Bab 3. Pernikahan Kontrak dengan Pria Buta

1322 Words
Eleanor — POV Gila. Aku benar-benar gila dan gegabah. Pasti itu yang kalian pikirkan sekarang. Tapi demi bisa bertahan hidup di negeri orang, aku harus rela menurunkan harga diriku sendiri. Mengikuti kencan buta sebenarnya bukan ide yang buruk. Meski jujur saja, itu bukan ideku, melainkan ide Alea. Awalnya aku ragu, tapi setelah kupikir matang-matang, cuma itu satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkan izin tinggal permanen di negara Meredia. Sudah seminggu aku menetap di sini. Lain waktu, aku akan ceritakan bagaimana kisah perjalananku dari Asteria ke Meredia. Penuh drama dan nyaris seperti DRACIN. Pokoknya, percayalah, perjalananku ke sini tidak semudah yang kalian bayangkan. Sekarang, aku sedang mengemudi menuju kantor catatan sipil bersama calon suamiku. Ya, calon suamiku. Aku tidak berhenti menerka-nerka seperti apa wajahnya tanpa kacamata hitam itu. Tapi aku terlalu takut untuk memintanya melepasnya, khawatir dia tersinggung dan malah membatalkan rencana pernikahan kami. “Anda tinggal di daerah mana, Tuan?” tanyaku hati-hati sambil fokus menatap jalanan yang mulai padat di depan. Tiba-tiba, dering ponselnya membuatku sedikit kaget. “Saya angkat teleponnya dulu,” katanya singkat. Aku hanya mengangguk kecil. Refleks, padahal dia tak bisa melihatku. Saat mobil berhenti di lampu merah, mataku tanpa sadar menoleh ke arahnya. Dari samping, wajahnya terlihat sangat tampan dan berwibawa, dengan rahang tegas dan hidung mancung. Aku yakin, kalau saja dia melepaskan kacamatanya, ketampanannya pasti berlipat ganda. “Apa? Salah orang?” Aku tersentak mendengar nada suaranya yang tiba-tiba meninggi. Rasa penasaranku langsung muncul. Siapa yang meneleponnya? Aku bahkan sempat mencondongkan tubuh sedikit, mencoba mendengarkan isi percakapan itu. Tapi, tak kudengar apa pun selain suaranya sendiri. “Maaf, tadi ... suara saya agak keras. Teman saya menelepon, katanya dia salah orang,” ujarnya dengan nada sedikit kikuk. Aku hanya mengangguk kecil. Begitu lampu berubah hijau, aku kembali melajukan mobil. Rasa penasaranku sirna begitu saja. Kupikir ada hal penting, ternyata sepele. “Tadi ... Anda bertanya tentang tempat tinggal saya, bukan?” ucapnya tiba-tiba, memecah keheningan yang mulai terasa canggung di antara kami. “Betul, Tuan,” jawabku singkat. “Saya tinggal di Crownridge Estate,” ucapnya tenang. Refleks, aku mengerem mendadak begitu mendengar jawabannya. Dia terlihat terkejut, dan kacamata hitamnya hampir terlepas. Padahal tinggal sedikit lagi, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Sayang sekali. “Ma-maaf. Refleks,” aku tergelak kecil, mencoba menutupi rasa kikuk. “Anda benar-benar tinggal di Crownridge Estate? Bukankah itu kawasan paling elit di Meredia? Saya sempat mempelajari wilayah ini, jadi ... saya tahu beberapa daerah.” Dia membenarkan posisi kacamatanya dan wajahnya tampak tegang, lalu dia berdeham pelan seolah berusaha menutupi sesuatu. Tingkahnya seperti ingin segera keluar dari situasi itu. Tapi tentu saja, aku tak akan membiarkannya lolos semudah itu. “Maksud saya ... saya tinggal di pinggiran daerah Crownridge Estate,” katanya cepat. “Mustahil sekali kalau saya benar-benar tinggal di sana.” Dia terkekeh kecil setelah mengucapkannya, menertawakan kesalahpahamanku. Tawanya terdengar ringan dan jujur, membuatnya terlihat jauh lebih menawan. Aku pun ikut tersenyum tanpa sadar. Ketika mataku menoleh ke arah jendela, aku baru sadar kalau kami sudah sampai di depan kantor catatan sipil. Aku segera melajukan mobil perlahan dan masuk ke area parkir. “Kita sudah sampai,” ucapku pelan, seolah menjadi mata baginya. *** Setelah resmi menerima buku nikah, aku dan ... suamiku. Cielah, aku sekarang perempuan bersuami! Kedengarannya aneh, ya? Ah, sudahlah, biar aku ceritakan dari awal. Tadi, saat sesi pengambilan foto pernikahan, fotografer memanggil nama pria di sampingku, Enzo Theodore Blythe. Ya, itu nama yang tertera di buku nikah kami. Keren banget, 'kan namanya? Tapi percayalah, orangnya jauh lebih keren dari yang kubayangkan. Wajahnya ... sempurna. Rahang tegas, kulitnya bersih, dan matanya ... Ya Tuhan ... begitu indah. Aku bahkan sempat salah tingkah ketika dia menoleh ke arahku. Untung saja dia tidak bisa melihat wajahku yang berubah jadi merah padam. Malu-malu monyet banget. Duh, memalukan! Begitu keluar dari kantor catatan sipil, aku berinisiatif membantunya berjalan. Kalau hanya mengandalkan tongkatnya, jalannya terlalu pelan. Jadi aku mendekatinya dan berbisik pelan. “Biarkan saya membantu Anda, Tuan,” kataku sambil memegang ujung tongkatnya dengan hati-hati. Tanpa banyak pikir, dia mengangguk setuju. Pasti kalian kira aku langsung menggandeng tangannya, 'kan? Enak aja! Malu kali! Nanti aku dikira cewek genit yang cari perhatian. Beberapa pasang mata sempat melirik kami. Tapi aku tak peduli. Yang penting sekarang, aku sudah sah menikah dan bisa hidup tenang di Meredia dengan status baru ini. “Tunggu. Saya ingin menelepon seseorang,” ucapnya tiba-tiba, menghentikan langkahnya. Aku menoleh, lalu perlahan melepaskan pegangan di tongkatnya. “Baiklah. Panggil saja saya kalau sudah selesai,” kataku sambil berjalan menuju mobil, meninggalkannya beberapa langkah di belakang. Perjalanan pulang kali ini entah menuju ke mana. Ke rumahnya atau ke apartemenku. Aku sendiri bingung. Dari tadi dia hanya diam sejak kami masuk ke mobil, seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Aku berdehem pelan, mencoba memecah keheningan. “Sekarang ... kita mau ke mana?” tanyaku hati-hati. Dia menoleh ke arahku. “Kita ke rumah saya saja. Anda tidak keberatan, 'kan, kalau tinggal di sana?” “Tidak,” jawabku cepat, mungkin terlalu cepat. “Saya memang belum punya tempat tinggal tetap di sini. Sekarang saja masih menumpang di apartemen sahabat saya,” ucapku sambil tersenyum kikuk. “Baguslah,” katanya tenang. “Anda bisa tinggal di rumah saya. Rumahnya memang kecil dan sederhana, tapi sepertinya cukup untuk kita berdua. Ada dua kamar dan satu kamar mandi. Tenang saja ... saya tidak akan mencampuri urusan pribadi Anda, dan Anda pun tak perlu mencampuri urusan saya. Sama seperti yang tertulis dalam kontrak kita.” Aku menghela napas lega. Syukurlah rumahnya punya dua kamar. Setidaknya kami tidak harus sekamar. Keputusanku menikah dengannya terasa semakin tepat. Aku akan memperlakukannya dengan baik, sebagai partner serumah ... bukan sebagai suami istri. Begitu sampai di depan sebuah rumah kecil yang sederhana, bahkan catnya sudah mulai memudar. Aku baru sadar kalau kami benar-benar berada di pinggiran daerah Crownridge Estate. Padahal aku sempat penasaran dengan kawasan elit itu. Sayang sekali, bukan tempat yang bisa dimasuki sembarang orang. Bahkan kurir pun hanya diizinkan sampai pos penjaga. Penjagaannya ketat sekali, seolah dunia di dalam sana adalah milik orang-orang pilihan. “Kita sudah sampai rumah,” ucapku sambil melepaskan sabuk pengaman. Dia terlihat sedikit canggung. Tak ingin berpikiran aneh-aneh, aku buru-buru turun dan membukakan pintu untuknya. Tapi ternyata, dia bisa keluar sendiri tanpa bantuanku. Mungkin sudah terbiasa. Kasihan juga, ya. Dia baik, tampan, tapi hidupnya tidak semewah bayangan orang tentang pria seperti dia. Nyatanya, tak semua yang tampan dan baik hidupnya seperti di drama. Begitu masuk ke dalam rumah, aku justru dibuat kagum. Suasananya hangat dan nyaman. Cozy, kata orang. Tak seperti yang kubayangkan sama sekali. Di dalamnya banyak perabotan bagus, tertata rapi, dan ... terlihat mahal! Aku menelusuri ruang tengah sambil menyentuh satu per satu perabotan itu dengan takjub. “Wah, perabotannya kelihatan mahal banget. Ini ... Anda sendiri yang beli?” tanyaku tak percaya. Bukan bermaksud meremehkan, tapi agak mustahil pria sesederhana dia punya isi rumah semewah ini. Dia tampak tegang dan langsung menjatuhkan diri di sofa. Aku ikut duduk di sampingnya, masih terkagum. “Sofanya juga empuk,” gumamku polos, seperti anak kecil baru pertama kali duduk di sofa mahal. “Ini ... semua milik pemilik rumah sebelumnya. Sekarang dia tinggal di luar negeri,” jawabnya agak gugup. Aku mengangguk pelan. Yah, orang kaya mah bebas. Meninggalkan hartanya begitu saja tanpa memikirkan berapa banyak uang yang sudah keluar. Tapi, kalau pemilik sebelumnya orang kaya, kenapa rumahnya tergolong sederhana begini? Meski penasaran, aku memilih tidak mempermasalahkannya. “Nenek sudah tahu kalau saya menikah,” katanya tiba-tiba. “Nanti malam dia akan datang makan malam ke sini. Apa Anda siap bertemu dengannya?” Aku spontan menelan ludah. Bertemu keluarganya seharusnya memang dilakukan sebelum menikah, bukan sesudah. Tapi apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. Bagaimana kalau neneknya galak? Bagaimana kalau beliau tidak setuju dengan pernikahan kami? Bisa-bisa izin tinggalku terancam. Tidak, aku tidak boleh berpikir negatif. Aku harus menampilkan sikap terbaikku malam ini. Bagaimanapun juga, aku harus terlihat meyakinkan sebagai istri yang baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD