16. Tangan Yang Nakal

1445 Words

Kegembiraan sangatlah terpancar dari rona wajah Jesica. Hidupnya sesempurna ini sekarang. Memiliki suami idaman, banyak uang, dicintai dan sudah memiliki keluarga yang sangat mencintainya. Dia merasa bagaikan wanita yang paling berharga. Hal kecil yang ia lakukan dan ia obrolkan bersama suami bisa jadi hiburan yang membuat tawa terukir di wajah mereka berdua. "Eh tapi mon maaf ya. Napa yang punya rumah dan kamar gak di bolehin masuk. Rumah dan seisinya kan punya abang." Biyan melirik sinis. Ini rumahnya, kenapa dia malah yang seakan terusir. "Hmmm …. Yaudah remahan rengginang yang numpang mah mau kabur aja ah …." Jesica yang hendak menyiapkan makanan di atas meja pun tidak jadi. Dia sedang mode sensi. Mengucapkan kata yang sedikit tidak mengenakan hati saja langsung tersinggung. Dia ter

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD