Tubuh Rani bergetar saat dirinya berada di depan pintu apartemen Alfian, Air matanya sedari tadi belum mengering, pikiran nya terus melayang mengingat Deeva. Ia tak tahan mendengar rintihan kesakitan Deeva. hatinya bagai teriris saat melihat malaikat kecilnya meronta, menangis sejadi-jadinya menahan rasa sakit itu. Yang dia pikirkan sekarang adalah dia harus melakukan apapun untuk kesembuhan putrinya, termasuk menjual tubuhnya kepada Alfian, walaupun pria itu masih berstatus sebagai suaminya. Dengan tangan yang bergetar, dia menekan bel pintu apartemen Alfian, kepalanya menunduk, Manahan air mata yang terus ingin terjatuh. Tak seberapa lama, Rani mendengar suara pintu terbuka. Perlahan, dengan memberanikan diri, dia mengangkat wajah. Napasnya terkesiap saat melihat Alfian berada di depa

