Twelve

1342 Words

"Jadi, kapan cucu Papa akan segera hadir?" suara wibawa dari arah penjuru meja makan, memecah keheningan makan malam itu. Tubuh Raffi sedikit menegang dengan wajah dingin menatap sang Papa yang tampak biasa saja setelah mengatakan hal yang sensitive itu. Sedangkan Alana, sedikit kesusahan menelan makanan yang sejak tadi ia nikmati. "Kamu tidak berniat menundanya, Alana ?" tanya Papa Raffi lagi, yang sekarang sudah menatap sang menantu yang diam saja. Alana membalas tatapan Papa mertuanya dengan senyum terpaksa, dan itu tak luput dari perhatian suaminya yang sudah mengeram di tempatnya. "Kami tidak menundanya, Pa. Jadi doakan yang terbaik untuk kami berdua." Jawab Alana tenang dengan hati yang tak menentu. Cucu? Papa Raffi menginginkan anak darinya, padahal Alana sendiri tak pernah ber

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD