Dengan cepat Bara mengejar Dira dan menarik tangannya, ia benar-benar belum bisa menerima apa yang Dira putuskan.
“Dira!! stop Dira! Kenapa sih kamu jadi berubah kaya gini, kita pacaran udah lama Dir. Kamu mau hancurin gitu aja? Plis Dir, pikirkan baik-baik. Kita saling mencintai Dir, gak mungkin kita berpisah.” Bara terus membujuk Dira dengan genggaman tangannya yang erat.
"Aku gak bermaksud untuk hancurin cinta kita Bara, aku hanya ingin dengan jalan yang benar. Kita memang saling mencintai, tapi gak harus dengan cara seperti ini. Aku mohon Bara, kamu mengerti. Tolong lepaskan,” Dira menangis hebat, ia berlari menjauhi Bara dan masuk ke dalam taxi.
Tanpa berpikir panjang, Bara pun berlari masuk ke dalam mobil. Ia mengikuti taxi yang di dalamnya ada Dira, air mata Bara tak berhenti menetes. Entah kenapa Bara jadi lemah seperti itu, Bara yang cool dan datar tidak terlihat sekarang.
"Kenapa sih Dira??? Kita sering jalan, chat-an, teleponan, video call-an, bahkan nongkrong di kafe kesayangan pun sering dilakukan. Mana bisa aku melupakan itu semua dengan cepat. Aku mencintaimu Dira, aku mencintaimu.” gerutu Bara di dalam mobil, ia sudah tidak tau lagi dengan pola pikir Dira.
Sesampainya di depan rumah Dira, Bara langsung turun dan berlari mengejar pujaan hatinya. Dira menghempaskan tangan Bara dan terpaksa, Bara mengekang Dira dengan genggamannya yang sangat kuat.
"Hubungan kita berjalan atas keinginan bersama, kamu tidak bisa memutuskan sepihak Dira. Come on, aku gak mau kita putus.” sorot mata Bara beradu dengan sorot mata Dira.
“Bara, tolong lepaskan! Aku mohon, mungkin ini caraku menjagamu.”
“Menjagaku? Bukan dengan cara seperti ini Dira, kamu malah melukai hatiku. Kita setiap hari selalu bersama, gak mungkin aku menerima keputusanmu itu. Ayolah Dira, jangan seperti ini. Kita bisa menjaga cinta kita bersama-sama,”
“Iya Bara, kita memang sangat bisa menjaga cinta kita. Tapi tidak dengan cara yang salah ini, kita punya agama Bara, kita punya keyakinan, dan kita punya aturan. Seharusnya dari awal kita serahkan semuanya kepada pemilik hati, bukan kita yang malah menghakimi sendiri. Kita merasa yakin dengan keputusan kita, sedangkan pemilik hati? Mungkin Dia gak suka dengan apa yang kita lakukan ini. Aku mohon Bara, aku gak mau kehilangan kamu, biarkan aku mencintaimu dengan aturan-Nya. Aku mohon Bara, tolong mengerti.” air mengalir deras dari kedua mata Dira.
Ingin sekali Bara menghapus air matanya, tapi itu semua telah sirna dengan ucapan Dira barusan. Dengan cepat Dira melepaskan genggaman tangan Bara dan masuk ke dalam rumah, ia menutupnya dan bahkan mengunci pintunya.
Dira menangis di balik pintu, sebenarnya ia tak mau melakukan itu. Tapi ia sudah menghianati pemilik hati, merasa benar dengan apa yang ia lakukan selama ini. Beruntung di rumah tidak ada siapa-siapa, hanya ada bi Nuri yang sedang mengintip di balik dinding dapur.
Di sisi lain, Bara sudah tidak bisa membujuk Dira di hari ini. Ia akan mencobanya di hari esok, di saat perpulangan kuliah.
Mobil Bara terdengar menjauhi rumah Dira, dengan cepat Dira membuka pintu kembali dan melihat kepergian Bara hingga mobilnya menghilang dari pandangannya. Ada penyesalan di dalam diri Dira, tapi ia berusaha menerimanya dengan sepenuh hati.
