Bella menegang. Mata bulatnya memantul kilatan kebingungan dan kemarahan dalam satu waktu. “Hancurkan Aurelia? Apa maksudmu, Septimus?” suaranya meninggi. “Dia sudah menghancurkan hidupmu, bukankah itu cukup? Sekarang malah kau ingin membalas? Kau sadar dia bukan perempuan sembarangan. Dia sudah sadar, dia kuat, dan yang paling penting, dia punya Damian. Kau tahu siapa Damian, bukan? Kau tidak akan sanggup melawan pria itu.” Septimus tidak langsung menjawab. Ia justru menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan angkuh, bibirnya tersenyum kecil, namun pandangannya menusuk. “Aku tahu siapa Damian,” ucapnya pelan. “Dan karena itulah, aku tidak akan melawannya secara langsung.” Bella mengerutkan dahi. “Lalu apa maksudmu?” “Tenang saja,” kata Septimus, meraih segelas air di meja, lalu menegukn

