Undangan Pernikahan

1021 Words
Hari ini seperti biasa Sarah pulang terlambat karena harus lembur. Entah apa yang dipikirkan Abraham, atasannya itu menyuruh Sarah untuk mengulang proposal PT. Milkas dari awal di saat mendekati waktu pulang. Sarah sama sekali tidak dapat mengerti semua pujian yang teman-teman sekantornya berikan kepada Abraham, betapa tampannya dia, betapa berwibawanya dia, semua itu hanya kamuflase, Abraham sesungguhnya adalah sebuah mesin, robot mungkin.  Sarah masuk ke dalam halaman rumahnya yang gelap, walau kecil tetapi dia menyukai rumah kontrakannya itu. Di bawah kotak suratnya, banyak surat yang jatuh berantakan. Sudah berapa kali dia protes tapi tetap saja surat-suratnya selalu begini, dia menunduk dan mengambil surat-surat itu dengan mengomel lalu segera masuk ke dalam rumah. Sarah meletakkan surat-surat yang baru diambil dari kotak surat depan rumahnya, di meja kopi di hadapannya, lalu segera merebahkan dirinya di sofa. Bersantai seperti saat ini sangat menyenangkan setelah melalui seharian dalam tuntutan pekerjaan. Dia memijat pelan pelipisnya, dia harus istirahat, sepertinya dia bisa gila kalau harus mengikuti semua tugas yang diberikan bosnya. Setelah hampir ketiduran, dia tersentak bangun karena bunyi telepon genggamnya. Dengan mendengus kesal dia bangkit dan meraih telepon genggamnya dari meja. "Halo?" jawabnya dengan enggan. "Serius lo dah tidur?" tanya suara dibalik telepon. Rina, temannya itu terdengar masih segar dan ceria, Sarah menghela napasnya. "Aish, dah jam 10 malam nih, masih seger aja lo?" balas Sarah sambil melirik jam tangannya, kagum akan kekuatan fisik temannya. "Jam 10 itu jam dimulai kewarasan gue, sebelumnya gue seperti robot beres-beres rumah, setelah anak-anak tidur gue baru bebas," ujarnya lalu tertawa pilu. "Kenapa gue begini?" jeritnya mulai meracau. Sarah sudah biasa menerima telepon tidak jelas seperti ini dari Rina, dia selalu mengeluh tentang hidupnya yang seperti mayat hidup, sebagai ibu dari dua anak yang masih kecil, hidupnya seperti berjalan di tempat yang sama.  "Mending gue seperti lo Sar, bebas mau ngapain, gue bisa gila kalau begini terus." Dan seperti biasa, keluh kesah Rina dimulai, suaminya yang pulang malam, tidak pernah peduli, anak-anaknya terlalu lucu untuk dimarahi, sehingga dia yang sengsara sendirian di rumah.  Sarah membayangkan kedua anak Rina, yang sulung Kayla berumur 6 tahun, umur dimana dia merasa sudah seperti berumur 17 tahun, terakhir dia bertemu anak itu, Kayla sedang senang-senangnya belajar make-up. Wajahnya waktu itu habis dirombak total oleh anak itu. Dan anak keduanya Ruben, anak lelaki berumur 4 tahun yang tidak pernah lelah, Sarah hanya dengan melihatnya saja sudah merasa capai.  "Tau nggak, tadi Ruben tumpahin kecap satu botol di sofa!" jeritnya marah, Sarah tertawa membayangkan wajah temannya, dan wajah Ruben yang ketakutan dimarahi sehingga membuat iba semua orang yang melihatnya. "Kok bisa?" tanya Sarah mencoba untuk berempati. "Ceritanya, gue males masak, jadi pesan bakso, nah si Ruben ga mau pakai kuah maunya pakai kecap, dia nggak sabar saat gue suruh tunggu sebentar, gue lagi nuang kuah buat kakaknya, dia ambil sendiri, dan jatuhlah itu kecap, kebuka tutupnya, habis deh sofa gue!" keluh sahabatnya dengan merana. Sarah tertawa lagi membayangkan kericuhan di rumah Rina tadi. "Kalau aja gue nggak nikah ya…?" ucapnya kembali berandai-andai.  "Gue pasti masih kerja, bisa jalan-jalan semau gue, duduk ngupi-ngupi cantik, belanja baju semau gue, seperti lo gitu." lanjutnya dengan suara menjauh. Sebenarnya yang Rina katakan itu hanya khayalan belaka, walau tidak ada yang melarangnya, tapi Sarah tidak punya waktu sebebas itu, seperti hari ini, terima kasih kepada bos Abraham yang berwibawa itu, dia sampai rumah jam 10 malam, bagaimana dia bisa ngupi-ngupi cantik di jam 10 malam? Dia menghela napas panjang. "Kalau lo nggak nikah, nggak ada Kayla dan Ruben, lo yakin nggak mau ada mereka? tanya Sarah menutup matanya, kembali membayangkan kedua anak Rina sambil memainkan rambutnya. "Aish, lo malem-malem bikin gue mikir! Dah ah, gue jadi lupa tadi mau nanyain lo tuh dah dapatkan undangannya si Sita belum?" Sarah melirik ke tumpukan surat yang dia ambil tadi, lalu menyortir suratnya.  "Ada, ini yang warna ungu? Astaga Sita, undangan kawinan kok warna ungu begini?" tanya Sarah sambil meletakkan surat yang lain di meja kembali. "Dia kan suka Hello Kitty, jadi lo liat aja deh nanti kawinannya seperti apa!" Tawa Rina terdengar renyah.  "Hello Kitty kan warna merah muda?" Sarah mengerutkan keningnya dengan bingung. "Katanya ungu biar ga pasaran Hello Kitty-nya!" Rina mendengus lalu tertawa lagi. "Ntar dia kirim tuh bahan buat kebaya kembaran, ungu pastinya," ujar Rina akhirnya pulih dari tawanya.  "Halah pakai ada kebaya lagi? Berarti gue harus datang dong?" Padahal tadi Sarah sudah berencana untuk mangkir, di umurnya yang ke-27 Sarah sudah enggan datang ke acara pernikahan karena tahu pertanyaan yang akan diterimanya nanti.  "Ya dateng dong say, masa Sita nikah lo nggak dateng?" Sarah menghela napas panjang mengingat sahabatnya itu, sepertinya dia memang harus datang ke pernikahan Sita. "Di kebayanya harus ada Hello Kitty-nya nggak? tanya Sarah sambil tertawa lagi, tapi temannya tidak ikut tertawa, sepertinya perhatiannya teralihkan. "Eh bentar Sar, Toni baru aja pulang, gue urus bayi gede dulu yah? Dah!" ujarnya langsung mematikan teleponnya. Sarah mendengus kesal mendengar teleponnya langsung dimatikan, tadi Rina mengeluh menyesal menikah, tetapi begitu suaminya pulang, dia langsung lupa dengan semua keluhannya itu. Sarah tahu, Rina begitu memuja suaminya. "Aaah, sebuah pernikahan lagi!" guman Sarah menggeliat di sofanya. Karena telepon Rina, rasa kantuknya menghilang, lebih baik dia membersihkan dirinya. Dia berjalan santai menuju kamar mandinya. Mendengar keluh kesah Rina hampir setiap hari membuat Sarah merasa yakin keputusannya untuk tetap melajang. Dia merasa bersyukur untuk dapat tinggal di rumah sendiri seperti ini tanpa ada yang harus diurus selain dirinya sendiri. Setelah puas membasuh tubuhnya dengan air panas, ia berpakaian dengan daster tipis, Sarah benar-benar menikmati waktunya, tanpa terburu-buru. Rina sering mengeluh tidak punya waktu mandi, bahkan temannya itu sering mandi terburu-buru bersama anak-anak demi menghemat waktu. Sarah lalu duduk di tempat tidurnya dan mengambil remote control dan mulai mencari drama korea yang belum selesai dia tonton kemarin. Waktunya kembali berjalan cepat, tanpa terasa sudah masuk jam 2 pagi, dia segera mematikan TV-nya dan segera berbaring untuk mencari tidur. Nyamannya, pikirnya dalam hati, dia merasa nyaman, tapi mengapa tiba-tiba dia merasa sepi ya? Sarah mencoba untuk mengabaikan perasaannya dengan berkata di dalam hatinya, mungkin itu efek menonton drama Korea yang super romantis, walau dari lubuk hati paling dalam dia tahu kalau itu bohong.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD