Raffi berjalan memasuki villanya dengan rasa lelah luar biasa, apalagi ditambah masalah dengan istrinya yang terjadi tadi pagi. Langkahnya terhenti, dan wajah tampan itu tampak mengernyit bingung ketika indra pendengaran dan penglihatannya tak menemukan dimana istrinya itu berada.
''Dimana, dia?'' katanya pada dirinya sendiri. Langkah panjangnya segera menusuri villa itu, dimulai dari kamar mereka berdua, dapur, hingga halaman belakang. Tetapi yang dicarinya ternyata lenyap dari pandangan. Pikiran Raffi mulai tak enak, membayangkan Alana kabur ketika ia melakukan meeting dadakan tadi, membuat emosinya kembali mendera.
Raffi segera membuka aplikasi ponselnya, dan melihat dimana wanita itu lewat GPSnya yang menghubungkan dengan GPS milik Alana. Raffi menyadap ponsel milik Alana, ketika istrinya itu terlelap dalam tidurnya tadi malam. Jangan katakana Raffi psikopat atau apapun itu. Ia hanya melakukan tugasnya sebagai seorang suami, yang ingin selalu tahu dimana istrinya berada.
Satu menit teknologi itu mencari, dan mata Raffi melebar mendapati dimana sekarang istrinya itu berada. ''Alana flight ke Jakarta?'' ujar Raffi pelan ketika layar datar itu menampilkan keberadaan istrinya. Raut muka yang tadinya, lelah kembali dingin tak tersentuh, menampakkan pria itu sudah benar-benar marah sekarang.
''Pergi tanpa memberi tahuku, Alana? Kau memang terlalu keras kepala.'' Geram Raffi tertahan. Tangannya segera mengetik nomor yang sudah ia hafal luar kepala, dan meletakkan di telinganya.
''Ya, Bang?''
''Cari, Alana. Dan bawa dia ke apartement gue. Tiga jam lagi gue sampai Jakarta!'' ucap Raffi dengan suara dingin penuh emosi. Membuat Raffa yang berada disebrang sana bergidik ngeri mendengarnya. Abangnya, sedang marah pasti. Dan itu akan membuat Alana tak akan selamat karena sudah membangunkan si singa itu.
''Baiklah.'' Jawab Raffa walau terpaksa.
Menolakpun dia tak bisa. Akan melawan Abangnya itu? Mana berani dia. Yang harus Raffa lakukan sekarang yaitu, mencari keberadaan Kakak iparnya itu, sebelum Abangnya sampai di Jakarta.
Di tempat lain, Alana sedang menikmati semangkok bakso kesukaannya dengan wajah penuh rasa puas. Sedangkan wanita berkacamata yang duduk di sampingnya menggeleng tak percaya melihat itu.
''Gila, emang suami lo gak ngasih makan berapa hari?'' tanya Natya sambil menggeleng tak percaya melihat kelakuan artisnya tersebut. Cantik sih, tapi jika cara makannya seperti ini, hilang sudah kecantikannya.
''Udah ah diem, ntar gue keselek kalau makan sambil ngomong.'' Jawab Alana tanpa melihat Natya yang sudah menggeleng lelah menghadapi kelakuan sahabatnya itu. Alana menyelesaikan makanannya setelah lima belas menit kemudian, dan ditutup dengan meneguk segelas air putih yang memang disiapkan oleh Natya.
''Baiklah, sekarang lo harus cerita kenapa lo bisa kabur dari suami tampan lo itu.'' Tanya Natya langsung, dan itu sama sekali tak mempengaruhi Alana yang masih saja menikmati buah yang juga tersedia di meja makan.
''Tidak ada jawaban untuk soal itu. Sekarang lo harus jelasin apa yang dilakukan suami gila gue itu.''
Alana enggan menjawab pertanyaan Natya tentang Raffi yang sudah membuat hidupnya tak beraturan seperti sekarang. Jadi kabur dari Raffi adalah pilihan terbaik sekarang, toh dia tidak akan tahu dimana Alana sekarang berada.
Natya menghela nafas panjang mendengarnya. ''Baiklah, lo harus tahu tentang ini. Gue gak tahu Raffi Soeteja akan sekaya itu hingga membeli 50% saham agensi tempat kita bernaung. Dan gilanya, ternyata dia memang pria sukses dengan kekayaan pribadi yang luar biasa.
Yang gue baca tadi malam, Raffi memiliki beberapa hotel berbintang dan villa yang tersebar di Bali, Lombok dan maluku. Tapi yang perlu lo ingat, Raffi termasuk pria yang tidak suka dengan sesuatu yang mengusik ketenangan apalagi keluarganya.''
''Masa sih, dia sekaya itu. Gue gak percaya sama lo.'' Sanggah Alana tak percaya jika dia menikahi pria tampan dengan segudang hartanya.
''Yey malah gak percaya, memang sih hotel itu milik bokapnya. Tapi, kalau villa dan resort adalah miliknya pribadi. Apalagi dia pewaris utama dari kerajaan bisnis Soeteja. Dan gue pastikan hari tua lo hanya ongkang-ongkang kaki, tunjuk sana-sini, berasa jadi ratu karena harta suami lo bakal cukup tanpa lo jadi Artis.'' Jelas Natya membuat Alana memutar matanya malas.
''Lo, kira gue mata duwitan!''
''Eh jangan salah dulu, cewek kalau gak mata duwitan bukan cewek namanya. Emang ada cewek nikah kalau sama orang gak punya uang? Gak ada sist, realitanya semua cewek diciptakan untuk membuang uang suaminya.'' Jelas Natya menggebu.
''Jadi, lo nuduh gue mata duwitan!'' tuduh Alana tak terima. Dan sialannya, wanita di sampingnya itu mengangguk mantap.
''Iyalah, gak mungkin juga lo mau dinikahin sama cowok kere disaat lo temasuk wanita sosialita.'' Natya sialan! Dikira dirinya begitu sukanya dengan uang, hingga melakukan segala cara demi uang. Lagian dunianya biasa aja, dirinya bukan sebagian sosialita yang menghabiskan uang untuk tas dengan merek terkenal.
''Udah ah, gue kesini bukan malah membahas mata duwitan apa gak. Tapi gue kesini butuh bantuan, lo.''
''Bantuan apa?''
''Bantu gue nyari agensi lain, Nat.'' Kata Alana serius.
''Lo jangan gila Lan, jika suami lo tahu kita berdua bakal tamat.'' Jawab Natya dengan tangan seakan menggorok lehernya sendiri. Membuat Alana memutar matanya malas.
''Lagian ya Lan, lo baru nikah aja Agensi udah dia beli. Apalagi tahu lo cari agensi lain, bisa dikrangkeng lo gak boleh keluar rumah.'' Jelas Natya membuat Alana mendengus sinis mendengar perkataan Natya barusan yang memang sedikit benar adanya. Tapi harga dirinya tak bisa diinjak seperti ini.
''Terus gue harus ngapain dong, Nat?''
''Lo, harus bikin kesepakatan sama suami lo itu.''
''Dan gue udah melakukan itu Nat, tapi dia menolak sebelum gue benar-benar menjadi istrinya yang sebenarnya.'' Jelas Alana mengingat komprominya dengan suaminya tadi pagi, berakhir tak disetujui oleh suaminya.
''Ya bagus dong, lo bisa melakukan keinginan dia. Lalu dia memberikan kebebasan sama lo.'' Kata Natya santai.
''Tapi menjadi istri yang sesungguhnya itu gak semudah yang lo bilang, Nat. Gue gak cinta sama dia, masa iya gue harus nyerahin hidup gue sama dia.'' Sanggah Alana keras kepala, membuat Natya memukul gemas lengan Artisnya itu.
''Lo yang bakal dosa kalau gak nyerahin hidup sama suami lo. Agama kita aja bilang kalau istri menolak bisa dikutuk malaikat. Emang lo mau dikutuk terus masuk neraka!''
"Lo kog jadi bela si Raffi sih, Nat. Sahabat lo kan gue!" protes Alana membuat Natya kembali memutar matanya malas.
"Sahabat, sih sahabat. Tapi kalau bikin dosa bukan sahabat itu namanya. Lagian ya, Lan. Kurangnya suami lo apa coba? Ganteng iya, kaya apalagi. Harusnya, lo itu bersyukur mendapatkan jodoh kayag dia."
Alana diam, mau membantah pun ia tak bisa. Karena apa yang dikatakan Natya tadi benar adanya. Dan Natya yang melihat sahabatnya sedang dilemma itu tersenyum menenangkan.
"Sekarang gini aja deh, lo ajuin kompromi lagi sama laki, lo. Minta waktu untuk lo bisa mengambil keputusan karir lo kedepannya. Dan sebagai imbalan lo harus menjadi istri yang baik untuk dia, dalam artian sesungguhnya." Kata Natya lembut. Karena Alana hanya perlu diberikan pencerahan dengan cara lembut, bukan dengan paksaan yang nantinya akan membuat Alana semakin keras kepala.
"Tapi kalau dia gak setuju lagi, gimana?"
"Ya lo harus merayu dialah, Lan. Gunain semua bakat merayu dan kecantikan yang lo punya. Gue yakin kog, laki lo gak bakal nolak."
Ck, Natya saja yang tidak tahu bagaimana suaminya itu sebenarnya. Pria dingin nan egois itu mana bisa dirayu, yang ada dirinya ditatap wanita suka merayu Om-Om. Dumel Alana dalam hati.
Ting Tong
Ting Tong
Suara bell pintu dari depan membuat dua sahabat itu menghentikan acara curhatnya. Wajah Alana tampak bertanya yang dijawab gelengan kepala oleh Natya.
"Sebentar, gue bukain pintunya." Lalu Natya meninggalkan Alana sendirian dengan setumpuk pemikiran tentang suaminya itu.
Natya kembali setelah sepuluh menit kemudian dengan wajah cemas. "Lan, sepertinya lo dalam masalah besar."
"Maksud, lo apaan?" tanya Alana seraya berdiri dan menghampiri asistennya itu dengan tanda tanya besar di kepalanya.
"Lo, liat sendiri deh di depan." Kata Natya sambil melirik kearah ruang tamu. Alana mengangguk mengerti, lalu ia melangkah menuju ruang tamu, dan seketika langkahnya terhenti. Wajahnya sedikit terkejut melihat siapa yang ada di depannya itu.
"Hai, Kakak ipar." Kata pria itu dengan senyum yang dipaksakan di wajahnya. Ya, dia Raffa adik dari suaminya.
"Apakah aku mengganggu acara kalian, Kakak ipar?" katanya lagi, dengan mata yang melihat kedatangan Natya di belakang Alana.
"Bagaimana kau bisa tahu jika aku disini?" tanya Alana tanpa menjawab pertanyaan Raffa tadi. Wajah pria itu tersenyum datar mendengar penuturan istri kakaknya itu.
"Menurutmu, siapa lagi? Dan sepertinya, kita harus bergegas sebelum suami kakak menjadi manusia harimau karena menunggu kita terlalu lama." Jelas Raffa, membuat hati Alana sedikit menciut takut. Jadi Raffi sudah mengetahui jika dirinya di Jakarta, bagaimana bisa?
"Jadi, Raffi sudah tahu aku disini?" tanya Alana, yang diangguki mantap oleh Raffa.
"Iya, dan dia sedang dalam perjalanan kemari Kak. Jadi sebaiknya kita pergi sekarang." Mata Alana melebar tak percaya mendengar penuturan Raffa.
"Tapi, bagaimana bisa dia tahu jika aku ada disini?" ujar Alana bingung. Tidak mungkin kan, jika ia tadi diikuti atau dimata-matai oleh seseorang suruhan Raffi. Jika itu benar, maka Alana berjanji akan mengamuk pada suaminya itu.
"Itulah Bang Raffi, Kak. Jadi bisa kita berangkat sekarang juga?" kata Raffa lagi, ketika Alana tak kunjung menjawab ajakannya.
"Nat," Alana bertanya pada Natya yang juga diam tanpa tahu apa yang harus dilakukannya.
"Kak kita harus pergi sekarang juga." Raffa berkata lagi setelah melihat jam tangannya yang menunjukkan jika Abangnya itu pasti sudah sampai di apartemennya.
Alana menghela nafas pasrah. "Baiklah, Nat gue pergi dulu. Lo, baik-baik ya." Natya mengangguk dengan tatapan khawatir yang kentara pada Alana.
"Lo yang hati-hati. Telfon gue kalau ada apa-apa." Kata Natya kemudian, sebelum Alana berbalik mengambil tasnya, lalu berjalan dengan Raffa meninggalkan apartement milik Natya.
Alana diam, dan adik ipar alias Raffa juga diam dengan masih fokus dengan jalanan di depannya. Alana melirik Raffa sekilas, dan percaya jika keturunan Soeteja memang terlahir dengan wajah tampan dengan sifat pendiam, terutama suaminya itu.
"Apakah di wajahku ada sesuatu, Kak?" tanya Raffa sedikit terganggu dengan lirikan kakak iparnya itu. Sikap dinginnya entah hilang kemana ketika berhadapan dengan istri Abangnya itu.
"Ternyata kau berbeda sekali dengan Abangmu, itu." Kata Alana tanpa menjawab pertanyaan Raffa sebelumnya. Wajahnya sedikit bersahabat daripada ketika ia mendapati Raffa menjemputnya tadi.
"Bang Raffi?"
"Yups, manusia egois dengan sikap sedingin esnya itu." Jujur Alana membuat Raffa tersenyum tanpa suara. Wajah tampan dan lebih muda itu, melirik Kakak iparnya.
"Yah dia terlalu dingin untuk wanita seperti kamu, Kak. Tetapi, jika kakak bisa menaklukan hatinya yang dingin itu. Aku yakin, bang Raffi akan memberikan dunia dan hidupnya padamu, Kak. Jadi bersabarlah untuk itu." Jelas Raffa membuat Alana terdiam tak percaya dengan perkataan adik iparnya itu. Mana mungkin pria yang dipanggil abang itu bisa melakukan itu padanya.
"Sepertinya akan sulit sekali menaklukan abangmu itu."
Raffa menggeleng menyanggah pikiran Alana tentang abangnya itu. "Kakak hanya cukup bersabar untuk memaklumi sikap dinginya. Dan jika perlu, Kakak bisa merubahnya menjadi lebih baik yang mungkin akan sulit terlaksana."
Alana tampak berfikir hingga melihat Raffa di sampingnya membuat senyum cantik itu terbit dari bibirnya. "Dan untuk merubah sikapnya itu, apakah kamu bisa membantu ku, Raff?" Raffa melirik Alana tanda tak mengerti maksud kakak iparnya itu.
"Maksudku, membuatnya menjadi lebih baik. Dan aku memerlukan bantuan darimu." Ujar Alana menggebu, entah mengapa ia mulai melihat jalan keluar dari permasalahan pernikahan ini.
Wajah Raffa tampak mengernyit menandakan jika ia sedang berfikir hingga senyum tampan itu kembali terukir di wajahnya. "Bantuan? Dariku?"
Alana mengangguk, "Iya, kau bisa membantuku untuk menaklukan si pria egois itu." Kata Alana mantap membuat Raffa menggeleng tak percaya melihat kelakuan istri abangnya itu.
"Aku tak bisa membantu, Kak. Tetapi yang pasti, kakak harus menerima pernikahan ini dengan ikhlas. Dan tentunya menjadi istri yang baik untuk bang Raffi itu tidak terlalu sulit dilakukan." Kata Raffa lugas, membuat Alana kembali mendengus sebal dibuatnya.
Menerima pria itu? Dan menjadi istri yang baik? Apakah itu solusi terbaik dari sekian banyak solusi yang masih belum muncul di otak cantiknya, batin Alana.
"Apakah selain menjadi istri yang baik, tidak ada solusi lain. Mungkin seperti tidak membuatnya marah atau membiarkan Raffi bebas tanpa kekangan dariku. apakah itu tak bisa?" Raffa menggeleng mendengar perkataan Alana.
"Bang Raffi bukan orang seperti itu, Kak. Jadi, sebelum suami kakak itu melakukan sesuatu seperti membeli agensi atau melarang kakak menjadi artis, lebih baik kakak menuruti saja keinginannya."
