s**u Hamil

1246 Words
  Sierra melipat kedua lengannya sambil memasang muka cemberutnya “jadi, sebelumnya kau sudah pernah menikah?” tanyanya. “Ya, sudah,” jawab Richard dengan santai. Sierra sontak menoleh dan menatap Richard “jadi yang kudapat adalah seorang duda, pantas saja kau sudah tua,” ketusnya dengan nada kecewa. Richard menaikkan sebelah alisnya “memangnya sebelum menikah denganku kau tidak tahu?” “Tentu saja tidak, kukira aku hanya menikahi bujang lapuk rupanya kau bekas perempuan lain,” ketus Sierra lagi. Richard mendengus “biarpun bekas orang lain nyatanya kau mau tidur denganku,” celetuknya. Sierra kalah, ia kehabisan kata-kata “sudahlah, aku lelah, aku mau tidur saja,” katanya sambil mengangkat dagu lalu berangsur ke kamarnya. Sierra membaringkan tubuhnya ke ranjang. Matanya memandangi langit-langit kamarnya lalu menghela napas panjang-panjang. Sepertinya mulai sekarang ia tidak akan bisa bebas lagi seperti dulu. Pria tua itu sudah mulai mengatur hidupnya. Mata Sierra terasa berat dan ia mengantuk. Ia pun menguap dan benar-benar tertidur siang itu. *** Saat bangun hari sudah sore. Rasanya nyaman sekali setelah tidur siang tubuhnya jadi terasa lebih ringan. Sierra baru sadar ternyata seperti ini manfaat tidur siang. Selama ini ia tidak tahu. Mungkin karena sebelumnya ia tidak pernah tidur siang atau karena ia sedang hamil. Sierra pun beranjak menuju kamar mandi bersiap untuk berendam dan membalurkan lulur yang baru ia beli tadi, maksudnya dibelikan Richard, si pria tua itu. Ia melangkah sambil bersenandung memasuki kamar mandi. Tetapi kemudian ia menghentikan senandungnya dan berteriak. “Astaga, aaaaaaaa!!!” Sierra cepat-cepat memejamkan mata. Ia baru saja melihat Richard dengan tubuh polosnya yang tersiram air. Sementara Richard malah mengerutkan dahi, merasa heran. “Kenapa kau berteriak?” tanya Richard. “Bagaimana aku tidak berteriak, pakai bajumu atau setidaknya tutup itu dengan handuk,” omel Sierra. Richard menaikkan sebelah alisnya “untuk apa, aku sedang mandi.” “Kenapa harus mandi di sini, kamar mandimu kan tidak hanya satu,” protes Sierra. Richard terkekeh “kamar ini kamarku juga termasuk juga kamar mandinya, lagi pula kenapa kau masih menutup matamu, bukankah kau sudah pernah melihatnya,” sanggahnya. “Memangnya waktu itu aku sengaja ingin melihatnya, kau yang sedang memanfaatkanku, kau lupa?” protes Sierra lagi. “Tetap saja untuk apa kau menutup matamu, aku suamimu sekarang,” kata Richard yang akhirnya menyadarkan Sierra “sudahlah, buka matamu, berjalanlah dengan baik, lantai kamar mandi ini pasti licin, hati-hati kau bisa terpeleset.” “Tidak mau, tutup dulu itu dengan handuk lalu pergilah!” bentak Sierra. Richard menggeleng tak habis pikir “ya, ya,” jawabnya kesal sambil memakai handuk “aku sudah selesai mandi, kau bisa buka matamu sekarang,” lanjutnya. Sierra membuka matanya perlahan dan hati-hati. Ia melihat Richard sudah memakai handuk dana berangsur meninggalkan kamar mandi. Ia pun dengan lega membuka matanya lebar-lebar. Syukurlah pria itu sudah benar-benar pergi jadi sekarang ia bisa mandi dengan tenang. *** Malam pun tiba. Sierra tengah duduk santai sambil nonton film kesukaannya di televisi. Tiba-tiba sebuah gelas berisi s**u disodorkan padanya. Sierra pun menelusuri tangan si pemberi yang ternyata adalah Richard. “Apa ini?” tanya Sierra. “Ini s**u,” jawab Richard. Sierra menghela napas “aku tahu ini s**u, maksudku ini untuk apa?” “Ini s**u hamil, kau harus minum ini untuk menjaga kandunganmu,” jelas Richard. “Tidak mau,” tolak Sierra. “Kenapa?” Richard mengerutkan dahi. “Kau tanya kenapa, tentu saja aku tidak mau, s**u itu mengandung banyak lemak, aku tidak mau jadi gendut karena minuman menjijikan itu, itu bisa menggagalkanku untuk jadi model, kau tahu,” papar Sierra dengan nada tinggi. “Wajar jika seorang wanita menjadi gendut saat sedang hamil, lagi pula perutmu juga akan membesar nantinya,” sanggah Richard. “Pokoknya aku tidak mau,” tolak Sierra lagi. Richard menghela napas kesabarannya “yang ada dalam perutmu itu anak manusia, anakku,” kata Richard. “Lantas?” Sierra menaikkan sebelah alisnya. “Apa kau tega tidak memberinya makan?” “Kau beri dia makan saja sendiri,” ketus Sierra. “Ini, aku sedang memberinya makan, aku memberinya makan melalui kau.” Sierra mendengus kesal karena Richard yang pintar bicara itu. Ia lalu menerima segelas s**u itu dengan berat hati. “Untung saja dia ada di perutku, jadi aku akan minum s**u ini,” dengusnya. “Untung saja dia ada di perutmu, kalau dia di perutku aku tidak perlu menikahimu,” goda Richard. Sierra terperangah “apa katamu, kau sudah memanfaatkanku dank au beraninya bicara seperti itu padaku, dasar tidak tahu diri!” semprotnya. “Sayangnya perut laki-laki tidak bisa mengandung bayi,” lanjut Richard semakin menggoda Sierra. Sierra makin terperangah “kau ini,” dengusnya kesal hampir saja memukul Richard tetapi kemudian perhatiannya teralihkan oleh siaran berita di televisi. Di sana tampak para media mengerumuni kedua orang tuanya yang sedang angkat kaki dari rumah. Mereka melontarkan banyak pertanyaan tentang berita kebangkrutan Markus yang tak satupun dijawab. “Tuan Markus, benarkah Anda mengalami kebangkrutan?” “Nyonya Amerta, kalian mau ke mana?” “Bagaimana dengan anak perusahaan kalian?” “Bukankah perusahaan kalian sangat besar, bagaimana bisa bangkrut?” “Apa rumah kalian juga di sita?” “Tolong jawab kami Tuan dan Nyonya Markus,” “Bagaimana dengan putri kalian?” “Benarkah kalian menjual putri kalian pada seorang konglomerat muda?” “Benarkah berita tentang kehamilan putri Anda, Tuan?” “Tuan, nyonya, jangan pergi dulu, tuan, nyonya,” “Tuan Markus…” “Nyonya Amerta…” “Tuan, nyonya…” Mereka pergi membawa tiga koper besar keluar dari rumah dengan kepala tertunduk malu. Markus dan Amerta pergi begitu saja melalui para media yang menyudutkan keduanya tanpa peduli dengan berbagai pertanyaan yang menampar-nampar mereka. Mata Sierra memanas melihat pemandangan menyedihkan itu. Ia merasakan sakit di dadanya. Media-media itu sangat tidak berperasaan melontarkan banyak pertanyaan yang jelas-jelas itu membuat Markus dan Amerta tersudut. Jemari Sierra mengepal. Dalam hati ia bersumpah akan membalas media-media itu. Lihat saja setelah anak dalam perutnya keluar dari dalam tubuhnya semua akan berubah. Ia akan mengembalikan nama baik Markus dan Amerta. Tiba-tiba Richard mematikan televisi. Sierra pun menoleh dan melemparkan mata tajamnya “apa yang kau lakukan, aku sedang menontonnya,” protesnya. “Jangan buat dirimu stress dengan acara-acara seperti itu, ingat, apa yang kau rasakan anakku juga merasakannya,” tegur Richard. “Acara seperti bagaimana, kau tidak lihat ada orang tuaku di sana?” “Aku tahu itu, tapi kau tidak harus membuat isi kepalamu penuh dengan beban,” kata Richard. Sierra membuang muka “itu bukan urusanmu,” ketusnya kemudian melenggang pergi meninggalkan Richard dan menuju kamarnya. Sierra memeluk guling dan merebahkan diri sambil menumpahkan air matanya yang sedari tadi ia tahan. Tetapi tak berapa lama Richard masuk ke dalam kamar dan duduk di sisi ranjang yang lain. “Apa kau menangis?” tanyanya. Sierra yang menyadari kehadiran Richard langsung menghapus air matanya “tidak,” jawabnya singkat. “Sudah kubilang jangan buat kepalamu itu terisi beban, jangan sampai kau stress karena itu akan berdampak pada bayi dalam kandunganmu,” tegur Richard sambil menarik selimut dan merebahkan diri dengan nyaman. Sierra menoleh “apa kau benar-benar akan tidur di sini?” tanyanya. “Memangnya kenapa, ini kamarku juga,” jawab Richard. Sierra mendengus kesal “awas saja kalau kau berani menyentuhku,” gertaknya. “Kalaupun aku menyentuhmu tidak akan ada yang bisa menuntutku karena kau istriku sekarang,” sanggah Richard “sudahlah, cepat tidur, aku tidak akan berbuat apa-apa, aku sedang tidak menginginkannya,” tambahnya kemudian mengatur posisi dan mulai memejamkan mata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD