COPY RIGHT:
Lowongan Cinta
©Evathink
Cerita ini adalah fiktif.
Bila ada kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka. Penulis tidak ada niat untuk menyinggung siapapun.
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun (seperti cetakan, fotokopi, mikrofilm, VCD, CD - Rom, dan rekaman suara) tanpa izin penulis.
Hak Cipta dilindungi undang-undang
All right reserved
-----------------------
-----------------------
Prolog
Flozia POV
“Mami, Flo baru berumur dua puluh tujuh tahun, belum expired!” Napasku turun naik dengan cepat. Aku duduk di sofa ruang tamu dengan muka bertekuk. Sedangkan Mami, duduk di depanku dengan raut wajah kurang senang.
Bayangkan, Mami mau menikahkanku dengan anak temannya yang entah siapa yang sedikitpun tidak kukenal, dan itu semua hanya karena aku sudah berumur dua puluh tujuh tahun dan tidak punya pacar. Bagi Mami, usiaku ini sudah masuk tahap kritis, yang katanya sebentar lagi akan masuk garis start perawan tua.
Oh tidak! Zaman sekarang mana ada lagi istilah perawan tua. Lihat saja, banyak wanita yang berumur tiga puluhan yang terlihat masih muda dan bisa berdandan secantik remaja. Banyak teknologi canggih untuk mempercantik diri, seperti operasi plastik atau menyamarkan sedikit kerut di wajah dengan makeup.
Yang jelas pilihan pertama tadi sudah pasti kutolak mentah-mentah. Aku tidak akan mau operasi plastik hanya untuk makin memancungkan hidung atau mempertegas tulang pipi.
Lagi pula, wajahku tidak ada kerut apa pun karena aku sangat rajin merawatnya. Hidungku yang mungil dan mancung, dengan tulang pipi yang terpahat sempurna di wajah ovalku, tidak memerlukan operasi apa pun. Aku masih sangat muda dan cantik! Istilah perawan tua itu tidak akan melekat pada diriku. Tidak akan pernah!
“Mami sudah bosan mendengar bisik-bisik dari tante-tantemu,” Mami menatapku kesal.
Sedangkan Papi duduk acuh tak acuh di teras rumah bertemankan segelas kopi di petang Minggu yang cerah ini. Papi tidak secerewet Mami, dan Papi juga biasanya tidak suka ikut nimbrung obrolanku dan Mami yang pastinya selalu berujung seperti ini.
“Kamu lihat Nisa, baru berumur dua puluh satu tahun, anaknya sudah dua,” kata Mami antusias.
Oh, Nisa itu sepupuku yang menikah saat baru lulus SMA karena kecelakaan alias hamil duluan.
“Anggun kemarin baru disunting pria kaya dari Jakarta. Mereka sangat sepadan dan bahagia.”
Anggun itu anak tetangga sebelah yang baru berumur dua puluh lima tahun. Ah, wajar saja dia bisa menikah dengan pria kaya, sudah rahasia umum dia materialistis.
“Dan kamu, kapan lagi mau menikah? Telinga Mami panas terus ditanya teman-teman dan saudara kita,” kata Mami kesal. Raut wajahnya yang tadi terlihat berseri saat menceritakan sepupuku dan anak tetangga, sudah menguap berganti kesal.
“Flo, kan, belum punya pacar, Mi,” aku membela diri. Sudah dua tahun ini aku sendiri. Setelah putus dari Julian, aku belum lagi menemukan pria yang sesuai untuk mengisi hati dan hariku.
“Maka dari itu, Mami mau kamu setuju menikah dengan Raven, anak Tante Arra.”
Raven? Sepertinya nama yang tidak asing …. “Tapi, Mi ..., Flo–”
“Mami tidak mau tahu, Mami sudah menerima lamaran Tante Arra kemarin,” tukas Mami cepat sebelum aku sempat menolak dan mengemukakan alasan kalau aku belum siap untuk menikah, apalagi dengan orang yang sama sekali tidak kukenal. Baik dan tampankah dia? Kalau kaya rasanya tidak perlu ditanya, Mami tidak mungkin mau punya menantu miskin.
“Mami ….”
“Mami tidak mau mendengar apa pun lagi, Flo! Dan ingat, kamu jangan berani kabur atau Mami tidak akan mengakui kamu sebagai anak Mami lagi! Seumur hidup!”
Aku merengut. Mami mengancamku. Tega sekali Mami padaku. Bahkan sampai ingin membuangku bila tidak menuruti keinginannya. Dengan perasaan kesal, aku berjalan keluar dan menemui Papi yang sedang duduk di teras.
“Papi, tolong, Flo tidak mau menikah,” aku duduk di sisi Papi dan menyentuh tangan beliau, merayu dengan wajah memelas, berharap Papi tersentuh.
Papi menarik napas panjang. “Ikuti saja pilihan Mami-mu, Sayang. Pasti ini yang terbaik untukmu,” bujuk Papi lembut sambil balik mengelus tanganku.
Mataku membesar, napasku semakin sesak. Pasti Mami sudah mengancam Papi supaya menurut. Aku membuang muka kesal.
Ah, Mami …, selalu dominan. Selalu memaksakan kehendaknya. Lihat saja kakakku Auren, menikah pada usia dua puluh lima tahun, juga dengan pria pilihan Mami, tapi Kak Auren sangat beruntung. Suaminya, Ronald, sangat kaya, tampan dan penyayang.
Sekarang tujuh tahun sudah berlalu, mereka sudah sangat bahagia dengan dua orang anak yang cantik dan tampan.
Dan kali ini aku yang akan menjadi sasaran Mami, karena Mami cuma punya dua orang anak, aku dan Kak Auren. Aku sangat yakin pria pilihan Mami pasti orang kaya seperti Kak Ronald, karena Mami suka sekali sama yang kaya-raya. Padahal kami sendiri juga orang kaya, Papi punya toko yang menjual alat-alat listrik, dan aku punya toko sepatu yang omsetnya sangat lumayan.
Akhirnya aku berdiri. Dengan kekesalan yang menggunung di d**a, aku bangun dan meninggalkan Papi begitu saja.
***
Author POV
“Mami, Papi, please,” pinta Raven kesal. Ia menatap wajah kedua orangtuanya yang terlihat tidak peduli mendengar permintaannya.
“Sayang, kamu sudah berumur tiga puluh empat tahun, kapan lagi mau menikah kalau bukan sekarang?” tanya Arra Pratama lembut.
Raven berjalan mondar-mandir dengan perasaan kesal. Selama ini, sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, ia sangat dimanja, terutama oleh ibunya. Sang ibu selalu menuruti semua permintaannya, tapi hari ini semuanya berbalik, ibunya justru meminta sesuatu darinya. Sesuatu yang sangat sulit untuk ia penuhi.
“Raven janji, Raven akan menikah tahun depan, Mi. Please ....” Raven melangkahkan kaki mendekati ibunya yang sedang duduk si sofa ruang keluarga.
“Tahun lalu kamu juga berjanji pada Mami dan Papi kalau kamu akan berubah dan menikah tahun ini, tapi kamu masih terus berulah,” keluh Arra kesal. “Mami pusing melihatmu bergonta-ganti pasangan hampir setiap minggu.” Bu Arra menarik napas panjang.
“Papi juga, Mi. Di kantor, karyawan sibuk mempergunjing Raven yang selalu didatangi wanita yang berbeda.” Agung Pratama turut mengeluh dengan nada kesal.
Wajah Raven memerah mendengar keluhan kedua orangtuanya tentang sepak terjangnya.
“Raven sama mereka cuma berteman, Mi, Pi,” kilah Raven dengan nada pelan. Cukup sungkan saat orangtuanya mulai membahas kenakalannya. Pastinya orangtuanya sangat tahu sepak terjangnya seperti apa.
Reputasinya sebagai seorang playboy sudah menjadi rahasia umum. Siapa yang tak kenal Raven Pratama? Anak pengusaha terkemuka di kota Batam, Agung Pratama. Wajah tampan, menjabat CEO di perusahaan ayahnya yang bergerak di bidang grosir bahan bangunan sekaligus kontraktor dan developer yang sangat sukses.
Banyak wanita yang mengemis untuk menjadi kekasihnya, membuat ia bebas memilih wanita mana saja yang ia mau dan mencampakkan mereka begitu saja saat bosan. Waktu untuk ia bosan biasanya hanya butuh satu atau dua pekan saja.
Sekarang, sang ibu yang sangat memanjakannya itu ingin menikahkannya dengan anak teman lamanya yang sama sekali tak Raven kenal.
“Raven janji, Mi. Kali ini saja, percaya kalau Raven akan menepati janji Raven,” Raven memelas dan duduk di samping ibunya. Tentu saja janjinya palsu semata. Di usianya yang ke tiga puluh empat tahun ini, ia sama sekali belum ingin menikah. Ia masih sangat bahagia bisa menikmati masa lajang dengan berganti wanita setiap minggu. Wanita-wanita secantik artis yang memiliki bentuk tubuh bak gitar spanyol. Wanita-wanita yang setiap kali mendesah sensual di ranjang empuk kondominiumnya.
“Mami sudah melamar Flozia untukmu, dan Mami ingin kamu menurut,” kata Arra tegas dengan wajah tanpa senyum.
Siapa namanya tadi? Ah, Flozia… namanya saja sudah jelek begitu, pasti wajah dan bentuk tubuhnya juga tak kalah jelek. Mana mungkin ia bisa b*******h dengan wanita seperti itu?
Kenapa juga wanita bernama Flozia itu mau menerima lamaran orangtuanya? Raven yakin, ia dan wanita itu tidak saling kenal. Selama ini, ia tidak pernah punya teman atau kenalan yang bernama Flozia. Jangan-jangan Flozia ini tidak laku, atau mungkin mengincar harta orangtuanya.
“Mami ….”
“Sudah, hentikan rayuanmu. Kamu akan menikah bulan depan. Jika kamu berani kabur atau terus menolak, kamu akan jadi gelandangan, Mami akan mencabut semua fasilitasmu dan memecatmu dari perusahaan papimu,” kata Arra tegas. Sebenarnya ia sudah sangat kesal melihat tingkah anaknya. Setiap kali ada pesta, telinganya harus panas mendengar teman-teman atau ipar-iparnya membicarakan sepak terjang anaknya yang sangat terkenal itu.
Raven menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya. Tidak menyangka ibunya tega mengancamnya seperti ini.
“Mami ..., please ….”
“Cuma itu pilihanmu sekarang, Raven!”
“Papi ....”
“Mamimu benar. Kamu harus menikah!”
***
Love,
Evathink
(IG/Youtube/Play buku/k*********a: evathink)
*jangan lupa Follow juga akun Dreame & Innovel saya, ya teman2, agar kalian mendapat notif dari saya.
btw, please sentuh love dan komennya, teman2. Love dan komen dari kalian, sangat berarti untuk saya. Terima kasih.