Perlahan Dira menaiki anak tangga, membuka pintu kamar, dan menghempaskan dirinya di atas kasur. Ia mengingat kembali memori indah bersama sang kekasih, menambah buliran air mengalir dari matanya. Sungguh, keputusan yang tidak pernah ada di dalam catatan hati seorang Dira sebelumnya. Tapi begitulah cara Sang Pencipta, menggerakkan hati hambanya yang mau terus berusaha.
Jam terus berputar, tak terasa kini malam sudah menyapa. Cacing-cacing berdemo meminta haknya, Dira pun bangun dengan kebisingannya. Matanya sangat sembab, terasa berat ketika membuka mata. Namun, sudah waktunya ia makan malam yang terlewat satu jam.
"Kamu baru turun Dira? Tadi mama gak bangunin kamu karena kata bi Nuri, kamu habis nangis. Kenapa sayang? Cerita sama mama,” Nisa Murdianti menarik tangan Dira dan memeluknya. Dira tadi turun dengan wajah yang sangat kusut, sehingga ibunya pun meyakini ada sesuatu dengan anaknya.
Tak ada jawaban dari Dira, ia hanya menggeleng lemah. Tangannya bekerja lambat mengambil piring dan nasi, ia hanya menambahkan sup daging dan kerupuk udang.
“Ma, papa mana?” tanya Dira mengalihkan pembicaraan.
“Papa lagi meeting ketiga sekarang, hari ini papa full meeting. Mungkin selesainya nanti jam 10.30.” Jawab Nisa.
"Kenapa emang?” lanjutnya.
Lagi-lagi Dira hanya menggeleng, ia mempercepat makannya dan akan segera kembali ke kamarnya. Hari ini menjadi hari yang sangat berat bagi Dira, ia tidak mengganti bajunya sejak pulang kuliah tadi. Memang begitu ya, jika cinta sudah dijadikan prioritas? Menghambat ke semua aktifitas, tak ada lagi semangat jika cinta itu hancur. Itu yang dirasakan oleh Dira, mungkin beda dengan orang lain.
Sejak tadi Nisa memperhatikan anaknya yang murung, setelah makan pun Dira tak menyimpan piring kotor ke wastafel seperti biasanya. Dira hanya menyimpan piring dan gelas kotor itu di atas meja, lalu ia pergi ke kamar tanpa pamit.
“Ya Allah, apa aku kuat menjalani hari-hari tanpa Bara? Selama ini aku selalu bersamanya. Bangun tidur teleponan, mau tidur teleponan, bahkan lagi makan sama mama papa pun aku masih bisa teleponan. Sekarang hidupku terasa hampa, padahal baru beberapa jam aku lakuin ini. Tapi aku gak mau dosa, aku mau merubah kesalahan yang selama ini aku perbuat. Kuatkanlah....” Dira tersungkur lemah di meja belajarnya.
Drrt, drrt...
Handphone Dira berdering, ada panggilan dari seseorang. Dira tak menyadari itu, ia masih dalam lamunannya di meja belajar. Hingga beberapa menit ia tersadar, diraihnya handphone berwarna hitam kesayangannya.
“Bara?” tatapan Dira tertuju pada layar handphone yang ia genggam.
Sudah lima belas kali Bara menelepon, tapi Dira tidak menyadari itu. Ia bingung sekarang, ingin rasanya mengangkat sambungan telepon dari Bara. Tapi ia tak boleh goyah, Dira harus kuat di mata Bara meski memang kenyataannya ia sangat rapuh.
Dengan cepat Dira merijek panggilan Bara, ia menjauhkan handphone-nya dan pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Di kamar mandi pun Dira masih terus melamun, ia masih membayangkan momen-momen bersama dengan Bara.
Dengan cepat Dira merijek panggilan Bara, ia menjauhkan handphone-nya dan pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Di kamar mandi pun Dira masih terus melamun, ia masih membayangkan momen-momen bersama dengan Bara.
Di sisi lain,
“Ayolah Dira angkat teleponnya, aku mau ngomong penting.” Bara panik, ia memainkan jarinya di atas meja makan.