(Istri mudaku dihamili putraku )
"Kalung itu kamu dapat dari mana Sa?" Tanyaku.
"Ohh ini aku dikasih papa "ucapnya sambil melirikku.
***
Ketika malam saat aku tengah menyimak berita ditelevisi Rivan menghampiriku membawa secangkir Jus jeruk.
"Mah ini..."ucap Rivan menyodorkan minuman .
"Untuk mama Van"tuturku karena tidak biasa ia bersikap baik padaku.
"Iya tapi bukan aku yang buat Harsa yang buat Jusnya "ucapnya dingin.
"Ohh makasih.."ucapku sambil meminum Jus jeruk itu namun aneh setelah meminumnya aku malah merasa mengantuk.
Karena tak kuat menahan kantuk aku langsung berjalan menaiki tangga menuju kamarku.
Aku pun berbaring sambil mengelus perutku yang masih rata.
Namun ketika baru saja memejamkan mata aku langsung mendengar suara seseorang membuka pintu belum sempat aku memastikan siapa yang masuk lampu kamar sudah dimatikan.
"Mas kamu udah pulang?" Tanyaku aku pikir itu mas Hendra.
Namun ia hanya diam dan naik ketempat tidur dan memelukku.
"Mas apaan sih?" Ucapku merasa geli tak biasanya mas Hendra bersikap seperti ini.
ia memelukku begitu erat lalu menciumku aku tak begitu menghiraukannya karena rasa kantuk ku .
sedetik kemudian ia mencium leherku dan sampai disitu aku pun tak menyadari apa - apa lagi.
Ketika pagi aku terbangun pukul 07:15 aku merasa badanku sakit semua seperti habis melakukan kewajibanku.
Ketika menyingkap selimut banyak sekali cairan Sperm* yang mengotori kasur namun anehnya bajuku lengkap tidak lepas satupun.
"Kamu sudah bangun?" Tanya mas Hendra.
"Iya mas"jawabku kaget .
"Mas baru pulang?" Tanyaku ragu.
"Iya sayang, mas lembur lupa bilang sama kamu maaf ya"ucapnya lembut sembari melangkah menuju kamar mandi.
Aku segera menutupi noda itu menggunakan selimut hati kecilku bertanya - tanya lantas siapa yang tidur bersamaku semalam.
"Mas kalo lapar minta bibi aja ya yang masak soalnya aku lagi gak enak badan" ucapku tersenyum simpul.
Aku sengaja berbohong Sebenarnya aku ingin membersihkan tempat tidur dan juga mandi besar.
"Iya sayang " ucapnya lembut sambil masuk kedalam kamar mandi.
***
"Harsa ini Sweter siapa?" Tanyaku saat hendak menyuci baju.
"Itu Sweter punya bang Rivan "jawabnya singkat.
Melihat Sweter itu pikiranku bergulir pada kejadian 1 Minggu sebelum hari pernikahanku dengan mas Hendra.
***
Malam itu aku berjalan sendiri karena teman - temanku sudah pulang duluan.
"Permisi mas boleh nanya ?"ucapku pada seorang pria yang mengenakan Sweater hitam yang berdiri dipinggir jalan.
Ia tak menjawab hanya mengangguk saja kalungnya memantulkan cahaya lampu .
"Ada gak ya angkutan umum jam segini?" Tanyaku lagi.
Wajahnya tak begitu terlihat karena ia mengenakan masker dan kebetulan jalanan itu minim pencahayaan.
"Mas kok diam aja , mohon maaf apa mas bisu?" Tanyaku hati - hati.
Dia menggeleng cepat sembari menunjuk kearah mobilnya.
"Mas mau ngantar saya?" Tanyaku.
Anehnya ia langsung menarik tanganku lalu menyuruhku masuk kedalam mobil.
"Mas mohon maaf ini bukan jalan menuju rumah saya tolong turunkan saya disini"ucapku kala itu namun ia tak mendengarkan nya.
Aku hanya bisa menangis ketakutan Sampai mobil itu berhenti di depan sebuah kontrakan.
"Kamu ngapain bawa saya kesini?" Tolak ku saat ia menarik paksa tanganku.
Namun ia tak mendengarkan setelah Sampai didalam kontarak itu ia segera mematikan lampu dan mendorong tubuhku ketempat tidur lalu memperkos*ku.
***
"Mah kok malah bengong?" Tanya Harsa mengagetkan ku.
"Gak kok, oh ya kamu tumben mandi pagi banget?" Tanyaku sambil mengamati rambutnya.
"Aku mau jalan sama teman pagi ini"jawabnya.
"Alda ini tolong cuci baju mas kayanya udah kotor "ucap mas Hendra sambil membawa bajunya.
"Papa jangan berlebihan dong ngasih pekerjaan ke mama , mama kan lagi hamil"ucap Harsa.
"Hamil..."ucap Mas Hendra sambil melirikku.
"Kok kamu gak ngasih tau aku si Yang?" Tanya mas Hendra kecewa.
"Iya belum sempat soalnya kamu sibuk"ucapku .
"Maafkan mas ya sayang"ucap mas Hendra memeluk ku entah kenapa Harsa langsung memalingkan wajahnya.
***
"Mah aku pergi dulu ya "ucap Harsa menghampiriku yang tengah menyuci piring.
"Iya hati - hati"ucapku singkat.
"Nih Apel buat Dede"ucapnya sambil memberikan Apel yang telah dikupas lalu berjalan pergi.
Dede apa maksudnya untuk adeknya?
Bersambung-