Mike, ayah Bara hanya tersenyum melihat kepanikan sang anak. Sedangkan Winda, ibu kandung Bara sejak tadi mengelus punggung anaknya.
“Kamu pasti bisa Bara, kamu akan sukses di Jepang bersama bisnis papa yang kamu pimpin.” ucap Winda.
“Bukan gitu Bu, baru aja Bara diputusin sama Dira. Masa sekarang ayah tiba-tiba nyuruh Bara untuk tinggal di Jepang, ngurusin bisnisnya. Hubungan Bara makin berantakan nanti Bu, lebih baik Bara ngurusin perusahaan ayah yang di sini aja.” Bara mencoba bernegosiasi dengan kedua orang tuanya.
Perintah Mike untuk Bara tentu menjadi masalah baru baginya, ia merasa seakan keadaan sedang mendukung Dira. Dengan itu, Bara akan berusaha untuk membujuk Dira agar melanjutkan hubungan mereka jika Bara benar-benar diharuskan pergi ke Jepang oleh ayahnya.
“Perusahaan di sini sudah ayah handle semua, kamu urus saja yang di Jepang. Kamu gak akan rugi. Jika pun nanti perusahaan itu berhasil dikembangkan, ayah akan berikan perusahaan itu kepadamu tanpa syarat.” Mike membuka mulutnya, ia pun harus membujuk anaknya agar menerima perintahnya.
“Itumah bukan tanpa syarat yah, jelas-jelas ayah memberikan syarat yang tersurat. Ayah bilang, kalau Bara sukses ngembangin perusahaan ayah yang di Jepang, ayah bakal ngasih perusahaan itu ke tangan Bara. Terus kalau niatnya mau ngasih, kenapa gak ngasih aja langsung? Jangan ada kata 'kalau kamu berhasil mengembangkan perusahaan, bakal dapet perusahaan'. Ayah nih, mencoba bermain kata.” tatapan aneh Bara tertuju pada ayah kandungnya.
Mike tertawa, ia memang selalu kalah jika dihadapkan dengan anak bujangnya yang cerdas itu.
***
Mata Dira sangat sembab ketika melihat cermin, ia sendiri pun merasa ngeri melihat kondisi matanya. Pada akhirnya, ia memilih untuk memakai kacamata. Kacamata yang sedikit berwarna gelap, ia biasa gunakan untuk jalan-jalan di pantai. Dira pun turun dan duduk di kursi makan.
“Pah, Dira nebeng mobil papah ya.” ucap Dira sambil makan roti selai anggur kesukaannya.
“Lah, bukannya biasa berangkat sama Bara?” Tedi keheranan.
“Sudah pah, gak papa kali Dira ikut. Kaya dulu lagi waktu masa kanak-kanak,” sahut Nisa, ibu kandung Dira.
Akhirnya Tedi pun mengizinkan Dira menaiki mobilnya. Bukan berarti ayahnya itu tidak mau, tapi ia merasa ada yang aneh saja dengan Dira yang tak biasanya menebeng mobilnya. Mereka pun berangkat dalam satu mobil. Tedi pergi bekerja, Nisa pergi ke salon miliknya, dan Dira kuliah seperti biasa.
“Kenapa dengan Bara?” tanya Tedi memecahkan keheningan.
“Enggak ada apa-apa pah,” Jawab Dira polos.
Nisa pun memberi isyarat kepada Tedi agar tidak terlalu mengurusi hubungan anaknya, ia merasa khawatir Dira menangis lagi karena sesuatu. Tedi pun langsung paham, ia akan menanyakannya nanti.
“Terima kasih mah, pah, kalian hati-hati. Dira masuk dulu,” Dira menyalami kedua orang tuanya dan pergi tanpa pelukan pagi.
“Kenapa putri kita? Aneh banget, pake kacamata gelap pula,” tanya Tedi ketika Dira sudah jauh dari pandangannya.
Nisa pun menyuruh suaminya untuk menjalankan mobilnya, melanjutkan perjalanan mereka. Ia juga akan menceritakan semua kejadian kemarin kepada Tedi, kejadian di mana mata Dira sembab karena tangisan.
Semua orang melihat aneh ke arah Dira, tapi Dira berjalan seakan tidak terjadi apa-apa. Tampilan Dira sangat berbeda, kali ini ia memakai kacamata seperti sedang liburan di pantai. Dira langsung masuk ke dalam kelas, karena sebentar lagi kelas akan dimulai.
“Kamu ko pake kacamata? Mau liburan?” tanya Dosen ketika kelas akan dimulai.
"Emmmh, mata saya pak, emmh...” Dira tampak berpikir, tak mungkin ia mengatakan kalau dirinya sudah menangis.
“Coba lihat!” Dosen itu menyuruh Dira untuk membuka kacamatanya.
Perlahan Dira membuka kacamatanya, ia pun mencari cara agar teman-temannya tidak tahu soal matanya yang sembab. Buku lah penyelamatnya, ia memakai dua buku untuk menghalangi wajahnya.
Dosen itu sedikit termegun ketika melihat mata Dira yang sangat bengkak, hanya ada celah sedikit untuk Dira bisa melihat sekelilingnya. Dengan cepat dan tergugup, Dosen itu menyuruh Dira untuk menutup kembali kacamatanya. Langkahnya menjauhi Dira membuat hati Dira sangat lega, akhirnya Dosen berusia 40 tahunan itu mengizinkan Dira memakai kacamata holiday. Semua teman-teman Dira memandangi Dira sedikit aneh, tapi Dira acuh dengan itu.
Kelas pun berakhir, Dira keluar bersama tiga sahabatnya. Sejak tadi mereka pun terus bertanya tentang mata Dira. Tapi Dira tidak menjawab apa-apa, ia hanya mengatakan 'i'm fine'. Mereka pun pasrah dengan Dira, sekarang mereka tidak akan membuat Dira merasa tidak nyaman berada di lingkungannya. Mereka pun takut jika Dira menyemprotkan amarahnya jika mereka banyak tanya.
“Eh aku pulang duluan ya,” pamit Dira.
Semua sahabatnya saling pandang, tak biasanya Dira seperti itu. Berjuta pertanyaan pun muncul di dalam diri para sahabatnya, tapi mereka tidak langsung mempertanyakannya karena Dira langsung pergi setelah ucapan pamitnya.
Dira melangkah dengan cepat ke luar kampus, ia menunggu taxi online pesanannya. Tak lama, taxi-nya pun datang.
“Dira, Dira, kita harus bicara Dir.” tarikan tangan seorang pria membuat Dira tak jadi masuk ke dalam taxi, pria itu adalah Bara.
“Bara, plis lepasin.” pinta Dira.
Bara tak langsung melepaskan tangan Dira, ia membayar taxi itu untuk segera pergi. Setelah taxi pergi, Bara langsung melepaskan tangan Dira yang sejak tadi meronta-ronta ingin dilepaskan.
“Dir, plis ikut aku. Kita harus bicara, plis Dir.” Bara memohon sambil menyatukan kedua tangannya, wajah Bara pun terlihat sangat kusut karena semalaman memikirkan Dira.
Dira menggeleng, ia berjalan menghindari Bara. Dira mencari taxi lagi, ia harus segera pergi dari Bara.
“Plis Dira, aku mohon. Kita harus bicara, gak akan lama Dir.” bujuk Bara.
Tak ada sautan dari Dira, ia tetap pada pendiriannya. Tangannya melambai ketika ada taxi datang, Dira membuka pintunya dan Bara langsung menutupnya lagi. Hal itu membuat Dira kesal, kesal akan keadaan hatinya yang sangat merindukan Bara. Ingin sekali rasanya ia memeluk bara meski selama berpacaran pun ia tak pernah berpelukan, air matanya menetes di balik kacamata tanpa sepengetahuan Bara.
“Dir plis jangan siksa hatimu seperti ini, aku tau kamu berat melakukan ini. Plis Dir ikut aku, kita harus bicara hal penting. Gak lama Dira,” Bara ikut menangis, meski ia tidak tau Dira menangis atau tidak.
Kedua kalinya Bara membayar taxi dan menyuruhnya pergi, Bara tak peduli lagi dengan uang yang ia keluarkan.