* * Alana masih terpaku di tempatnya. Hatinya bergetar, dengan rasa sesak merayap jiwa. Pikirannya seakan kosong, mulutnya terkunci rapat. Fakta yang mengatakan jika bocah di depannya adalah anak dari suaminya, membuatnya tak tahu harus bagaimana. "Lan," Raffi mencoba mendekati istrinya yang terlihat pucat, dan ia tahu jika Alana sedang salah paham dengan dirinya. "Jangan mendekat!" suara Alana bergetar mengatakannya. Matanya sudah buram karena air mata, sungguh ini sangat mengejutkan dirinya. "Kamu salah paham, Lan." Ujar Raffi tenang dengan langkah yang semakin mendekati Alana yang tampak rapuh di matanya. "Pi?" Suara kecil itu membuat tangis Alana semakin menjadi, ia sudah tak sanggup berfikir jika ia terhianati oleh suaminya sendiri. Bagaimana bisa Raffi sejahat itu padanya. Se

