam Arka. "Mari kita beri dia sedikit pertunjukan."
Keesokan harinya, Arka memutuskan untuk mengunjungi sebuah pameran barang antik di museum kota. Ini adalah tempat yang sempurna untuk menggunakan kemampuannya sekaligus memancing Vira keluar dari persembunyiannya.
Saat ia sedang mengamati sebuah vas porselen dari Dinasti Ming, seorang wanita mendekatinya. Dia mengenakan pakaian kasual—kaus putih polos dan jins—tapi auranya tidak bisa berbohong.
"Vas itu palsu, kau tahu?" suara wanita itu dingin dan penuh selidik.
Arka menoleh. Itu Vira. Di dunia nyata, dia terlihat jauh lebih menawan namun juga lebih mengancam. "Palsu? Kurator museum ini pasti akan sangat tersinggung mendengar ucapanmu, Nona...?"
"Vira. Dan aku tidak peduli dengan perasaan kurator. Aku lebih tertarik pada bagaimana seseorang yang tidak punya riwayat perbankan selama sepuluh tahun tiba-tiba bisa membeli penthouse di The Icon dengan uang tunai," sahut Vira sambil melipat tangan di d**a.
Arka tertawa kecil, suara baritonnya menarik perhatian pengunjung lain. "Dunia ini penuh dengan keajaiban, Detektif Vira. Beberapa orang menemukan keberuntungan di bawah batu, yang lain menemukannya di dalam sistem perbankan yang celah."
Vira mendekat, jarak mereka hanya beberapa senti. Ia mencoba mencari tanda-tanda kegugupan di mata Arka, namun yang ia temukan hanyalah ketenangan yang sedalam samudra. "Aku akan menemukan celahmu, Arka. Tidak ada orang yang sebersih ini tanpa menyembunyikan sesuatu yang kotor."
[Ding! Deteksi Detak Jantung Target: Meningkat.] [Status Vira: Penasaran (Level Tinggi), Waspada (Level Maksimal).]
"Kalau begitu, carilah," tantang Arka. Ia kemudian menunjuk ke sebuah keris tua yang dipajang di sudut ruangan. "Tapi sebelum kau membuang waktumu membuntutiku, pergilah ke keris itu. Beritahu polisi bahwa itu adalah kunci dari kasus penyelundupan artefak yang sedang mereka tangani. Di dalam gagangnya terdapat mikofilm tersembunyi."
Vira mengerutkan kening. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Sebut saja itu insting... atau mungkin keajaiban lainnya," Arka mengedipkan mata lalu berjalan pergi, meninggalkan Vira yang terpaku dalam kebimbangan.
Sore harinya, Arka kembali ke kantor pusat Wijaya Group atas undangan Sonia. Sonia menunggunya di ruang kerja pribadi yang sangat luas. Begitu Arka masuk, Sonia segera berdiri.
"Arka, aku ingin meminta bantuanmu," kata Sonia. Wajahnya yang biasanya dingin kini terlihat sedikit rapuh. "Beberapa dewan komisaris mencoba melakukan kudeta terhadap ayahku. Mereka menganggap kesembuhan ayahku hanya sementara dan ingin menjual aset utama perusahaan ke pihak asing."
Arka duduk di kursi kebesaran Sonia, tanpa diminta. "Siapa pemimpin mereka?"
"Hadi Kusuma. Dia pria yang licik. Dia memiliki dukungan dari kartel bawah tanah," jawab Sonia sambil menuangkan teh untuk Arka—sebuah tindakan pelayanan yang tidak pernah ia lakukan untuk pria lain.
Arka menyesap tehnya. Mata Sovereign langsung memproses data tentang Hadi Kusuma.
[Target: Hadi Kusuma.] [Kelemahan: Kecanduan judi di kasino bawah tanah "The Dragon's Den". Hutang tersembunyi: Rp 500 Miliar.]
"Jangan khawatir, Sonia," Arka meletakkan cangkirnya. "Malam ini, Hadi Kusuma akan kehilangan segalanya. Sebagai gantinya, aku ingin kau memastikan satu hal."
Sonia menatapnya lekat. "Apa itu?"
"Kesetiaanmu sepenuhnya. Bukan hanya sebagai mitra bisnis, tapi sebagai bagian dari masa depan yang sedang kubangun," suara Arka penuh d******i.
