Ruang rapat Hartman Corporation mendadak gempar. Riuh rendah suara para pemegang saham bercampur dengan tatapan terbelalak. Nama Aurelia dan Damian menggema di antara dinding kaca yang berkilau, seolah seluruh ruangan menahan degup jantung. “Omong kosong apa ini!” suara lantang Septimus memecah keheningan. Wajahnya memerah, urat di pelipisnya menegang. Ia menatap Damian dengan sorot penuh amarah, lalu melirik ke arah Aurelia seakan menuntut penjelasan. Ricko melangkah maju selangkah, suaranya jernih dan mantap. “Beberapa hari lalu, atas dasar persetujuan langsung dari Nona Aurelia Selene Hartman, sebuah kesepakatan resmi ditandatangani. Dengan itu, Tuan Damian Corvin Constantine secara sah menjadi pemegang saham terbesar kedua di perusahaan Hartman. Memang saham Hartman tak sebanding den