"Tapi dia sudah melakukannya." Lirih Alana dengan nafas panjang penuh dengan beban.
"Maksud, Kakak?"
"Membeli saham agensiku, dan membatalkan kontrak kerjaku secara sepihak." Jawab Alana dengan wajah tertunduk lesu. Bingung apa yang harus ia lakukan sekarang untuk melawan suaminya itu. Ternyata adik iparnya itu tidak bisa diandalkan dalam melawan Raffi.
"Sepertinya, kakak memang harus menjadi istri yang baik untuk bang Raffi. Sebelum kakak dilarang muncul di depan layar untuk waktu jangka panjang." Kata Raffa seolah Alana harus menyerah melawan suaminya itu.
***
Langkah Alana semakin memelan tatkala langkah Raffa yang berjarak dua meter di depannya berhenti di sebuah lorong apartemen tertinggi di gedung ini.
"Ayo, Kak." Kata Raffa setelah memasukan kode apartement hingga pintu itu terbuka.
Hati Alana semakin gugup tak karuan, apakah dia takut? Entahlah. Tapi kepergiannya dengan tak memberi kabar kepada suaminya, pasti sudah membuat pria itu murka padanya. Dan jujur, jika Alana belum siap dimarahi dan ditatap begitu lagi oleh Raffi.
"Kamu tidak ikut masuk?" tanya Alana pada Raffa yang akan beranjak pergi. Raffa tersenyum lalu menggeleng, dan artinya Alana harus mengahadapi Raffi seorang diri sekarang
"Tenanglah Kak, Bang Raffi tidak akan menyakiti mu." Kata Raffa sebelum pergi meninggalkan Alana begitu saja.
Alana menghirup nafas panjang, sebelum melangkahkan kakinya sepelan mungkin untuk memasuki apartement yang sedikit gelap itu. Alana merasa jika suaminya itu belum sampai, terlihat jika apartement dalam keadan gelap dan sunyi. Namun ketenangannya berhenti, tatkala lampu yang berada disisi sofa menyala begitu saja.
"Sudah acara kaburnya, Alana?" suara tajam dan sedingin es itu membuat langkah Alana berhenti begitu saja. Degup jantungnya semakin tak terkendali melihat Raffi yang duduk tenang di sofa gelap seakan memang menunggu dirinya.
"Ada yang ingin kau jelaskan, Alana?" katanya lagi, membuat Alana meneguk ludahnya susah payah untuk menghilang rasa kering di tenggorakannya.
Alana diam ditempat, jantungnya berdetak cepat seolah ingin menerkamnya saat itu juga. Tetapi sebelum pria di depannya berkata kembali, Alana menyelahnya terlebih dahulu.
"Aku menyetujui kompromi kita." Kata Alana memberanikan diri. Walupun jantungnya sudah ingin berhenti saja mendapat tatapan tajam itu. Alana kembali menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan sebelum melanjutkan.
"Tetapi dengan satu syarat. Jika sebulan aku bisa melakukan tugasku dengan baik sebagai seorang istri, aku mau kamu mengijinkan aku untuk melanjutkan pekerjaanku." Kata Alana mantap tanpa keraguan. Dan semoga pria di depannya itu bisa menyetujuinya.
Alis Raffi terangkat sebelah dengan dua tangan saling bertautan. Wajahnya dingin dengan tatapan yang semakin menusuk penuh intimidasi pada Alana. Membuat Alana membatin kenapa pria didepannya itu sungguh menakutkan sekali malam ini.
"Hanya sebulan?" tanya Raffi dengan seringai menakutkan hingga membuat Alana merinding tak karuan. Tapi dirinya harus tenang, jika ingin komprominya disetujui oleh Raffi
"Tidak, tapi sumur hidup. Jika aku bisa melakukan kegiatan artisku, tanpa mengganggu tugasku sebagai istrimu. Itu kompromi terakhir dariku."
"Jika kamu tidak bisa melakukan salah satunya?" tantang Raffi kemudian, membuat Alana meneguk ludahnya kasar.
"Aku, aku akan menjadi istrimu seumur hidup, dan meninggalkan duniaku sebagai model dan artis, itu janjiku."