Suara bentakan keras menggema di ruang tamu rumah keluarga Dorian. Suara kaca jatuh dan pecah di lantai membuat suasana semakin panas. Septimus berdiri tegak dengan rahang menegang, sementara Bella, yang matanya sembab karena tangis, berdiri beberapa langkah di depannya. “Kau harus menikahiku, Septimus. Aku tidak akan menunggu lebih lama lagi!” teriak Bella dengan suara bergetar. “Kau tahu aku hamil, dan anak ini butuh ayah. Kau tidak bisa berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa!” Wajah Septimus memucat, tapi amarah di matanya semakin tajam. “Cukup! Aku sudah muak dengan semua omong kosongmu, Bella!” katanya keras. “Bagaimana aku tahu anak itu memang anakku? Bisa saja kau mengada-ada, karena aku tahu betapa mudahnya kau bermain di belakangku!” Bella membeku di tempat. Napasnya terhent