Wajah Sonia merona merah, sesuatu yang sangat langka bagi 'Ratu Es' di dunia bisnis. Ia menunduk pelan, menyembunyikan senyumnya. "Aku sudah menjadi milikmu sejak kau menyelamatkan ayahku, Arka. Kau hanya perlu mengatakannya."
[Ding! Kedekatan Sonia Wijaya: +10% (Loyalitas Terikat).] [Poin Evolusi Terkumpul: 120 Poin.]
Malam itu, Arka mendatangi The Dragon's Den, sebuah kasino ilegal yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang dengan kekayaan di atas rata-rata. Dengan penampilannya yang baru, Arka terlihat seperti dewa judi yang turun dari langit.
Di meja baccarat utama, Hadi Kusuma sedang tertawa keras sambil memeluk dua wanita penghibur. Ia merasa di atas angin. Namun, begitu Arka duduk di kursi di hadapannya, suasana berubah mencekam.
"Tuan Hadi, aku dengar kau sangat suka bertaruh," Arka meletakkan koper berisi tumpukan uang tunai yang baru saja ia tarik melalui sistem.
Hadi mendengus. "Siapa kau, anak muda? Ingin menyumbangkan uangmu padaku?"
"Namaku tidak penting. Mari bertaruh satu hal," Arka menatap tajam mata Hadi. "Jika aku menang, kau harus menandatangani surat pengunduran diri dari Wijaya Group dan menyerahkan seluruh sahammu. Jika kau menang... aku akan memberimu sepuluh kali lipat dari nilai sahammu saat ini."
Seluruh ruangan menjadi sunyi. Taruhannya terlalu gila.
"Kau pikir kau siapa?!" teriak Hadi.
"Aku adalah orang yang tahu tentang hutangmu pada kartel Black Rose sebesar 500 miliar. Dan aku tahu mereka akan datang menagih nyawamu besok pagi jika kau tidak punya uangnya," bisik Arka, cukup keras untuk membuat Hadi berkeringat dingin.
Hadi menelan ludah. Dia terpojok. "Baik! Satu putaran!"
Kartu dibagikan. Hadi mendapatkan angka 7. Cukup tinggi. Ia tersenyum lebar. "Tujuh! Kau tidak akan bisa mengalahkanku!"
Arka perlahan membuka kartunya. 9. Natural Nine.
[Ding! Skill "Luck Manipulation" Aktif.]
Wajah Hadi berubah menjadi abu-abu. Ia terjatuh dari kursinya. Seluruh dunia yang ia bangun dengan kelicikan runtuh dalam satu detik di tangan seorang pria yang ia anggap remeh.
Saat Arka keluar dari kasino, hujan kembali turun—mengingatkannya pada malam di mana ia masih menjadi kurir miskin. Namun kali ini, ia tidak lagi basah kuyup. Seorang pengawal berbaju hitam memayunginya, dan sebuah Rolls-Royce menunggu di depan pintu.
Di dalam mobil, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal. “Informasimu tentang keris itu benar. Mikofilmnya ditemukan. Tapi jangan pikir ini berakhir, Arka. Kau baru saja membuat dirimu semakin menarik bagiku. – Vira.”
Arka menyandarkan kepalanya di kursi kulit yang empuk. Di satu sisi, ia memiliki Sonia yang setia dan penuh kekuasaan bisnis. Di sisi lain, ia memiliki Vira yang mulai mengejarnya dengan rasa penasaran yang berbahaya.
"Ini baru permulaan," gumam Arka.
Ia membuka menu sistemnya. Ada sebuah fitur baru yang terbuka: [Markas Rahasia: Pulau Sovereign].
"Dunia ini terlalu kecil untukku. Mari kita buat sesuatu yang lebih besar."
[Ding! Misi Selanjutnya: "Membangun Kerajaan di Atas Laut".] [Syarat: Rekrut tiga wanita berbakat untuk posisi inti.]
Arka menatap ke luar jendela. Sonia sudah di tangannya. Vira sedang dalam pengejaran. Siapa yang akan menjadi yang ketiga? Seorang dokter jenius? Atau mungkin idola nasional yang sedang butuh perlindungan?
Satu yang pasti, siapa pun mereka, mereka akan segera menjadi bagian dari harem sang penguasa baru.