Damian menunduk, mencium leher Aurelia sambil mendesah berat. Tubuhnya membakar, matanya gelap. “Akhirnya benda itu kumusnahkan, Sayang.” Ia menciumi setiap sudut kulit Aurelia seperti pria kelaparan. Tubuh Aurelia melengkung sempurna di bawah desakan pria itu, kulitnya panas dan basah oleh sentuhan. Tangan Damian menjelajah rakus, seakan ingin menghafal semua yang tersembunyi di balik tatapan lembut Aurelia selama ini. Aurelia menahan napas. Sentuhan itu bukan sekadar menggoda, tapi juga menyayat lembut sisi emosionalnya yang rapuh. Tubuhnya menggeliat, menerima, memeluk erat. Tapi saat puncak kenikmatan mulai terasa, pikirannya justru kembali ke malam lain. Malam yang seharusnya menjadi malam pertama yang sakral. Namun yang ada hanya diam. Lampu padam. Ranjang mewah dan tubuh pengant

